
Alun - Alun Kota Peiyang, Negeri Kerajaan Qi Jin
"Master! lihat itu, indah sekali!" ucap Hua dengan gembira sambil menarik tangan Jesslyn menuju tempat yang ia tuju.
"Hua, kau membawaku kemana?" sahut Jesslyn yang tengah pasrah mengikuti Hua yang kegirangan.
"Ah, kalian tunggu, Aku!" ucap Bai sambil berlari menyusul Jesslyn dan Hua.
"Hosh, hosh, kenapa mereka cepat sekali!" ucap Bai berhenti sejenak dengan nafas yang tak beraturan. Sebelum kemudian, Bai segera bergegas pergi menyusul Jesslyn dan Hua. Namun, tak ada satu pun tanda-tanda kehadiran mereka. Bai terdiam sejenak sambil berpikir.
"Celaka, Aku kehilangan jejak mereka," pikir Bai di benaknya sambil duduk termenung di pojokkan jalan sekitar alun-alun kota.
Dengan suasana hati yang kesal sekaligus kesepian, Bai terus termenung dan diam bak orang yang kehilangan tujuan hidupnya. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Sebuah kereta berhenti tepat di hadapan Bai. Melihat itu, Bai memerhatikan kereta itu dengan seksama. Sampai akhirnya keluar seorang gadis remaja seumuran dengannya tengah turun dari kereta. Gadis itu tak lain, Yun He yang diam-diam keluar lagi tanpa ijin dari istana dengan di temani dayang sekaligus pengawal pribadinya.
"Kita harus berhenti melakukan ini, tuan putri. Jika sampai ketahuan yang mulia kaisar, beliau akan marah besar," ucap seorang dayang sekaligus pengawal Yun He.
"Sudahlah, Jia, kita tidak lama kok. Lagi pula kan ada kau di sisiku. Jadi, Aku tak perlu cemas karena kau akan melindungiku, benar bukan? Jia?" sahut Yun He tersenyum penuh arti.
"Ya, tentu saja, Aku akan selalu melindungimu, tuan putri. Tapi, kit-" ucap dayang Jia lagi yang di potong oleh Yun He.
"Shhhh, diamlah, Jia, ini tidak akan lama kok," ucap Yun He dengan wajah seyakin mungkin.
"Huft, baiklah, tuan putri. Ini adalah yang terakhir kaliya. Kita tidak boleh melakukan ini lagi. Lalu kita juga tidak boleh berlama-lama di sini, tuan putri sudah harus kembali sebelum pesta pertunangan putra mahkota dimulai," sahut dayang Jia sambil menghela napas pelan.
"Ya, Aku mengerti. Jadi, ayo pergi!! Aku ingin makan kue beras yang di sana!" ucap Yun He sambil turun dari kereta dan berlari dengan lincahnya menuju penjual kue beras.
"Tuan put- Nona!!" ucap dayang Jia sambil berlari menyusul Yun He.
Sementara Bai yang sedari tadi memerhatikan dalam diam.
"Apa mereka seorang bangsawan? Tapi, mengapa mereka terlihat aneh, tidak seperti bangwasawan pada umumnya," pikir Bai di benaknya sambil menatap aneh ke arah Yun He dan dayangnya, Jia.
"Tuan put- Nona, tunggu saja di kereta. Biar aku yang membelinya," ucap dayang Jia.
"Ya, cepatlah, jangan lama," sahut Yun He sambil berjalan kembali ke keretanya.
Sebelum itu, Yun He sempat melirik ke arah Bai yang sedari tadi memerhatikannya dalam diam.
"Ada apa dengan orang aneh itu? kenapa dia terus melihatku?" pikir Yun He merasa tak nyaman di benaknya. Bai yang menyadari reaksi Yun He, seketika memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Barusan, Aku tak salah lihat, dia melihat ke mari?" pikir Bai di benaknya sambil melirik Yun He lagi membuat pandangan mereka bertemu.
"Ada apa dengannya? kenapa dia melihatku terus? apa jangan-jangan, dia penguntit!?" pikir Yunhe di benaknya sambil menatap tak suka ke arah Bai.
"Apa-apaan reaksinya itu! Jangan bilang dia salah paham mengira aku orang aneh?" pikir Bai di benaknya.
"Tidak! Aku tak bisa berlama-lama di sini, dia akan terus salah paham. Sepertinya, Aku harus segera menemui master sekarang. Sebelum aku benar-benar kehilangan jejak mereka," pikir Bai di benaknya sambil beranjak bangkit dari posisi duduknya dan berjalan pergi dengan tergesa-gesa.
