The Devil's Queen

The Devil's Queen
Chapter 24 - Rumah Makan Hawai 2



Rumah Makan Hawai


"kaka.. kau tidak apa-apa?" tanya seorang gadis sekitar berusia 12 tahun dengan tampang imut dan bermartabat sambil berjalan menghampiri jesslyn.


"Hm? ah ya begitulah" ucap jesslyn melihat kearah gadis itu.


"baguslah aku benar-benar minta maaf atas perbuatan kakakku walau aku tidak mau mengakuinya, tapi tetap saja dia bagian dari keluarga kerajaan" ucapnya.


"Aku tak mempermasalahkan seorang semut" balas jesslyn santai membuat gadis itu tertegun.


"Ahaha benar kaka kau hebat aksimu tadi sangat keren!!" ucap gadis itu dengan mata berbinar-binar dengan dibalas senyuman oleh jesslyn.


"Siapa namamu?" tanya jesslyn sambil mempersilahkan gadis itu duduk dengannya.


"Terimah kasih, Ah benar aku lupa memperkenalkan diri namaku 'Huang Yun he' " ucapnya sambil memperkenalkan diri.


"Aku jesslyn zhouyang kau bisa memanggilku jesslyn senang bertemu denganmu putri Yun he" balas jesslyn dengan hormat.


"Ah!kaka! tidak usah bersikap formal! panggil saja aku Yun he oke!?" ucapnya sambil mendengus, jesslyn yang melihat itu sangat amat gemas dibenaknya.


"Baiklah put-" ucap jesslyn yang langsung disambar oleh Yun he.


"YUN HE!!" bentaknya dengan mengerutkan alis membuatnya makin terlihat imut.


"Ya maaf Yun he" balas jesslyn tersenyum sambil mengelus lembut kepala Yun he.


"Hmphh aku maafkan karena aku mengagumimu" ucap Yun he mengalihkan pandangan membuat jesslyn ingin sekali mencubit pipi gembul merah merona itu.


Lalu mereka berbincang-bincang sambil menunggu, sampai akhirnya makanan mereka tiba.


"Maaf menunggu lama~ ini pesanan anda nona dan tuan putri" ucap pelayan yang tadi sambil tersenyum hangat.


"Ren! sudah kubilang jangan panggil aku tuan putri kalau sedang diluar nanti aku bisa kena masalah kalau ketahuan ayahanda tau!" ucap yun he mendengus kesal.


"Ah ya tuan putri maafkan hamba" balas pelayan itu sambil meminta maaf yang dibalas angukkan oleh Yun he.


"Jangan ulangi lagi ya!" ucap Yun he.


"Baik" balas pelayan itu sambil ijin mengundurkan diri untuk kembali mengantarkan pesanan orang-orang.


"Kau mengenalnya?" tanya jesslyn


"Ya dia orang yang baik dan selalu menyambutku dengan hangat" balas Yun he sambil melirik pelayan bernama Ren itu dengam dianggukki oleh jesslyn.


Mereka menyudahi pembicaraannya dan menyantap makan malam mereka dengan santai ,sesekali yun he mengambil makanan milik jesslyn, dengan senang hati jesslyn berbagi.


Disisi ditempat lain...


Di sebuah tempat dari balik bayang-bayang terlihat sosok tak lain leon yang sedang serius memandangi kota dari kejauhan menggunakan mata batin sehingga terlihat jelas dimatanya.


"Aneh mengapa aku merasa tak asing dengan kota ini, apa aku pernah kemari sebelumnya?.. tidak! aku tidak ingat pernah kemari" pikir leon sambil memijit pelipisnya.


Dan tak lama kemudian dia merasa keganjilan pada dirinya.


"Kerajaan Qi Jin, Kerajaan Qi Jin, Keraja- Arghhhhh" pikir leon sambil menjerit.


"A-apa ini ti-tiba sekali ke-kepalaku" ucap leon gagap sambil terhuyung-huyung.


Lalu leon menyandarkan dirinya pada sebuah pohon tidak jauh darinya sambil memijit kepalanya yang pusing, dan


"Arghhh hah hah ke-kepalaku arghh!!" eranganny, karena tak kuat menahan rasa sakit perlahan leon tertunduk dan pingsan ditempat.


