
"Kita kan teman",balas Reina.
"hah?!".
"Iya kita teman", Sambung Reina,tetapi Lili masih terlihat bingung. Reina melangkah mendekati Lili dan memengang kedua bahu gadis itu.
"Lili sebenarnya gue ngajak lho kekantin itu biar gue bisa berteman sama lho. Jadi sekali lagi gue bilang kalau kita ini teman",Reina menjelaskannya berharap Lili mengerti.
"Thanks ya Rei".Ucap Lili dengan senyuman dibalas dengan anggukan.
'Yes,Lili udah punya teman. Sembari menunggu pesanan datang eh,maksudnya teman. Lili cari tempat dulu deh',batinnya.
"Nah, itu ada tempat yang kosong ",guman Lili menuju tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama,Reina beserta pesanannya datang. Dan Lili melambaikan tangannya agar Reina mengahampirinya.
"Makasih ya Bu",ucap Reina kepada ibu kantin yang membantunya membawa pesanan tersebut.
"Iya Neng. Sama sama ",balas ibu itu lalu pergi.
"Thanks ya Rei, udah mesan",ucap Lili sambari mengambil bakso serta minumannya.
"Santai aja kali. Teman kan harus saling membantu ",balas Reina sambil mengunyah makanannya.
Tidak ada suara diantara mereka berdua,yang ada hanya suara seruputan minuman serta dentingan sendok dengan wadah putih.
Setelah selesai makan, mereka berdua pergi menuju kelas yang di siapkan untuk siswa siswi ajaran baru tersebut. Lili dan Reina satu ruangan. Namun, Lili berada di barisan kedua sedangkan Reina barisan pojok belakang.
Kring kring kriiiing.....
Bel berbunyi pertanda ujian telah usai, serta jam pelajaran hari ini selesai.
"Diharapkan untuk mengumpul lembar soal dan lembar jawaban kedepan,karena waktu telah habis",seru ibu Lisa selaku pengawas ruangan Lili.
"Baiklah anak anak,Ujian hari ini telah selesai. Silakan keluar dengan tertib",sahut ibu Lisa setelah selesai menyusun lembar soal dan jawaban.
Setelah ibu Lisa sudah jauh,seluruh siswa siswi dalam kelas keluar berhamburan.
"Lili,gue duluan ya",pamit Reina.
."Kuy pulang",ajak Victor merangkul Lili. Saat hadis itu di ambang pintu.
"Kuylah".
" Perasaan dari tadi lho senyam senyum mulu . Napa? kesambet penunggu sekolah?". Tanya Victor saat mereka berdua berjalan di koridor.
"Kagak ada",balas Lili.
"Kagak ada apanya?! lho senyam senyum kagak jelas gitu, apa otak lho lagi mereng ? Sini biar gue bawa lho ke bengkel. Siapa tau otak lho jadi bagus".
"Liat muka Lili deh Kak".
"Gimana? Kakak liat?",tanya Lili antusias saat Victor memperhatikannya.
"Dari muka lho sih, kayaknya emang lho beneran sakit deh".
"Ish.... Kak Victor kagak tau apa muka Lili lagi senang gitu?!". Balas Lili lalu menggembungkan kedua pipinya.
"Senang kenapa?".
Lili menarik sudut bibirnya dan menarik napas panjang lalu berucap,"Lili sekarang udah punya teman".
"Oh".
"Kok 'oh' sih?". Lili menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Victor.
"Lalu gue harus jawab ' wahh lho udah punya teman' gitu", balas Victor hingga tawa Lili pecah.
"Ya gak usah lebay gitu sih. Udah lebay,alay pula", timpal Lili di sela sela tawanya. Victor hanya diam memperhatikan Lili dengan raut wajah yang cemberut. Lili yang sadar dengan tatapan Victor kemudian diam.
"Tuh muka kenapa?"
"....".
"Ngambek ya? Ulu uluh.... bayi besar bisa ngambek toh",godanya. Saat tidak ada jawaban, Lili kemudian membuka suaranya lagi.
"Udah ah,becandanya. Lili mau pulang", ucapnya mengibaskan tangannya di angkasa lalu pergi meninggalkan Victor.