The Devil's Queen

The Devil's Queen
Chapter 42



Kaisar Huang berjalan mendekat dengan pandangan tajam ke arah Jesslyn bersama Ratu Wen, Kasim Luo, Panglima perang Guan, juga kedua Pangeran dan Putri Huang Yun He.


"Si-Sial!" pikir Lina di benaknya kesal.


"Ibu! kenapa kau lakukan itu! lihatlah sekarang!" bisik Lina yang hanya terdengar di telinga Ming Ruyue dan Jesslyn. Mendengar bisikan cemasnya itu, Jesslyn tersenyum seakan menemukan umpan baru.


"A-Apa yang kau inginkan! i-ini adalah baju peninggalan ibuku, k-kau tak boleh merebutnya dariku! huhu," ucap Jesslyn disertai isakannya membuat seisi aula kebingungan. Sementara Ming Ruyue dan Lina tersenyum licik seakan menemukan celah untuk menghindar dari masalah yang diperbuat oleh mereka.


"Benar! jal*ng itu tak mungkin berubah banyak dalam waktu sesingkat ini," pikir Lina tersenyum ke arah Ming Ruyue seolah memberi tanda. Ming Ruyue yang menyadari itu tersenyum licik dan langsung mendekat ke arah Jesslyn dengan pelan dan lembut seolah keburukannya yang tadi tak pernah terjadi membuat semua orang yang menyaksikan semuanya menatap hina ke arah Ming Ruyue. Namun, itu semua tak mereka pedulikan asal bisa lolos dari masalah.


"Jesslyn, tak ada yang ingin merebutnya darimu. Kau tahu? Aku sedikit syok melihat baju yang kau kenakan itu mengingatkanku kepada seseorang yang sangat kurindukan," ucap Ming Ruyue dengan wajah sendu. Membuat semua orang yang menyaksikan kemunafikan Ming Ruyue ingin segera membantu Jesslyn. Tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena Jesslyn terkenal dengan sifatnya yang bodoh dan penakut itu membuat besar kemungkinan Ming Ruyue lolos dari masalah itu. Banyak yang menyayangkan gadis cantik sepertinya harus mengalami hal itu.


"Puftt, haha," ringisan Jesslyn tertawa sembari mengangkat wajahnya dan menampilkan senyuman tipisnya tepat di hadapan Ming Ruyue. Sontak saja hal itu membuat seluruh orang termasuk Kaisar Huang beserta yang lainnya tersentak tidak terkecuali Ming Ruyue dan Lina yang kebingungan sebelum akhirnya mereka menydari telah dipermainkan oleh Jesslyn.


"Lihatlah dirimu, kau berharap bisa lolos dari masalah ini dengan memanfaatkan kepolosanku bukan? buka matamu. Kau pikir aku masihlah gadis polos dan lugu yang bisa kau manfaatkan sesukamu? seperti waktu aku berada di kediaman jendral? sayangnya berkatmu, Aku berubah banyak dan terimah kasih untuk itu. Sekarang kau tidak bisa mengelak, semua mata memandangmu." Ucap Jesslyn membuat seisi ruangan terkejut dan menatap tak percaya ke arah Ming Ruyue begitupun Kaisar Huang, Ratu Wen yang merupakan teman baik mendiang ibu Jesslyn, beserta Kasim Luo dan Pangeran juga Putri Huang Yun He. Sementara panglima perang Guan yang sudah mengetahui hal itu hanya menatap sinis ke arah Ming Ruyue.


"I-Ini, panglima Guan, apa yang diucapkan cucumu ini benar?" ucap Kaisar Huang.


"Seperti yang diucapkan cucuku Yang Mulia, semua itu benar. Aku, juga baru mengetahuinya saat cucuku tiba-tiba menemuiku dan memutuskan untuk tinggal denganku," sahut panglima perang Guan membuat seisi aula terkejut.


"Bagaimana dengan ayahnya, jendral Hang?" ucap Kaisar Huang membuat seluruh ruangan menatap penasaran ke arah panglima perang Guan. Namun, panglima perang Guan hanya tersenyum kecut dan berjalan mendekat ke arah Jesslyn. Lalu memeluk cucu kesayangannya itu.


"Maaf kalau lancang, Yang Mulia. Biarkan ayah- tidak, jendral Huang yang menjawabnya," ucap Jesslyn sekali lagi membuat seisi ruangan menatap sedih ke arah Jesslyn. Mereka seolah mengerti penderitaan gadis berumur belum genap 15 tahun itu hanya dari ucapannya.


"Kasim Luo, bawa dua penjaga bersamamu dan bawakan jendral Hang ke hadapanku, sekarang juga!" ucap Kaisar Huang tegas. Lalu setelah itu, Kaisar Huang juga memerintahkan untuk menahan Ming Ruyue dan Lina sembari menunggu kedatangan jendral Hang. Dengan kata lain, nasib Ming Ruyue dan Lina tergantung pada ucapan dan keputusan jendral Hang. Situasi menegangkan ini membuat seisi aula sedikit tertekan. Hingga akhirnya, tidak memakan waktu lama, Kasim Luo bersama dua penjaga yang dibawanya tadi datang bersama jendral Huang yang kebingungan dengan situasi yang dilihatnya.


