The Devil's Queen

The Devil's Queen
Chapter 09



"Nona! itu tadi sangat hebat! akhirnya, Nona bisa melawan mereka juga! Aku tahu kalau, Nona tidaklah lemah," ucap Ye Yin girang.


"Kau tahu?" sahut Jesslyn menatap menyelidik.


"Tentu saja, Aku tahu kalau, Nona berlatih setiap hari, dari pagi sampai malam. Tapi, walau begitu, tubuh nona masihlah lemah," ucap Ye Yin sedih.


"Tapi, Aku senang, karena sekarang, Nona telah tumbuh besar dan kuat. Almarhum nyonya pertama, Yuelan pasti turut senang jika melihat pertumbuhan, Nona sekarang ini," ucap Ye Yin lagi sambil melihat kearah langit pagi yang mulai terang.


"hmm, sepertinya begitu," sahut Jesslyn sambil ikut melihat kearah langit yang mulai terang.


"Seperti dugaanku sebelumnya, Jesslyn juga berlatih. Karena saat aku menyembuhkan tubuh ini, aku mendapati energi yang mengalir secara deras menuju meridianku," pikir Jesslyn di benaknya.


"Tapi, apa alasan ia berlatih belah diri? bukannya berlatih bakat seperti yang lainnya. Hah ini sulit, Aku tak menyangka kau cukup misterius juga. Tapi, apapun itu, Aku akan segera mengetahuinya," pikir Jesslyn lagi sambil menyudahi memandang langit, dan mengajak Ye Yin untuk lekas berangkat.


Sesampainya diluar, mereka mendapati sebuah kereta dan semua keperluan mereka sudah berada di dalamnya. Langsung saja tanpa membuang waktu, Jesslyn masuk kedalam kereta bersama Ye Yin yang sebenarnya memilih berjalan. Tapi, Jesslyn memintanya untuk duduk bersamanya. Jadi, mau tak mau Ye Yin harus menurut.


Dalam perjalanan, Jesslyn berkultivasi di dalam kereta untuk meningkatkan energinya dengan diperhatikan sekaligus dijaga oleh Ye Yin. Jesslyn tidak menutupi lagi perihal ia yang berlatih. Walau pun Ye Yin cuman mengetahui sebatas ia yanv berlatih belah diri, dan menjadi seorang alchemist. Tapi, Jesslyn akan segera memberi tahu Ye Yin mengenai rencananya itu. Karena Ye Yin satu-satunya orang yang dipercaya olehnya saat ini. Jesslyn juga berniat melatih, dan menjadikan Ye Yin sebagai wakil dari organisasi yang ia mau bentuk ulang nantinya yaitu Black Rose.


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa mereka sudah menghabiskan hampir satu hari di dalam kereta, dan sekarang mereka sudah sampai ke tujuan yaitu kediaman panglima perang Guan. Saat mereka tengah masuk, dilihatnya penjaga yang senang begitu melihatnya datang. Dengan senang hati penjaga itu segera memandunya menuju aula utama. Tentu saja perlakuan penjaga itu membuatnya heran, tapi satu hal yang ia tahu, penjaga itu punya hati yang baik, dan sangat menghormatinya. Berbeda dengan para penjaga ataupun pelayan di kediaman jendral yang tak berperasaan seolah tak mempunyai tata krama.


"Terimah kasih, sudah memanduku kemari. Terima lah, ini hadiah untukmu," ucap Jesslyn sambil mengeluarkan 1 koin emas untuk diberikan padanya.


"Terimah kasih, Nona, anda tidak berubah. Selalu ramah dan bijaksana." sahut penjaga itu tersenyum berterimah kasih sambil menundukan kepalanya kemudian pamit mengundurkan diri.


"Ya, kembalilah lalu lakukan tugasmu dengan baik," ucap Jesslyn tersenyum.


Begitu mendengarnya, sesuai perintah penjaga itu pergi dan melaksanakan tugasnya seperti biasa. Lalu tidak lama datang seorang pelayan wanita yang juga menyambut mereka dengan hormat, selayaknya tamu vip.


"Selamat datang kembali, Nona, tuan ada didalam ruangannya. Mohon ikut, saya akan membawa, Nona, menuju ruangan beliau," ucap pelayan itu dengan ramah yang langsung saja diberi anggukkan tanda persetujuan oleh Jesslyn.


