
"Ibu peri?".
"Iya Ibu Peri. Aku heran sama sikap Kakak,waktu itu Kakak galak amat sekarang baik. Makannya Lili nanya",jelasnya yang mengundang tawa Tamara.
"Pertanyaanmu lucu deh. Jangankan ketemu kenal sama ibu peri aja gak",jawab Tamara saat tawanya reda.
"Trus kenapa waktu itu Kak Tamara galak?",guman Lili, tetapi masih bisa di dengar.
"Agar kalian disiplin dan sopan",jawab Tamara yang kemudian diangguki oleh Lili tanda mengerti.
"Kalau gitu Kakak pergi dulu ya",pamit Tamara.
"Eh,iya Kak. Kakak duluan aja soalnya tubuh aku masih nyaman disini. Oh iya makasih ya Kak minumnya"
"Santai aja kali Li",jawab Tamara kemudian beranjak pergi dari tempatnya.
"Li?! barusan Kak Tamara manggil nama Lili kan? . Tapi Kak Tamara tau dari mana Lili? perasaan tadi gak nyebut nama deh. Tau ah,gak penting dari mana Kakak itu tau nama Lili",ucapnya bermonolog.
-------
kring kring kriingg...
Bel kini telah berbunyi yang menandakan pelajaran telah usai.
"Gue duluan ya Li",pamit Reina.
"Iya Rei kamu duluan ajar",jawab Lili sambil membereskan buku yang ada di atas mejanya.
"Bunga?",tanya Lili saat ia mendapati setangkai bunga persih seperti yang ia temui di depan rumahnya semalam.
Ia bingung kenapa bunga tersebut bisa ada di dalam tasnya. Padahal ia tidak pernah meninggalkan kelas terkecuali saat menjalani hukuman dan istirahat pertama tadi. Dan ia juga tidak ingat pernah membuka tasnya kecuali saat pelajaran pertama ia mengeluarkan isi tasnya ke dalam laci meja. Terlebih bunga itu diikat dengan pita biru yang menyatukan gulungan kertas dengan tangkainya. Perlahan tapi pasti ia melepas ikatannya dan membuka gulungan kertas tersebut.
bersinar kembali***
"Maksudnya apa?",guman Lili.
"Woi tuan putri sampai kapan di situ?!",teriak seseorang dari ambang pintu. Sontak Lili langsung memasukkan kertas serta bunga tersebut kedalam tas bersamaan dengan bukunya dan menoleh ke arah sumber suara dan ternyata orang tersebut adalah Victor tengah bersedekap dada menatap kesal orang yang di sebutnya sebagai tuan putri.
"Pangeran Victor sejak kapan datang?",tanya Lili memainkan peran. Lalu melangkah mendekati kakaknya yang tegah kesal itu.
"Pangeran...pangeran... lho pikir ini kerajaan?!",sugut Victor saat Lili berada di hadapannya.
"Kan Kakak tadi yang bilang Lili tuan putri,otomatis Kakak jadi pangerannya. Atau Kakak mau di sebut tuan putri?",balas Lili yang mendapatkan cubitan di kedua pipi mulusnya.
"Ih Kak Victor jangan cubit pipi Lili! nanti pipi Lili jadi tembem,kalau tembem Lili nanti makin imut dan kalau imut Kakak nanti jadi iri karna Lili banyak yang suka",cerocos gadis itu sambil mengelus pipinya yang terasa sakit.
"Pede banget lho",balas Victor yang di balas dengan cengiran khas Lili.
"Iya dong,Lili kan orangnya pede. Gak kayak Kakak rasa pedenya gak ada kayak putri malu",jawab Lili, tetapi Victor hanya diam dan menarik lengan Lili agar pergi dari tempat itu.
Tidak ada lagi suara baik dari Lili maupun Victor. Victor yang sibuk menyetir dan Lili yang larut dalam pikirannya.
"Maksudnya apa?",tanya Victor memecah keheningan.
"Hah?"
"Tadi waktu dikelas lho gue dengar lho bilang 'maksudnya apa?' ",jelas Victor.
"Emang Lili tadi ngomong gitu ya?".