"Ah, penguntit itu, dia pergi," ucap Yun He sambil memerhatikan Bai yang berjalan pergi sampai menghilang dari pandangannya.
"Tuan putri, Apa yang sedang kau lakukan? bukankah kubilang tunggu di kereta?" ucap dayang Jia yang datang menghampiri Yun He sambil membawa dua kue beras di tangannya.
"Ah, ya, maaf. Aku sedang tak fokus tadi," sahut Yun He sambil mengambil satu kue beras dan memakannya. Lalu perlahan masuk ke dalam kereta bersama dayangnya Jia.
"Hua, apa, kita melupakan sesuatu? ucap Jesslyn sambil mengecek barang-barangnya.
"Apa itu, master?" sahut Hua bingung membuat Jesslyn menggeleng pelan.
"Tidak ada, Aku, hanya merasa seperti melupakan sesuatu.Tapi, Aku, tak tahu apa itu. Lupakan saja, mungkin cuman perasaanku," ucap Jesslyn lagi sambil mengajak Hua untuk menyudahi berkeliling dan membawanya seperti yang di janjikan.
"Eh, tunggu master! Bai, kita kehilangan dia!" ucap Hua panik.
"Ah, benar! kita melupakannya!" sahut Jesslyn tak kalah panik.
Tidak berlangsung lama, terdengar suara panggilan seorang tak asing di telinga mereka. Sontak saja Jesslyn dan Hua langsung berbalik dan memastikan. Sesuai pikiran orang itu tak lain adalah Bai yang tengah berlari seperti di kejar sesuatu.
"Hosh, hosh, master! Hua! kalian tega sekali padaku!" ucap Bai yang perlahan menghampiri dengan lemas. Sementara Jesslyn dan Hua yang menahan tawanya karena kasihan pada Bai, menghiburnya dan memberikan beberapa permen.
"Maaf, Bai, kami benar-benar melupakanmu. Ini sebagai gantinya, Aku, memberikanmu permen susu," ucap Hua sambil memberikan dua permen kepada Bai.
"Apa kau bilang! kau pikir bisa menyogokku dengan sebuah permen? sahut Bai kesal.
"Ambil lah, Bai, permen itu sangat manis. Kau akan menyukainya," ucap Jesslyn yang setuju dengan Hua.
"Ma-Master, bahkan kau juga?" sahut Bai sambil mengambil permen yang di berikan oleh Hua dan langsung memakannya.
"Bagaimana? enak bukan?" ucap Hua kepada Bai.
"Ya, terserahmu!" sahut Bai dengan kesal. Membuat Jesslyn dan Hua yang melihat itu terkekeh akan tingkah lelaki muda di hadapannya ini.
"Baiklah, cukup untuk hari ini. Sekarang ayo, Aku, sudah menyewakan sebuah rumah sementara di sekitar sini," ucap Jesslyn membuat Bai dan Hua gembira dan mengikuti Jesslyn dengan patuh.
Tidak memakan waktu lama, mereka sampai pada sebuah rumah sederhana tak jauh dari kediaman panglima perang. Jesslyn sengaja memilih rumah yang dekat dengannya supaya bisa memastikan keamanan kedua muridnya.
"Mulai sekarang, kalian tinggal di sini untuk sementara waktu. Mengenai makanan dan minuman telah aku siapkan di dalam. Juga beberapa pakaian untuk kalian kenakan dan jangan cemas, Aku akan mengunjungi kalian jika ada waktu. Terakhir, jangan keluyuran sembarangan. Jika, kalian membutuhkan sesuatu kirimi aku surat melalui burung yang ada di halaman belakang rumah kalian. Apa kalian mengerti?" ucap Jesslyn kepada Bai dan Hua dengan di jawab anggukkan patuh oleh keduanya.
"Ya, master! kami mengerti!!" sahut keduanya cepat.
"Baiklah, Aku harus kembali sekarang dan jangan lupakan peringatanku," ucap Jesslyn lagi dengan di jawab patuh.
"Kami mengerti, sampai jumpa master!" sahut Bai dan Hua patuh. Membuat Jesslyn yang melihat itu tersenyum kecil ke arah keduanya sebelum akhirnya menghilang dari tempat itu.
Bersambung~
-----------Author Massage----------
Seperti biasa jangan lupa di---
-LIKE(gratis)
-COMENT(Berikan pendapatmu)
-AND VOTE(harus dong)
Dukung terus karya author oke see you all~