Lalu sesuai ucapannya, pelan itu pergi memandu Jesslyn dan Ye Yin menuju ruangan panglima perang Guan. Tidak memakan waktu lama, mereka sampai pada tujuan. Tapi, situasi tak terduga terjadi.


"Tuan, Nona, Jesslyn datang berkunjung," ucap pelayan itu yang tak mendapat respon. Bahkan di acuhkan. Pelayan itu pun risau mau bertindak seperti apa. Sementara Jesslyn yang mengerti situasinya terdiam sambil menepuk jidatnya.


"Astaga, bagaimana bisa itu terjadi? hais mau tak mau, Aku harus membujuknya. Karena ini murni sebuah kesalah pehaman antara Jesslyn dengannya. Bisa-bisanya itu terjadi, untung saja ada ingatan ini yang memberi tahuku," pikir Jesslyn di benaknya.


Lalu, Jesslyn, menyuruh pelayan itu untuk mengantar Ye Yin ke ruangan tamu. Lalu menaruh barang-barang disana yang langsung didengarkan dan dituruti oleh mereka.


"Baik, Nona, Aku akan menunggumu di sana, cepat lah datang," ucap Ye Yin yang langsung pergi perlahan dengan di pandu oleh pelayan tadi. Setelah itu, tibalah giliran Jesslyn untuk menyelesaikan iti. Tentunya, Jesslyn yang harus mengalah. Karena Jesslyn memang salah bersikap seperti itu terhadap orang yang peduli dan sayang padanya.


Lalu pintu terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya. Terlihat gagah dengan sedikit keriput. Melihat itu, Jesslyn segera masuk dan memeluknya.


"Kakek, Aku sangat merindukanmu," ucap Jesslyn sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Langsung saja dibalas dengan lembut oleh panglima perang Guan.


"Hmph kau merindukanku, tapi tidak mengunjungiku," Sahut panglima perang Guan sambil mengalihkan pandangannya.


"Astaga, apa dia marah?lucu sekali," pikir di benaknya benaknya sambil terkekeh.


"Bukannya cucu ini tidak mau mengunjungi kakek. Tapi, cucu ini dikurung di sana, dilarang pergi kemana pun, dan diperlakukan secara tidak pantas. Bahkan cucu ini diancam jika berkunjung ke kakek dan mengadu, cucu ini akan dibuang ke tengah lautan," ucap Jesslyn dengan menceritakan semua yang di alami Jesslyn selama berada di sana. Walau ada beberapa yang tidak sesuai.


"Tidak salahkan? mereka memang memperlakukan, Jesslyn dengan kasar. Bahkan menganiyayanya. Ck, tidak mungkin, Aku diam saja bukan? setindaknya, kakek harus tau kenyataan pedih yang di alami cucunya.


"Mereka berani! jangan cemas cucuku, kakek akan mencari keadilan untukmu. Mereka yang memperlakukan cucu kesayanganku satu-satunya dengan tidak pantas akan kubuat mereka menderita!." sahut panglima perang Guan dengan amarah bergejolak.


"Lalu, bajing*n itu! sebuah kesalahan menitipkanmu padanya!! cucuku, maafkan kakek. Sekarang juga kakek akan kesana untuk mengambil hak asuhmu!" ucap panglima perang Guan dengan perasaan campur aduk.


"Ya, tidak masalah, kek. Terimah kasih sudah peduli padaku. Tapi, kakek tidak perlu repot-repot melakukan itu, Aku, sudah memutuskan ikatan dengan dengan keluarga busuk itu. Sekarang, Aku, berniat tinggal bersama kakek. Boleh kan kek?" sahut Jesslyn.


"Cucuku, kau sangat pintar,. Memang seharusnya cucuku seperti ini, berani dan cekatan. Haha, tentu saja kau boleh tinggal selama yang kau mau, cucuku sayang," sahut panglima perang Guan dengan senang hati sambil memeluk Jesslyn erat.


Usai berbaikan, Jesslyn dan panglima perang Guan menghabiskan waktu cukup lama untuk berbincang-bincang, saling bersenda gurau, dan tertawa lepas sambil melepas kerinduan mereka.


Bersambung~


----------Author Massage-----------


Seperti biasa jangan lupa di---


-LIKE(gratis)


-COMENT(Berikan pendapatmu)


-AND VOTE(harus dong)


Dukung terus karya author oke see you all~