The Hope Behind The Word "ANEMONE"

The Hope Behind The Word "ANEMONE"
Episode 06



"Ya emang",balasnya lagi sambil menjulurkan lidahnya.


"Lili!",kini Alex yang berbicara.


"Maaf Yah Lili khilaf. Beneran deh Yah",ucapnya seraya membentuk huruf V di angkasa.


"Khilaf apa sengaja",goda Victor.


"Udah udah,jangan bicara lagi. Gak baik bicara sambil makan",ucap Dina menengahi kedua anaknya.


"Victor duluan ya Yah Bun",ucap Victor setelah selesai sarapan.


"Kak Vic tungguin napa. Lili masih ada sisah nih",pintanya disaat Victor hendak pergi kesekolah.


"Gak !!",balas Victor.


"Bunda..." ,adu Lili kepada Dina dengan nada manjanya.


'Nah, mulai nih manjanya',batin Victor.


"Victor...",sahut Dina.


"Iya Bun,Victor tunggu",jawabnya malas.


"Victor tunggu di depan. Gak pake lama!",sambung Victor.


Kini Victor dan Lili sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Tak butuh waktu lama,kini mereka telah sampai. Mereka berjalan beriringan bak seorang pangeran dengan penyihir cantik. Namun,dimata siswa lainnya mereka seperti sepasang seloji. Pasalnya,Victor dan Lili bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih.


"Kak",panggil Lili.


"Hmmm ".


"Kakak!",panggilnya lagi.


Victor hanya mendengus kesal dan bertanya,"Apa sih Li?".


"Hmmm.... gak jadi deh". Victor menghentikan langkahnya yang diikuti Lili.


"Kenapa berhenti?",tanya Lili. Victor hanya diam dan menatap lekat wajah Lili. Victor menggeleng dan melanjutkan kembali langkahnya.


Victor telah sampai mengantar Lili kelapangan,kemudian ia pamit pergi ke kelasnya. Saat sampai di kelas ia menuju kursinya dan kemudian mendudukkan dirinya. Namun,ia tidak menyadari bahwa teman temannya sedang menatapnya penuh dengan pertanyaan.


"Victor",panggil Fadhil.


"Yes?",balas Victor.


"Trus?".


"Lho gak tau?",Fadhil balik bertanya yang dijawab anggukkan dari Victor.


"Ck,mereka mau nanya",Fadhil hanya mendecak menjawab pertanyaan Victor.


"Nanya?".


Fadhil menghirup nafas panjang, lalu membuangnya untuk mengatur emosi yang mulai memuncak. Dan berkata,"Mereka mau nanya,lho dengan cewek tadi jadian?!". Victor mengangguk tanda mengerti,lalu diam kembali.


"Kenapa diam?",tanya Fadhil.


"Emang perlu ya?",bukannya menjawab dia malah bertanya balik.


"Gak perlu!!,ya perlulah Victor Adinatha Kusuma yang tampan...... ",jawabnya kesal.


"Gak". Singkat,padat,dan jelas. Itulah jawaban dari Victor.


"Masa?!",kini Lion yang membuka suara.


"Gak percaya,yaudah",balas Victor.


"Ya mana percayalah oon... ",sahut Fadhil dangan nada yang tidak santai. Pasalnya ia sudah kehilangan kesabarannya untuk mengadapi orang bak es serut tersebut. Victor terkenal dengan sikap dinginnya di sekolah dan di luar. Berbeda dengan saat bersama keluarnya dia sangat jahil serta humoris.


"Santai aja kali,gak usah ngegas",balas Victor.


"Dia cuma adek gue,gak lebih",sambungnya.


Setelah mendengar pernyataan tersebut,mereka mengangguk mengerti dan kembali ketempat semula. Pasalnya guru telah datang, pertanda jam pelajaran telah dimulai.


Disisi lain,Lili tengah sosialisasi dengan panitia MPLS. Mereka tengah membahas tentang sekolah serta ruangan ruangan yang ada di SMA Pelangi. Dia berada di barisan paling depan kelompoknya.


"Ada pertanyaan?",tanya orang yang bernama tag Zidane Syahputra.


Hening.....


"Kalau tidak ada,saya yang akan bertanya. Kalau jawabanya salah akan dihukum",lanjutnya.


"Hukumannya apa Kak?",tanya Lili dengan berani.


"Hukumannya.....memakan petai yang di leher kalian".