
Lili,gadis berkerudung biru muda membela jalanan sepi itu dengan sepedanya. Gadis itu tak henti merutuki dirinya sendiri dengan wajah yang ditekuk,ia tak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang yang berada di jalan itu.
"Aduh!" ucap Lili saat terjatuh dari sepedanya.
"Ni sepeda kenapa pake acara nabrak sih?! ni tiang juga,kenapa ada di sini?! kan Lili jadi jatuh. Kalo Lili udah punya uang sekarang, bakal Lili pindahin ni tiang" cerocos Lili memarahi kedua benda mati itu.
"Untung gak banyak yang liat Lili jatuh,kalo tidak?! bisa malu sampe ke tulang-tulang Lili. Apa balik ke rumah aja ya? tapi... kalo Lili balik ke rumah, keburu inpeksi ni luka. Lagipula tamannya juga udah dekat,lebih baik ke sana. Kaki Lili juga sakit" putus Lili bangkit dari tempatnya.
Gadis itu berjalan sambil mendorong sepedanya, kebetulan ada warung yang dekat dengan taman dan tempatnya sekarang--ia hendak ke warung tersebut untuk membeli obat. Namun,langkahnya terhenti saat seorang anak perempuan datang menghampirinya dan memberikan sebuah kantong plastik.
"Ini buat saya?" tanya Lili heran.
"Iya Kak,ini buat Kakak" jawab anak itu.
"P3K? dari siapa?" tanya Lili kembali saat ia melihat isi dari kantong plastik itu
"Tadi ada orang yang kasih sama aku, dia laki-laki seumuran Kakak--pake jaket putih. Awalnya Jingga gak mau,tapi kata orang itu Kakak temannya. Yaudah aku ambil,terus kasih ke Kakak" jelas anak yang bernama Jingga yang diangguki Lili tanda mengerti.
"Ooh... ok,makasih ya Dek".
"Iya Kak, sama-sama. Kalo gitu,aku pamit duluan ya Kak" ucap Jingga lalu pergi meninggalkan Lili.
"Teman? tapi siapa? kenapa gak langsung kasih sama Lili? ya... gak penting juga sih siapa yang kasih, tapi Lili berterimakasih sama dia karna udah beli obat buat Lili. Lagipula katanya dia teman Lili,berarti Lili pasti kenal sama dia kalo ketemu" guman Lili. Kemudia pergi untuk mencari tempat yang teduh untuk mengobati lukanya.
"Lili izin duduk di sini ya pohon besar " ucap Lili sambil mendudukkan dirinya di bawah pohon besar di dalam taman.
"Uh...! kenapa bersihin luka perih ya? ini semua gara-gara Kak Victor,coba aja gak maksa Lili pergi,pasti gak bakal kejadian kayak tadi" sungut Lili tak terima akan apa yang menimpanya.
"Ya... Lili juga berterimakasih sama Kak Victor,karna akhirnya Lili keluar dari rumah untuk yang kedua kalinya dan tempat yang sama juga sih,tapi... Lili gak bisa ke danau itu. Kaki Lili juga masih sakit" ucap Lili menghela napas panjang.
"Eh,iya Dek. Ada apa? saya Lili" sahut Lili terkejut.
"Ini buat Kakak" ucap anak tersebut menyodorkan sebuah es krim yang ada di tangannya.
"Es krim? buat Kakak?".
"Iya".
"Gak usah Dek,itu kan punya kamu" tolak Lili halus.
"Ini bukan punya aku Kak,tapi punya Kakak".
"Lah? kok punya Kakak sih?!".
"Iya,tadi kata 'Kakak itu', es klim ini punya Kakak".
"Hmmm... kalo gitu,Kakak ambil deh" ucap Lili menerima es krim tersebut.
"Eh,Dek jangan pergi dulu!".
"Iya Kak".
"Nama Adek siapa?" tanya Lili penasaran.
"Lhadella" jawab anak itu.