"Ada apa ini, Yang Mulia? istri dan putriku, apa mereka berbuat kesalahan?" ucap jendral Hang membuat panglima perang Guan mengkeriyitkan kening dan naik pitam.


"Jadi, kau hanya melihat satu putrimu saja di sini?" ucap panglima perang Guan dengan amarah yang bisa dilihat dari keningnya yang mengkerut.


"Sudahlah kek. Aku, tak masalah dengan itu," ucap Jesslyn sembari tersenyum ke arah panglima perang Guan. Melihat cucunya yang tegar, mau tak mau panglima perang Guan juga harus bisa mengendalikan emosinya.


"Baiklah, cucuku," sahut panglima perang Guan.


"Ayah? Jesslyn? ada apa ini?" ucap jendral Hang yang baru menyadari keberadaan panglima perang Guan dan Jesslyn.


"Silahkan kau tanyakan sendiri kepada istri dan anak tercintamu itu," sahut Jesslyn acuh tak acuh.


"Istriku, putriku, apa yang terjadi? kenapa kalian di tahan seperti ini?" ucap jendral Hang.


"Huhu, kami difitnah oleh anakmu suamiku, huhu padahal kami selalu memperlakukannya dengan baik, kau juga menyaksikannya bukan suamiku?" ucap Ming Ruyue terisak.


"Yang Mulia, tolong lepaskan istri dan putriku, ini hanyalah kesalahpahaman. Aku, sendiri yang menjadi saksi istri dan putriku selalu memperlakukan Jesslyn dengan baik. Tapi, sepertinya karena Jesslyn kehilangan ibunya terlalu cepat sehingga dia salah mengartikannya," ucap jendral Hang membuat Jesslyn tersenyum miris. Tak ia sangka ayahnya membela ibu tiri dan putri angkatnya di banding darah dagingnya sendiri.


"Haha, ini lucu," pikir Jesslyn dengan mata yang memerah sembari terus menunduk. Menyadari cucunya yang sedih panglima perang Guan kecewa terhadap anak yang ia banggakan selama ini.


"Yang Mulia, kau adalah orang yang bijak. selama ini, Aku terus melaksanakan perintah dan titah darimu untuk berjuang dan berperang mempertaruhkan nyawaku demi menjaga kejayaan Kerajaan ini. Jadi, Aku yakin Yang Mulia sebagai Kaisar yang bijak bisa membuat keputusan yang adil dan tidak mengecewakanku," ucap panglima perang Guan dengan tatapan tajam dan melirik sinis ke arah jendral Hang.


"Aku, mengerti perasaanmu panglima Guan. Tapi, Aku tak bisa memutuskannya sekarang. Kita akan melanjutkannya di pengadilan," ucap Kaisar Huang.


"Penjaga! bawa mereka ke penjara bawah tanah dam kurung mereka di sana! Aku, pertegas, tak ada boleh mengunjungi atau membebaskan mereka tanpa perintahku! ucap Kaisar Hang yang di langsung dituruti dengan sigap oleh penjaga. Lalu, Kaisar Huang memerintahkan untuk kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan kembali acaranya. Semuanya kembali normal menikmati pesta pertunangan sembari menunggu kedatangan Putra Mahkota Gu dan Qiao Xue.


"Kek, Aku, ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar," ucap Jesslyn menunduk.


"Baiklah cucuku. Setelah perasaanmu tenang, kembali lah secepatnya sebelum pergelarannya di mulai," sahut panglima perang Guan.


"Ya, kek. Aku, mengerti," ucap Jesslyn sembari mengabaikan ucapan orang-orang dan berjalan menunduk keluar aula menuju taman Istana.


Sementara itu, Pangeran Huang Yi yang terus memerhatikan Jesslyn sedari dan mengabaikan situasi yang terjadi.


"Aneh, wajahnya tampak tak asing. Aku, seperti pernah melihatnya," pikir pangeran Huang Yi di benaknya sambil terus memerhatikan Jesslyn dengan seksama.


"Apa yang kau pikirkan, Yi? kau tampak serius sekali," ucap pangeran Huang Yan.


"Em, itu-" sahut pangeran Huang Yi yang terhenti begitu mendengar ucapan kasim Luo.


"Pangeran Yan, pangeran Yi, kalian di mintai Kaisar untuk menemuinya sekarang," ucap kasim Luo dengan di anggukki malas oleh pangeran Yan dan Yi.


Bersambung~


-----------Author Massage----------


Seperti biasa jangan lupa di---


-LIKE(gratis)


-COMENT(Berikan pendapatmu)


-AND VOTE(harus dong)


Dukung terus karya author oke see you all~