The Hope Behind The Word "ANEMONE"

The Hope Behind The Word "ANEMONE"
Episode 29



Lili berjalan menelusuri koridor sekolah sambil bersenandung kecil. Orang yang berlalu lalangpun masih terlihat sedikit,karena kebetulan masih pagi sekali jadinya murid Pelangi masih sedikit yang datang. Namun,langkahnya terhenti tatkala melihat Reina yang sedang keluar dari ruang musik dengan raut wajah gelisah. Lili kemudian pergi menghampiri Reina.


"Pa-pagi Rei" sapa Lili dengan hati-hati. Reina sempat terkejut melihat Lili yang sudah berada di depannya,tetapi beberapa detik kemudian dia bersikap biasa saja. Namun,Lili tidak mementingkan perubahan sikap Reina. Ia malah lebih khawatir dengan raut wajah gelisah yang ia lihat tadi.


"Kamu... gak kenapa Rei? kok kayak gelisah gitu?" tanya gadis itu memastikan.


"Gue gak pa-pa".


"Tapi... Lili lihat kamu kayaknya lagi gelisah deh,cerita sama Lili kalo kamu ada masalah Rei. Soalnya Lili khawatir sama kamu" tawar Lili.


"Cek. Lho gak usah sok perhatian sama gue! karna gue gak butuh perhatian dari lho!" kesal Reina lalu pergi meninggalkan Lili.


"Kayaknya Reina masih marah deh sama Lili,padahal... Lili cuma mau bantu Reina" guman Lili.


"Tapi... kenapa Reina ke sini ya? dia kan gak ikut eskul" lanjutnya.


'Eh! kenapa Lili mikirin itu sih?! kan terserah Reina mau masuk ke ruang mana aja,toh siapapun pasti di belehin masuk ruang musik. Gak ada yang larang juga,selagi gak buat masalah sih' batin Lili sambil menepis semua pikiran negatifnya. Lalu,pergi beranjak dari tempatnya.


"Pagi,Lili yang cantik kembali" sapa Lili saat ia sampai di kelas.


"Loh? Reina mana?" tanya Lili heran mengingat pertemuannya dengan Reina beberapa menit lalu.


"Dia belum datang, emangnya kalian belum baikan ya?" balas Bagas dijawab dengan gelengan Lili.


"Turut berduka cita ya Li" cerocos Bagas menepuk bahu Lili.


"Gue berduka bukan karna Reina meninggal Li,tapi karna kalian belum baikan. Lagipula nih" balas Bagas menyodorkan sapu pada Lili.


"Jangan bilang lho lupa hari ini hari apa?! bukan berarti gue bicara baik jadinya lho gak mau kerjainnya" lanjut Bagas saat Lili bingung.


"Iya-iya Lili gak lupa kok hari ini hari apa,lagi pula Lili cepat datang kan buat tugas bersih-bersih" balas Lili mengerti akan maksud ketua kelas-nya itu.


"Bagus deh,lho gerti. Kalo gitu cepat bersihin!yang lain udah kerjain bagian lain".


"Gak usah kamu suruh juga Lili bakal kerjain,mana pake acara teriak lagi! kayak emak-emak kompleks aja" sungut Lili merampas sapu yang berada pada genggaman lelaki itu.


"Haahh... akhirnya bersih juga" ucap Lili bernapas lega.


"Hmmm... ada 5 menit lagi biar masuk, oi Gas beracun! Lili minta minum dong" ucap Lili saat melihat Bagas tengah melangkah ke luar.


"Tuh di laci gue" sahut bagas dari ambang pintu.


"Kamu belum minum kan Gas?".


"Iya,belum. Kalo lho mau minum semua juga gak pa-pa kok" sahut Bagas sebelum dia benar-benar menghilang dari ambang pintu.


"Gas beracun baik ternyata, siapa sih yang gak mau gratisan. Thanks ya Gas" ucap Lili setengah berteriak pada kalimat terakhir. Lalu, meneguknya setengah dan menyimpan sisah air itu di laci mejanya.