
"Reina beneran gak mau sahabatan lagi sama Lili ya?" guman Lili.
To... tok... tok....
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar Lili,tetapi ia tetap dengan posisinya. Ia sebenarnya tahu bahwa ada yang mengetuk pintu kamarnya. Namun,ia malas untuk membukanya.
Orang tersebut membuka knop pintu dan mulai melangkah masuk. Lili mengalihkan netranya saat sadar akan suara langkah kaki yang mengarah kepadanya.
"Kaki Kakak lancang banget ya?! main masuk aja ke kamar Lili tanpa izin" ucap Lili.
"Gue udah ketuk pintu kamar lho,tapi gak ada sahutan. Kebetulan pintunya gak dikunci,yaudah gue masuk aja" balas Victor santai sembari mendudukkan dirinya di pinggir ranjang milik Lili.
"Lain kali jangan lupa kunci kamar! lho itu cewek" sambung Victor menekan setiap kata yang ia keluarkan.
"Lah... terus kalo Kakak tahu,kenapa main masuk aja? lagipula di sini cuma ada Lili,Kakak sama Bik Lina".
"Di sini memang cuma kita bertiga,tapi lho jangan lupa kalo gue itu cowok dan gue juga manusia,bisa khilaf. Kita juga gak tahu kalo tiba-tiba ada orang masuk tanpa sepengetahuan kita bagaimana? maka dari itu lebih baik jaga-jaga".
Lili terdiam mendengar perkataan dari Victor. Memang apa yang dikatakan Victor benar,tetapi ia lupa status Victor sebagai lelaki. Meski Victor adalah kakaknya,bukan berarti ada pengecualian baginya.
"Iya-iya,lain kali pasti dikunci pintunya".
"Lho udah baikan sama dia?" tanya Victor yang dibalas gelengan kepala--tanpa ada satu katapun yang keluar dari bibir Lili.
"Cuaca hari ini bagus ya" ucap Victor mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Gak panas,tapi gak mendung juga. Makannya Lili ada di sini " ucap Lili memandang keluar dari balkon kamar miliknya.
"Kalo gitu lho keluar sana".
"Buat apa Lili keluar? toh inikan kamar Lili. Seharusnya Kakak yang keluar dari sini".
"Gah ah! Lili di sini aja. Lagipula buat apa capek-capek keluar buat cari angin? toh disi juga bisa".
"Di sini memang bisa,tapi kalo keluar lho bisa lihat banyak kehidupan".
"Keluar kemana? Lili malas jalan,buang energi aja".
"Ya kemana kek,ke taman kek" saran Victor.
"Ke taman? gak! Lili gak mau".
"Pokoknya lho harus pergi!" ucap Victor bangkit dari tempat duduknya.
"Lah... kok Kakak maksa sih? kalo mau keluar ya Kak Victor aja,Lili sih malas" ucap Lili berbalik menghadap Victor.
"Di pavilium ada sepeda,jadi lho gak perlu capek buat jalan kaki".
"Kalo Lili bilang gak ya gak!".
"Gak ada penolakan! lho harus pergi sekarang" ucap Victor mendorong Lili keluar dari kamar.
"Eh Kak! kok pintu Lili dikunci sih?! ini kan kamar Lili! jadi,Kakak gak berhak usir Lili" teriak Lili memukul pintu kamarnya.
"Kalo lho gak pergi,uang jajan lho gak bakal gue kasih sampai Ayah sama Bunda kembali!".
'Lah... kok malah ngancam sih?!' batin Lili kesal.
Saat tidak mendengar suara bantahan dari Lili,Victor melangkah menuju balkon untuk melihatnya apakah ia benar-benar pergi. Dan ya,sesuai dengan perkiraan Victor--gadis itu pergi menggunakan sepeda. Kedua sudut bibir Victor membentuk bulan sabit melihat wajah Lili yang ditekuk.