The Hope Behind The Word "ANEMONE"

The Hope Behind The Word "ANEMONE"
Episode 27



"Aduh! apa-apaan sih Rei?!" sungut Lili saat kepalannya mendapat jitakan dari tangan Reina.


"Lho sih,kalo ngomong itu jangan ngasal. Masa kaki kiri lomba lari sama kaki kanan? ya mana bisalah" koreksi Reina.


"Bisa,tapi gak ada yang menang. Kaki kiri sama kaki kanan seimbang,buktinya kemarin" ucap Lili tak mau kalah.


"Udah Rei,Lili memang benar" ucap Bagas menengahi dan disambut dengan senyuman kemenangan Lili.


"Udah,kita galah aja sama yang gak waras" lanjut Bagas memudarkan senyuman Lili.


"Lho benar Gas,kita ngalah aja" ucap Reina setuju.


"Bodoh amat! sini bukumu Rei" ucap Lili kesal dengan menjulurkan telapak tangannya ke arah Reina.


"Lili kan kemarin bolos,terus bidang study hari ini ada yang sama kayak kemarin. Jadi,Lili minta buku tugas sama catatanmu. Lili pake maksa loh mintanya" lanjut Lili.


"Untung sahabat,kalau gak?! udah gue buang ke kutub selatan. Biar lho mati kedinginan atau di makan beruang kutub" sungut Reina memberikan bukunya.


"Gak pa-pa sih,Lili di buang ke kutub selatan. Toh,Lili gak bakal mati. Karna ajal Lili itu di tangan Allah bukan di tangan Reina,terus Lili bisa foto-foto sama hewan di sana" cerocos Lili sambil menyalin tugas dan catatan Reina.


"Lho tuh ya Li! pengin banget gue makan lho" sungut Reina berapi-api dan Lili,ia tidak mengindahkan perkataan Reina.


"Sabarnya diperbanyak ya Rei,kalo ketemu sama ni-manusia. Positif thinking aja,mungkin otaknya lagi bergeser",ucap Bagas menenangkan Reina.


"Terus! terus aja puji Lili! Lili ihklas kok,lahir batin malahan" sahutnya tak santai.


"Lho mau kemana Rei?" tanya Bagas saat Reina pergi.


"Gue mau cari angin dulu Gas,di sini panas banget. Gue butuh angin buat dinginin kepala sama hati gue" ucap Reina sebelum benar-benar menghilang dari ambang pintu.


'Gawat ni,bisa-bisa perang dunia ketiga terjadi sekarang' batin Bagas putus asa.


-------


"Rei ini bukunya... loh?! Reina mana?" tanya Lili heran.


"Dia tadi keluar" sahut Bagas sembari membaca buku.


"Kenapa keluar? bentar lagi kan masuk".


"Katanya sih mau nyari angin,di sini panas" sahut Bagas mengulangi beberapa kalimat yang dilontarkan Reina.


"Lah? ini kan masih pagi,kenapa dibilang panas? kalo dingin sih iya" balas Lili heran.


"Lho gak peka atau gimana sih Li?!" ucap Bagas tanpa mengalihkan netranya dari benda kotak tersebut.


"Maksudnya apa sih Gas? kalo ngomong itu yang detail dan jelas,biar Lili paham".


"Cek. Memang benar ya,siapa aja yang ngomong sama lho bawaannya pasti pengin marah mulu" decak Bagas menutup buku yang ia baca lalu mengalihkan netranya menuju Lili.


"Reina marah" lanjut Bagas saat Lili hanya diam tak menyahut.


"Gara-gara apa? siapa yang buat? bagaimana bisa?kapan dan dimana?" cerocos Lili dan mendapat jitakan yang lumanyan kuat dari Bagas.


"Lho pikir ini 5W 1H?!" sungut Bagas dibalas cengiran khas Lili--melupakan jitakan Bagas.


"Dia marah karna lho".


"Kok bisa?!".


"Ya mana gue tahu,emang dasarnya aja kalo ngomong sama lho--pengin marah terus".


"Baku hantam yok Gas" ajak Lili tak terima.