
"Udah mendingan ?",tanya Victor yang diberi anggukkan dari Lili.
"Kalau gitu balik sana! gue mau kekelas dulu",sambung Victor sambil melirik arloji yang ditangannya.Saat Victor berbalik dan hendak melangkah. Lili mencekal tangan.
"Makasih ya Kak",ucapnya tulus.
Saat mendengar pernyataan dari Lili,Victor berbalik dan tersenyum.
"Iya",balasnya dan mengacak gemas jilbab Lili.
"Ih Kak Victor jangan diacak!",kesal Lili. Namun,Victor malah tersenyum dan pergi meninggalkan gadis yang tengah kesal itu. Kemudian gadis tersebut beranjak pergi dari tempatnya untuk berkumpul kembali dengan kelompok yang ia tinggalkan tadi.
"Darimana?",tanya Zidane saat Lili kembali kebarisannya semula.
"Gak penting!",ketus Lili.
"Kalau di tanya, jawab yang bener",kesal Zidane. Sungguh,gadis yang di hadapannya ini sangat berani menjawab apa yang tidak perlu.
"Toilet",jawab Lili malas.
"Ngapain ke toilet?",tanya Zidane lagi.
"Makan!! ya buat kumur kumurlah. Di situ kan ada wastafel",balasnya.
"Santai aja kali jawabnya, gak usah ngegas",jawab Zidane dingin.
"Bomat!" ,guman Lili, tetapi masih bisa di dengar.
"Apa kamu bilang?!",tanya Zidane galak.
"Kakak cantik",jawab gadis itu.
Ya begitulah yang terjadi. Lili yang tidak mau mengalah kepada Zidane,begitupun sebaliknya. Dan siswa lain?mereka hanya bisa diam mendengarkan kedua insan yang tengah berdebat hingga bel istirahat berbunyi.
Kring kriiing...
"Baiklah adik adik,sosialisasi hari ini telah selesai. Dan akan di lanjutkan dengan ujian,untuk memastikan kelas kalian. Namun, sebelum itu silakan istirahat pergunakan waktu kalian sebaik mungkin". Setelah itu Zidane beranjak pergi dari tempatnya.
"Gila! lho berani banget lawan Kak Zidane",ucap seorang gadis yang berada di sampongnya. Lili mengangkat satu alisnya pertanda ia tidak mengenal orang tersebut.
"Oh sorry,perkenalkan namaku Reinasyah Olivia Harahap",ucap gadis itu memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangannya.
"Lili,Putri Dandelion Kusuma. Salam kenal Reinasyah Olivia Harahap",balas Lili menerima tangan gadis itu.
'Tadi manggil aku sekarang gue',batin Lili saat bahasa gadis itu berubah.
"Oiyah,lho berani banget lawan Kak Zidane",ucap Reina kembali.
"Habisnya tuh orang bikin kesal mulu sih",balas Lili.
"Iya sih,tapi gue salut sama lho. Karna gak ada yang berani lawan Kak Zidane selain lho",puji Reina.
"Udah ah,jangan puji Lili. Nanti Lili gak bisa liat kuping Lili lagi",balasnya sembari mengibaskan tangannya di angkasa.
"Bisa aje lho, lho laper gak. Kekantin yok?",tanya Reina.
"Kuylah",balas Lili.
Saat perjalanan menuju kantin Lili bertanya kepada Reina.
"Rei,lho tau kantin dimana?".
"Ya taulah",balasnya.
"Ohh,gue kira kagak".
"Ya gak mungkinlah,gue gajak orang yang baru kenal ke tempat yang gak gue tau".
"Iya juga sih",balas Lili setuju dengan pernyataan Reina.
Kini mereka berdua bungkam tidak ada yang bersuara. Canggung mungkin, karena baru kenal. Hingga mereka berhenti tepat di tujuan.
"Hmmm Lili,lho cari tempat aja biar gue yang mesan",tawar Reina memulai pembicaraan . Lili hanya mengangguk setuju.
"Lho mesan apa?",tanya Reina.
"Bakso sama teh dingin aja",balas Lili.
"Ok,gue pesan dulu ya".
"Tunggu Rei!",panggil Lili saat Reina hendak berbalik .
"Lho mau gak jadi teman Lili?", sambung Lili.