Usai menyantap makan malam bersama yun he jesslyn berpisah dengannya tepat di pintu masuk, Yun he dijemput oleh kereta dan pengawal pribadinya tidak banyak itu membuktikan bahwa dia keluar atas kehendaknya sendiri tanpa sepengetahuan istana.


Sambil meratapi kepergian kereta Yun he jesslyn mulai menjalankan rencana awalnya.


"Aku harus mendirikan 'black rose' secepatnya, tapi harus kumulai dari mana" pikir jesslyn sambil berjalan dan tak lama kemudian dia mendapati seorang anak kecil berpakaian lusuh yang tengah berlutut memohon-mohon dengan isakan tangis kepada dua pemuda, jesslyn yang melihat itu langsung menghampirinya.


"Dik ada apa?" ucap jesslyn sambil membantu anak kecil itu bangkit.


"Huaaa ka-kaka to-tolong kaka bai dan hua mereka sedang se-sekarat a-aku mo-mohon a-aku akan melakukan apa sa-saja" ucap anak kecil itu kepada jesslyn sambil terisak tangis.


Jesslyn yang merasakan kepedulian seorang anak kecil terhadap keluarganya membuatnya kagum dan sebuah ide terlintas dipikirannya.


"Baiklah dik kaka akan membantumu" balas jesslyn tersenyum kearah anak kecil itu.


"Be-benarkah?" tanya anak kecil itu.


"Urungkan niatmu nona mereka hanya budak miskin".


"Itu benar tidak usah repot-repot kau hanya akan membuang waktu, apalagi dengan parasmu ini lebih baik.."


/Ucap kedua pemuda itu


Jesslyn yang mendengar itu langsung melirik sinis sekaligus jijik kearah kedua pemuda itu.


"Ayo dik antarkan aku kepada kakak-kakakmu sekarang juga aku akan menolong mereka" balas jesslyn yang langsung diangukki oleh anak kecil itu.


Begitu mereka hendak pergi, kedua pemuda itu nekat menghalangi jalan, dan mencoba menghentikan mereka.


"Nona bukankah sudah kubilang tidak usah repot-repot, akan lebih baik kalau ikut bersama kami" ucap pemuda 1.


"Ya.. kita akan bersenang-senang" ucap pemuda 2 sambil memandangi jesslyn dengan cabul.


"Menyingkir" ucap jesslyn dingin.


"Ayolah nona jangan dingin begitu" ucap pemuda 2 nekat menyentuh jesslyn langsung saja jesslyn mengeluarkan aura membunuhnya 1/4 dari aslinya. Membuat kedua pemuda itu terjatuh dengan nafas terengah-engah, bahkan orang-orang disekeliling mereka juga ikut mendapat efeknya selain dirinya dan anak kecil disampingnya, yang terlihat sedang kebingungan melihat sekelilingnya.


Jesslyn yang menyadari aksinya segera menarik kembali aura pembunuhnya dan mengucapkan beberapa kalimat namun dingin membuat kedua pemuda dihadapannya dan sekelilingnya yang mendengar itu bergidik.


"Orang-orang yang menghalangi jalanku sudah tak terhitung jumlahnya, begitu mereka menghalangiku saat itu juga mereka menghembuskan nafas terakhirnya, apa kalian mengerti?" ucap jesslyn dingin sambil menatap sinis kedua pemuda dihadapannya.


"Ka-kami me-mengerti to-tolong belas kasihan master ya- yang a-agung" ucap kedua pemuda itu terbata-bata. Begitupun orang-orang disekitar mereka juga ikut gemetar dan berkeringat dingin, menanti jawaban dari master dimata mereka ini yang menentukan hidup mati kedua pemuda itu.


Jesslyn tak menggubris mereka dan berjalan meninggalkan tempat itu bersama anak kecil yang tengah memandunya. Membuat kedua pemuda tadi menghela nafas akan hidupnya yang tadinya terancam, begitupun dengan orang-orang sekeliling mereka yang ikut menyaksikan aksi jesslyn.


Bersambung~


----------Author Massage-----------


Ps: Maaf telat up author sibuk menanggapi tugas-tugas yang menumpuk dan tidak ada habisnya-, tapi sebagai gantinya bab nya thor panjangin nih.. ah dan author juga sudah memperbaiki bab2 sebelumnya walau tidak banyak.. Oke tq!


Seperti biasa jangan lupa di---


-LIKE(gratis)


-COMENT(Berikan pendapatmu)


-VOTE(harus dong)


Dukung terus karya author oke see you all~