
"Kaila..." sapa Genzo, lalu ia duduk di kursi memperhatikan putrinya yang masih marah karena keputusannya mebiarkan Sachi di bawa pulang Alexa.
"Kaila!" panggil Genzo, saat Kila memoilih pergi dari pada berbicara dengan ayahnya.
"Kaila degarkan ayah dulu!"
Kaila tidak menggubris panggilan ayahnya, ia terus berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Davira yang melihat cucunya seperti itu, bergegas menyusul kaila ke kamarnya.
Davira berdiri di tepi ranjang memperhatikan kaila tidur telungkup dan menangis. Davira duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut Kaila.
"Sayang, kau kecewa terhadap ayahmu?" tanya Davira.
Kaila bangun lalu duduk di hadapan Davira sambil mengusap air mata di pipinya.
"Kenapa ayah tidak mempercayaiku.." ucap kaila tersedu menahan rasa kecewa di dadanya.
"Hmmm..." Davira menghela napas panjang, mendengarkan semua keluh kesah cucunya.
"Jelas aku melihat wanita itu menyeret wanita lain, di saat bersamaan beberapa pria menyeret Sachi, tapi ayah tidak mempercayaiku, hanya kak kai..." Kaila tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa sayang?" tanya Davira melihat kaila melamun.
"Kak, Khai! pekik Kaila lalu setengah meloncat ia turun dari atas tempat tidur dan berlari keluar amar. Di saat bersamaan Davira berjalan tergesa gesa menyusul kaila.
"Kak Khai!!" pekik Kaila menuju ruang keluarga.
Xavier dan Daniel yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arah kaila.
"Ada apa?" tanya Daniel.
Kaila langsung duduk di kursi, di ikuti Davira.
"Kak khai, kalian tahu di mana kakak?" tanya Kaila.
Xavier menggeleng cepat, begitu juga Daniel.
"Bukankah semalam, kakak bersama kak khai?" tanya kaila.
Daniel mengangguk, lalu ia mencertakan sebelum khai menghilang.
"AKu pikir dia pulang dan bertemu teman temannya." Jelas Daniel.
"Aneh."
Kaila dan yang lain menoleh ke arah Altheo yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aneh apanya kak?" tanya Kaila.
"Aku di sini"
Xavier dan yang lain menoleh ke arah sumber suara, nampak Khai berdiri bersama Rha Woon.
"Khai! seru Daniel berdiri melihat Khai dalam kondisi lemas dan berantakan.
"Apa yang terjadi padamu?"
Di saat bersaman Davira menghampiri khai dan membawanya duduk di kursi bersama Rha Woon.
"Sayang, ambilkan minum untuk kakakmu," perintah Davira.
Kaila beranjak pergi meninggalkan ruangan, Davira dan yang lain bertany pada Rha Woon apa yang sudah terjadi dan kenapa bisa bersama Khai.
Tanpa menunggu lama, Rha Woon menceritakan kepada mereka semua.
"Khai terjebak di ruangan sempit, di rumah sakit," ucap Rha Woon di akhir ceritanya.
Altheo dan yang lain menoleh ke arah Khai, masing msing memiliki pemikiran yang berbeda.
"Aku rasa ada hubungannya dengan Sachi," sela Altheo dengan tenang lalu duduk di dekat davira.
"Aku setuju dengn kakak!" timpal Kaila.
"Mereka masuk ke ruangan laboratorium, mereka bukan dokter." Kata Khai.
"Wanita itu iblis, tanya saja temanku," sambung kaila menunjuk Rha Woon.
Semua orang mengalihkan pandangannya pad rha Woon yang menganggukkan kepala. ia menceritakan sedikit yang ia ketahui mengenai Sachi.
"Sachi di perlakukan seperti bukan anak kandung tante ALexa." Kata Rha Woon di akhir ceritanya.
"Kita jangan gegabah, perlu rencana matang, untuk membuktikan semua kejahatannya, kita harus siap masuk perangkapnya." Jelas Altheo.
"Maksud kakak?" tanya Gio.
Altheo tersenyum, dia menyadari kalau keluarganya sedang ada dalam bahaya.
"Aku butuh kerjasama Kaila dan khai." Kata Altheo.
"Kakak tenang saja, apapun akan aku lakukan," sela kaila.
Altheo mengangguk, ia mengusap kepala adiknya dengan sayang lalu berdiri dan meninggalkan mereka semua menuju kamar pribadinya.