The Hope Behind The Word "ANEMONE"

The Hope Behind The Word "ANEMONE"
Episode 15



Gadis itu merutuki dirinya sendiri merasa malu akan tatapan murid Pelangi. Dimana lagi kalau bukan di lapangan utama,berlari sendirian menjadikan ia sebagai pusat tontonan. Berutung tidak istirahat,kalau iya mungkin malunya itu bagaikan lautan yang menyelimuti daratan.


"Huh. Ini gara gara Reina,bangunin Lili lama. kalau gak Lili gak bakal disini. Tuh mata gak bisa apa gak liat kearah Lili?! kan jadi malu diliatin kayak gitu, emangnya Lili artis?! Bu Yola juga ngasih hukumannya lari dipinggir lapangan,sampai istirahat lagi . Udah panas,capek,dapat malu lagi. Apes banget sih hidup lho Li.....ada cogan! gila ganteng banget!". Sontak ia menghentikan larinya saat melihat seorang lelaki bersama bu Kinan selaku guru kesiswaan,mungkin dia adalah murid baru pikir gadis itu.


"Omg. Kakak itu ganteng banget! tinggi lagi, macam tiang listrik",guman Lili kemudian ia tertawa geli mendengar pernyataannya sendiri. Saat ingin melihat kembali, tak segaja netranya dan netra lelaki itu bertemu,tapi hanya beberapa detik saja karna lelaki tersebut hilang di balik persimpangan lantai dua.


"Ya...cogannya hilang,tapi gak papa deh. Toh Lili juga harus lari lagi siapa tau pas lari ada lagi cogan".


Sekali lagi ia tertawa,tetapi tawanya terhenti saat mengingat bahwa ada banyak pasang mata mengarah kepadanya. Mungkin mereka mengira dirinya sudah diambang normal karena tertawa sendiri.


Gadis itu melanjutkan hukumannya sampai bel istirahat berbunyi,yang menandakan akhir dari hukumannya. Ia mendudukkan dirinya di bawah pohon besar dekat pinggir lapangan dengan memijat kaki yang terasa kram akibat hukuman yang ia jalani.


Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kearahnya. Tangannya refleks mengambil botol itu dan langsung meneguknya hingga tandas. Sebenarnya ia sangat kehausan dan ingin menuju kantin. Namun, kakinya tidak bisa di ajak untuk bernegoisasi,alhasil ia berada di bawah pohon besar ini. Ia mendongak melihat siapa yang berbaik hati membelikan minuman kepadanya dengan cuma-cuma.


"Eh,Kak Tamara ". Ya, orang yang menyodorkan sebotol air mineral itu adalah Tamara kakak kelas yang memergoki dirinya disaat ingin keluar dari barisan bulan lalu tepatnya pada saat MPLS.


'Ini Kak Tamara apa bukan? setau Lili terakhir ketemu Kak Tamara saat MPLS dulu,waktu itu Kakak ini galak amat dan sekarang? baik banget. Masa iya ini Kak Tamara, apa jangan- jangan ibu peri ngubah Kak Tamara jadi baik ya? secara ibu peri bisa ngubah orang jadi cantik kayak Cinderella. Iya! bisa jadi kayak gitu'


"Dek? hello? Dek kamu masih hidupkan?", tutur Tamara sambil menjulurkan jari telunjuknya di bawah hidung Lili. Tamara mengebuskan napas lega tatkala merasakan udara yang keluar dari hidung gadis itu.


"Dek? kamu kesambet penunggu pohon besar ini ya? jangan-jangan iya ",sambung Tamara saat gadis itu masih tetap dengan posisinya.


"Dek? kamu sehatkan? gak kesambetkan?". Kini Tamara mengguncang bahu Lili kuat.


"I-iya Kak",jawab Lili sadar dari lamunannya. Untuk kedua kalinya Tamara mengembuskan napas lega karna sekarang ia bisa mendengar suara gadis itu.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan ?",tanya Tamara memastikan.


"Kakak tadi ketemu sama Ibu Peri ya?". Bukannya menjawab pertanyaan Rani ia malah balik bertanya.