
"Satu... dua..."ucap Pak Logan menghitung.
"Ti...ga....".
Tepat pada hitungan ketiga,mereka telah berada di tempat seharusnya. Namun,tentu saja dalam waktu sesingkat itu pasti ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, seperti tabrakan satu sama lain.
"Hahaha...makannya kalo lari itu pake helm,biar kalo ketabrak gak sakit" ucap Lili mengejek disela-sela tawanya.
"Bukannya iba,malah ketawa lihat temannya kesiksa gitu" sindir Pak Logan.
"Eh! Lili gak gitu kok Pak,tadi itu khilaf. Maaf ya Lin,Naj" balas Lili mengelak.
"Awas kalo ribut kayak tadi!" ancam Pak Logan yang sedetik kemudian diikuti oleh anggukan mereka.
Setelah aman,Pak Logan pun kembali melanjutkan aktivitasnya meninggalkan kelas--Yang kemudian diikuti Bagas untuk melaksanakan tugas yang diberikan padanya.
"Baiklah,seperti yang dikatakan Pak Logan tadi. Gue bakal baca tugasnya masing-masing" ucap Bagas mengawali.
"Yang pertama,tugasnya membersikan kelas ini karna ruangan ini akan digunakan sebagai tempat istirahat para atlet SMA lain. Ada dua orang,atas nama Reinasyah Olivia dan Putri Dandelion".
"What?!" ucap Lili lirih.
'Lili sama Reina satu tim?! gimana ini? Pak Logan kenapa samain tugas Lili sama Reina? hubungan kami kan,lagi gak baik. Lili sih gak pa-pa,tapi dia... gimana?' tanya Lili membatin.
"Semuanya sudah jelas,jadi tidak ada yang boleh membantah karna ini adalah pilihan Pak Logan sendiri. Jadi,gue harap lho semua laksanakan tugas yang telah ditetapkan" ucap Bagas mengakhiri. Namun,Lili tidak menyimaknya karna sibuk dengan pikiranya sendiri.
"Li! woi Lili?!" panggil Bagas tepat disamping telingan si empu nama. Refleks,gadis itu langsung melayangkan buku tulis yang berada di depannya.
"Ma-maaf Gas,kamu sih... pake acara teriak-teriak segala. Kamu pikir Lili gak punya telinga apa?!" sungut gadis itu.
"Makannya... kalo dipanggil itu nyaut,bukannya bengong".
"Lho udah tahu kan tugasnya? jadi sekarang sana bantuin Reina" lanjut Bagas.
"Eh... pembagian tugasnya udah selesai ya?! kok gak bilang-bilang dari tadi?" tanya Lili balik.
"Dari tadi gue udah bilang sayangku Lili...." balas Bagas gemas.
"Iya ya? maaf deh kalo gitu, Lili laksanain tugas dulu ya"balas Lili bangkit dari duduknya.
"Oh iya,jangan panggil Lili sayang ya,karna kita bukan mahrom. Lagi pula Lili gak suka sama GAS BERACUN"lanjut Lili menekan dua kata terakhir lalu pergi meninggalkan Bagas yang kian memanas.
"Untung lho satu kelas sama gue,kalo gak?! udah gue buang ke laut" ucap Bagas lirih.
-------
Dua jam telah berakhir,baik Lili maupun Reina... tidak ada yang mengeluarkan suara. Hening dan sunyi bagaikan berada di ruang hampa, inilah yang mereka rasakan saat ini.
"Emmm... Reina boleh bantuin Lili mindahin meja ini gak?" ucap Lili dengan sangat hati-hati. Namun,sayang Reina tidak mendengarnya. Mungkin,karna terlalu hati-hati suara gadis itu jadi pelan.
"Reina... boleh bantuin Lili mindahin meja ini gak?" pinta gadis itu dengan nada suara yang dinaikkan.
1 detik,2 detik ,3 detik,4 detik,5 detik. Dan ya,akhirnya Reina mendekat ke arah Lili dengan langkah kaki yang cepat,serta raut wajah santai.