
"Eh?! kanapa nangis? kata-kata kakak ada yang buat kamu sakit? kakak salah bicara? atau kelilipan?" ucap Lili melontarkan berbagai pertanyaan kepada orang tersebut.
"Jangan nangis dong,kakak minta maaf deh sama kata-kata kakak tadi. Jangan masukin ke hati,tapi masukin ke tempat sampah aja,biar didaur ulang jadi baik. Please... jangan nangis dong,beneran Kakak gak maksud buat kamu nangis" lanjut Lili merasa bersalah yang membuat orang tersebut tertawa renyah melihat tingkah Lili.
"Eh?!" ucap Lili merasa heran.
"Memang benar kata dia,kakak itu lucu. Pantas aja dia sering bicarain kakak".
"Dia? lucu? aku?" tanya Lili mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya.
"Hu'um" balas orang tersebut dengan anggukan kepala.
"Dimananya? muka?".
"Semua" jawabnya polos.
'Lili baru tahu kalau Lili itu lucu,tapi gak pa-pa deh dibilang gitu. Yang terpenting, sekarang dia bisa tertawa' batin Lili menatap lawan bicaranya jenaka.
"Oh iya,aku lupa kasih tahu. Namaku Dewi Liona,kakak bisa manggil aku Dewi" ucapnya setelah tawanya reda.
"Kakak Putri Dandelion,panggil aja Kak Lili. Salam kenal ya Dewi".
"Kak Lili? kenapa gak Kak Putri aja?".
"Mmm.... itu... karena...".
"Kakak kenapa di sini aja? kenapa gak ke sana?".
"Eh,itu karena... nih sepeda. Dia tadi nerobos aja tanpa izin kakak. Jadinya kakak jatuh deh,terus kaki kakak juga sedikit sakit. Makannya,kakak di sini aja" jawab Lili. Cukup lama mereka berdua saling mengenal lebih,satu sama lain--hingga waktu menunjukkan pukul 06:10 sore.
"Emmm... kak Lili,aku pamit pulang ya kak. Sebenarnya aku masih mau bicara lama lagi sama kakak,tapi ini udah jam 06:10 dan Kakak Dewi juga pasti udah nungguin" ucap Dewi melihat arlojinya.
"Eh,gak pa-pa kok Gyna. Lain kali kita bicara lagi kalo kita ketemu" balas Lili sambil ikut berdiri.
"Aku pamit ya kak" ucap Dewi lalu pergi. Namun,belum genap lima langkah--Dewi kembali berbalik menghampiri Lili.
"Kenapa balik lagi? Dewi mau tetap di sini ya? ini kan udah sore,balik... eh!" ucapan Lili terpotong saat Dewi tiba-tiba memeluknya.
"Gak pa-pa kan kak? kalo aku peluk kakak?" ucap Dewi dan tangan Lili mulai terangkat membalas pelukan gadis itu.
"Gak pa-pa kok,lagipula Dewi kan cewek. Jadi,gak pa-pa kalo meluk kakak. Jika memang Dewi nyaman,apa salahnya" ucap Lili mengelus kepala gadis itu.
"Emmm... Dewi,bukannya kakak gak suka kamu peluk,tapi... ini kan peluknya hampir lima menit" ucap Lili hati-hati. Sontak Dewi langsung melepas pelukannya.
"Oh iya,aku lupa. Kalo gitu,aku duluan ya kak" pamit Dewi dan benar-benar pergi. Tak lama kemudian,Lili beranjak pergi dari tempatnya mendorong sepeda tadi. Kebetulan rasa sakit kakinya telah berkurang.
Tak butuh waktu yang lama,akhirnya Lili sampai di kediaman Alex. Ia meletakkan benda mati itu di dalam garasi--lalu melangkah memasuki rumah nan mewah itu-- melewati Victor yang tengah duduk di sofa dengan tatapan yang fokus ke depan menghadap TV yang memperlihatkan dua- tiga orang yang tengah berdebat.