
"What!! gak ada yang lain ya Kak?lari gitu atau....nyanyi gitu?"tanya Lili memastikan.
"Gak!!",tegas Zidane.
"Gak bisa gitu dong Kak,mana ada yang mau makan petai",balasnya tak terima pernyataan Zidane.
"Ya makannya jangan salah. Baiklah saya akan menunjuk orang tersebut".
'Semonga bukan Lili,semonga bukan Lili Ya Allah ",batin Lili.
"Kamu!". Tunjuk Zidane ke arah Lili, yang mampu membuat Lili meneguk salivahnya.
"Pertanyaannya adalah berapa ruangan yang ada di sekolah ini?",lanjut Zidane.
"Saya tunggu sampai hitungan ke tiga".
"Ya mana bisa Kak,itukan gak adil",sahut Lili tak terima. Namun, Zidane tidak mempedulikan gadis tersebut.
"Dua....".
'Tuh orang punya kuping gak sih. Aaarggg berapa jawabannya?! kalau bengini bisa bisa Lili dihukum ',batin Lili.
"Ti....".
'Uhhh,39,41,42',batin Lili berusaha menghitung.
"42!iya, 42 Kak",jawabnya.
"Tettoot",jawabnya dengan menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X.
"Kok salah sih Kak?!",balasnya tak terima kekalahan.
"Iya,jawaban kamu salah. Yang benar 43 ruangan",balasnya.
"Yaelah,cuma beda satu doang kok di permasalahin",gumannya,tetapi masih bisa di dengar.
"Sesuai peraturan kamu harus memakan petai satu. Ralat, dua biji petai"
"Kok jadi dua sih Kak?!".
"Oh gak mau?",tanyanya pada Lili yang di balas dengan anggukan.
"What!!",pekik Lili.
"Ngebantah lagi?",kini Zidane menaikkan suaranya satu oktaf.
"G-gak Kak. Lili gak ngebantah. Tapi yang dua aja ya Kak? Ya?",tanya Lili dengan muka yang memelas.
"Hmmm",dehem Zidane.
"Cepetan makan!!",paksanya saat melihat Lili ragu untuk memakannya.
"Iya iya,gak usah sewot napa!",ketus Lili. Perlahan tapi pasti Lili mulai memasukkan dua biji petai tersebut ke mulutya. Ia merutuki dirinya sendiri karena salah dalam menjawab pertanyaan tadi.
"Telan!!",paksa Zidane dan mendapatkan tatapan tajam dari Lili.
"Saya hitung sampai dua, kalau gak di telan makan lima petai sekaligus",ancam Zidane tak memedulikan tatapan tajam dari Lili.
"Satu.... du....". Sebelum Zidane selesai menghitung, Lili langsung menelan petai yang di mulutnya.
Kini, wajah Lili mulai memucat dan lidahnya mulai keluh saat menelan petai tadi. Dia tidak bisa konsentrasi mendengar Zidane yang sedang menjelaskan hal lainnya
"Uhhh",keluh Lili.
Mual,itulah yang di rasakannya sekarang. Tanpa meminta persetujuan dari Zidane,Lili berlari menuju toilet. Dia tidak menghiraukan teriakan dari kalak kelasnya itu.
Kini gadis itu sudah berada di toilet dan memuntahkan petai yang di telannya. Kemudian kumur kumur membersihkan mulutnya.
"Dasar kakel gak punya hati! ",guman Lili bermonolog di depan cermin.
"Nih, minum!". Seseorang menyodorkan air mineral kepadanya, tepat saat ia keluar dari toilet. Sontak, ia langsung merampasnya bak kilat lalu meneguknya hingga tandas.
"Bilang apa?",tanya cowok itu.
Lili tersenyum dan menjawab,"Makasih Kak Vic".
'Dasar pamrih!',sungutnya dalam hati.
Sebenarnya tadi Lili tidak langsung ke toilet melainkan ke kelas Victor.
Pasalnya, ia tidak tau di mana lokasi toilet berada begitupun dengan kelas kelas Victor. Namun, ia tetap kekeuh mencari rungan Victor dan untungnya ia bertabrakan dengan Victor di lorong saat berlari tadi. Kemudian Victor mengantarnya ke toilet cewek,lalu pergi untuk membeli minum lalu menyodorkannya kepada gadis itu.