The Hope Behind The Word "ANEMONE"

The Hope Behind The Word "ANEMONE"
Episode 28



"Huh....".


Gadis berhijab coklat itu menghirup dan membuang napas panjang mengigat kejadian dua hari yang lalu. Ia tidak sadar bahwa lelaki yang bersamanya selalu memperhatikan gerak gerik-nya.


"Kenapa lho? dari tadi lesu amat lho" ucap Victor yang heran dengan sikap gadis berkulit kuning langsat itu.


"Reina marah Kak sama Lili,udah dua hari Reina selalu menghindar dari Lili. Padahal waktu itu Lili cuma becanda,tapi Reina malah marah" adu Lili pada Victor.


"Yaudah,cari teman baru kan simpel jadinya" balas Victor.


"Aduh! kenapa sih lho?!" ucap meringis kesakitan saat satu cubitan mendarat mulus di perutnya.


"Lho tahu kan,gue lagi nyetir. Lho mau kita pergi ke akhirat sekarang?!" lanjut Victor.


"Lili kesal sih sama Kakak,orang pada nasehatin dengan kata-kata motivasi. Lah Kakak? malah nyuruh yang gak benar,Reina itu sahabat satu-satunya Lili Kak dan Lili juga nyaman sama Reina walau kami baru 1 bulan sahabatan. Terus dengan semudah itu Kakak bilang 'cari teman baru' gitu?!" ucap Lili mengulang beberapa kata-kata Victor.


"Terus lho mau gue bilang 'baikan aja sama dia atau coba bicara baik-baik sama dia,biar kesalahpahaman kalian itu kelar' gitu?".


"Cek. Lho kira gue kayak orang yang cuma bilang gitu? lho tahu kan gak semua orang bakal introspeksi diri dengan kata-kata itu" decak Victor menghentikan mobil lalu menatap dalam netra milik gadis yang duduk di sampingnya.


"Kalau lho mau sahabat lho gak marah sama lho,maka lho harus berusaha agar persahabat kalian gak retak. Lho memang suka becanda,tapi gak semua orang suka becanda kayak lho. Gak cuma ada satu atau dua kepribadian di dunia ini,tapi banyak banget Li. Gue harap lho ngerti apa yang gue maksud" lanjut Victor lalu kembali menyetir.


Dan Lili,ia terdiam mendengar penuturan sang kakak. Victor memang sering membuat-nya kesal,tapi tak ayal ia mulai memikirkan maksud dari perkataan Victor.


" Met pagi semua" sapa Lion dan langsung merangkul bahu Victor dan Lili.


"Ih apaan sih Kak Lion?! main rangkul-rangkul aja,kita itu bukan mahram" kesal Lili melepaskan tangan Lion.


"Tahu tuh,Lion sok akrab lagi. Kan Li?"sahut Fadhil menghampiri mereka.


"Yeee Kakak pun sama,sok akrab sama Lili" balas Lili.


'Dih,si jahat di sini juga ternyata' batin Lili saat melihat Zidane bersama dengan Fadhil.


"Bisa gak,tuh mata dijaga?!" sindir Zidane.


"Kalian mau ke kelas juga kan? kalo gitu kita sama aja ke kelasnya" ucap Lion.


"Gak ah,Lili sendiri aja ke kelas. Malas jalan sama orang Kakak. Nanti dikira pula Lili genit atau apalah,Lili gak mau" tolak Lili lalu pergi berjalan mendahului mereka. Namun,saat baru genap dua langkah Lili berbalik.


"Tenang aja Kak Vic,Lili bakal ke kelas kok. Gak bakal pergi".


'Sebenarnya Lili jalan duluan bukan cuma karna malas dengar murid pelangi,tapi malas juga jalan bareng si jahat yang buat Lili muntah waktu MPLS dulu. Kalo liat muka tu Kakak,bikin Lili kesal' batin Lili lalu mendengus kesal.