THE MAFIA BRIDE 3

THE MAFIA BRIDE 3
BAB 10 - MB 3



ALEXANDER HIGH SCHOOL


Sachi datang terlambat ke sekolah karena semalaman ia tidak tidur memikirkan wanita yang ada di ruang bawah tanah.


Di dalam kelas, ia terlihat melamun. Wajah wanita tua itu terus terbayang apalagi saat memanggilnya 'putriku'. Sachi tidak menyadari kedatangan May, yang sudah berada di hadapannya.


"Gendut!"


Sachi masih tidak menyadarinya dan membuat kesal May, lalu menggebrak meja membuat Sachi terkejut.


"I, iya..." kata Sachi gagap.


May mendorong kepala Sachi ke belakang lalu lalu menarik rambutnya.


"Mana tugas milikmu?" tanya May.


'Tidak, kau jangan mengambilnya." Jawab Sachi.


"Berikan!" teriak May.


May mencoba merebut tas di tangan Sachi, namun gadis itu mempertahankannya. Saachi tidak ingin mendpatkan hukuman dari guru untuk kesekian kalinya.


PLAKKK


May menampar wajah Sachi hingga sudut bibirnya berdarah, May tidak perduli ia terus merebut tas dalam dekapan Sachi.


"Berikan!"


"Tidak lagi, sudah cukup May!" balas Sachi terus mempertahankan tas nya.


"Rupanya kau sudah berani melawanku, lihat saja nanti!" ancam May.


"Berikan..."


May menoleh ke arah Lee dan tersenyum, kedatangan Lee sudah pasti membantunya untuk mendapatkan buku milik Sachi.


"Berikan." kata Lee lagi.


Sachi terdiam menatap wajah Lee, perlahan ia memmbuka tasnyalalu mengambil buku yang di minta oleh Lee. namun sebelum buku itu sampai di tangan May, seseorang menahan tangan Sachi.


"Cukup," kata Rha Woon.


May dan lee menoleh ke arah Rha Woon.


plok


plok


Lee tepuk tangan meng-apresiasikan atas keberanian Rha Woon.


"Kau sudah mulai berani, rupanya kau juga yang melaporka kegiatankiu pada guru. Kau tidak tahu dengan siapa berhadapan?' ucap Lee dengan sombong.


"Aku muak melihat sikapmu, asal kau tahu. Hari ini adalah hari terakhir aku berada di sekolah ini." Jawab Rha Woon.


Lee tersenyum mengejek, tangannya mulai bereaksi menarik kerah baju Rha Woon.


"Jangan mentang mentang kau berkuasa dan putra seorang gengster lantas semua orang bisa kau perlakukan sesuka hati." Tegas Rha Woon.


"Dasar miskin," ucap lee.


"Kau punya uang, dan kekuasaan. Apa aku harus tunduk patuh padamu?" balas Rha Woon.


Lee mengangkat satu tangannya lagi hendk meninju wajah rha Woon namun di halangi oleh Shachi.


"Sudah hentikan, jangan sakiti siapapun lagi. Aku akan memberikan buku ini.' kata Sachi.


"Dasar gendut dari tadi kek!" umpat May.


"Kerjaanmu cari muka, Lee tidak akan pernah menyukaimu."


Sachi memberikan buku itu lagi pada May, sekali lagi Rha Woon menghalangi, dengan cara merebut buku Sachi lalu merobeknya di depan lee dan may. Setelah itu Rha Woon menarik tangan Sachi keluar dari dalam kelas.


"kita mau kemana?" tanyanya.


Namun Rha Woon hanya diam, ia terus menarik tangan Sachi menuju ruang guru di lantai dasar dan melaporlan semua kejahatan yang di lakukan Lee dan May.


Namun mereka tidak tahu, resiko apa yang bakl mereka terima setelah pengaduan. Rha Woon ama sekali tidak takut, namun tidak dengan Sachi, nampak raut wajah khawatir.


"Apa dengan mengadu semua masalah bakal selesai? bagaiman kalau lee melukaimu?" tanya Sachi.


"Aku tidakperduli, yang penting kau May dan lee tidak mengganggumu lagi." Balas Rha Woon.


Sachi terdiam, ia tidak yakin dengan ucapan Rha Woon. Begitu juga dengan Rha Woon, ada sedikit kekhawatirannya terhadap Sachi.