
"Lhadella...".
"Bukan Lhadella,tapi Lhadella!" potong anak itu.
"Lah? tadi Kakak kan manggilnya Lhadella".
"Iya,tapi itu salah. Nama aku Lhadella" tegas anak kecil itu yang membuat Lili semakin bingung.
"Ooh... maksud Adek Rhadella?" tanya Lili memastikan.
"Iya,Lhadella".
"Kalo gitu,nih buat Rhadella aja" ucap Lili menyodorkan kembali es krim tadi.
"He...,tapi ini punya Kakak".
"Rhadella suka es krim kan?".
"E-enggak,aku gak suka sama es klim".
"Kakak sebenarnya suka es krim,tapi... karna Rhadella udah baik sama Kakak. Jadi,es krimnya Kakak kasih sama Rhadella aja. Lagipula,es krimnya kan punya Kakak. Ya... terserah Kakak mau kasih ke siapa,tapi... kalo Rhadella gak mau juga gak pa-pa kok. Kakak bisa kasih sama yang lain aja" goda Lili,ia tahu pasti bahwa banyak orang yang suka dengan es krim--apalagi seorang anak kecil.
"Emmm... se-benarnya aku suka sama as klim,tapi kata 'Kakak itu' Kakak pasti bakal kasih sama aku. Makannya tadi aku nolak,ta-tapi... kalo Kakak bakal kasih ke orang Lhadella pasti sedih. Karna Lhadella jug suka" balas Rhadella polos.
"Nah,kalo gitu ini buat Rhadella aja" ucap Lili kembali.
"Makasih ya Kak" ucap Rhadella dengan mata berbinar lalu pamit untuk pergi. Lili tertawa melihat aksi anak kecil tersebut,'lucu' pikirnya.
"Tamannya bagus kan Kak".
"Eh?! iya,bagus" sahut Lili kikuk.
"Aku baru pertama kali keluar rumah,karna...." lanjut orang tersebut dengan menggantung kalimat terakhir yang membuat rasa penasaran Lili muncul.
"Karna apa?".
"Saya mengidam penyakit leukemia stadium tiga" jawabnya tersenyum kepada Lili.
"Sejak kapan?" tanya Lili hati-hati.
"4 tahun lalu".
"Dan itu membuat Abi,Umi dan Kakak syok. Sejak saat itu,aku gak pernah sekalipun keluar".
"Terus kamu bagaimana? apa kamu menjalaninya dengan baik?".
"Mau tak mau,aku harus tetap menjalaninya. Melihat Abi,umi yang selalu bersusah payah agar bisa sembuh,membuatku untuk tetap semangat dalam menjalani semuanya. Terlebih Kakak,yang membuatku untuk terus berharap,tapi... mengingat umurku yang tidak lama lagi... membuatku semakin merasa tidak berguna. Bukan tidak terima atas takdir yang sudah digariskan untukku".
"Aku selalu menyusahkan Abi,Umi dan Kakak. Mereka bersusah payah merawatku,tapi tak sedikitpun bisa membalas atas apa yang mereka perbuat padaku".
"Kamu tidak menyusahkan kok dan kamu juga berguna. Abi,Umi bahkan Kakakmu pasti bangga dengan adanya orang sepertimu. Makannya mereka selalu melakukan terbaik untukmu,agar kamu bisa menjalani hidupmu dengan normal,seperti anak-anak yang lain" ucap Lili spontan.
"Kakak juga baru pertama kali keluar rumah eh,bukan pertama kali sih,tapi kedua kalinya. Makannya,kamu jangan merasa seperti itu. Kakak memang tidak merasakan apa yang kamu rasa,tapi kakak bisa mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Tidak ingin menyusahkan dan merasa tidak berguna itu hal wajar kok. Semua orang pasti pernah mengalaminya,Kakak memang tidak bisa kasih kamu motivasi,tetapi kakak hanya bisa berdoa dan memberikan ini" lanjut Lili memperlihatkan senyuman termanisnya yang membuat orang tak dikenal itu mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya.