The Devil's Queen

The Devil's Queen
Chapter 36



Gang Daerah Terpencil Kota Peiyang


"Fan! Bai! Hua! di mana kalian!!?" teriakkan Jesslyn sambil melihat-lihat sekitar dengan raut wajah cemas dan marah.


Sebelum itu, beberapa menit yang lalu.....


"Hehe, Aku memang jenius mau di kehidupanku yang lalu atau sekarang," ucap Jesslyn tersenyum penuh arti di benaknya.


Setelah pergi dari kediaman panglima perang, Jesslyn terus melamunkan beberapa hal aneh dan merencanakan semua itu di benaknya. Tak terasa sudah begitu lama ia tenggelam dalam pikirannya. Sampai tak menyadari kalau sedikit lagi ia akan tersesat di daerah terpencil. Namun, seperti biasa ketika ia sedang melamun sambil berjalan, ia selalu menabrak seseorang. Seperti kejadian satu ini.


/Bruk.


"Argh," jeritan Jesslyn lagi-lagi menabrak seseorang.


"Kau tak apa, Nona?" ucap seorang pria bertudung hitam sambil mengulurkan tangan ke arah Jesslyn yang tengah terduduk di tanah dengan posisi konyol.


"Ah, Ya, Aku tak apa," sahut Jesslyn segera bangkit sambil memohon maaf atas kecerobohannya. Dengan di beri anggukan kecil oleh pria bertudung itu. Lalu ketika Jesslyn hendak bangkit, ia sempat melihat gambar tato kuno pada telapan tangan pria bertudung itu. Selain itu, saat bertabrakan sebelumnya Jesslyn juga sempat mencium aroma asap berasal dari tubuh pria bertudung itu.


"Ya, tak masalah, Nona," ucap pria bertudung itu seolah menyadari sesuatu dengan cepat menarik uluran tangannya kembali.


"Ka-" ucap Jesslyn yang terpotong begitu pria bertudung itu langsung ijin pamit dan ingin pergi mengurus sesuatu.


"Maaf, Nona, Aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting yang ingin kulakukan," ucap pria bertudung itu lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Jesslyn.


Mendengar hal itu, Jesslyn lantas berbalik dan ingin menanyakan sesuatu. Namun, pria bertudung itu tak lagi kelihatan.


"Ah, dia pergi, padahal aku ingin menanyakan sesuatu. Sudahlah, Aku tak perlu tau masalahnya," ucap Jesslyn yang juga segera pergi dan berjalanan ke arah yang berlawanan.


"Tapi, apa yang di lakukannya di daerah terpencil ini? dia sangat mencurigakan," pikir Jesslyn di benaknya sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.


"Yak, bukan urusanku. Lalu, Aku harus menghentikan kebiasaan burukku ini! oh astaga, Aku tak tahu mengapa akhir-akhir ini aku sering menabrak seseorang. Sial sangat memalukan," ucap Jesslyn kesal lalu menghela napas pelan dan melanjutkan jalannya.


Beberapa saat kemudian, Jesslyn sampai pada sebuah gang. Tanpa pikir panjang Jesslyn langsung saja masuk ke dalam gang itu dan mendapati banyak hal yang membuatnya terkejut sekaligus marah dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Mengesampingkan semua itu, Jesslyn saat ini telah sampai pada sebuah gudang kecil tak lain tempat tinggal ketiga sosok yang dicemaskannya. Namun, tingkat kecemasan Jesslyn naik begitu mendapati sebuah gudang yang telah ambruk dengan asap di sekelilingnya.


"Fan! Bai! Hua! di mana kalian!!?" teriakkan Jesslyn sambil melihat-lihat sekitar dengan raut wajah cemas dan marah.


Dengan perasaan yang campur aduk, Jesslyn mencari secara membabi buta pada semua tempat yang ada di dalam gang itu. Perasaan Jesslyn semakin tak tenang, ia tak tahu harus mencari di mana lagi. Hingga akhirnya sebuah suara yang tampak tak asing terdengar memanggilnya. Sontak saja itu membuat mata Jesslyn mengarah pada asal suara itu dan mendapati dua sosok yang dikenalnya.


"Bai! Hua!" Teriak jesslyn sambil menjerit dan segera berlari ke arah keduanya.


"Master!" Jeritan Hua sambil menghampiri bersama Bai. Sontak saja Hua langsung memeluk Jesslyn erat dengan isakan tangis yang amat deras.


"Bai, Hua, Kalian tidak apa-apa bukan? Apa kalian terluka? atau ada yang sakit?" Jesslyn melontarkan beberapa bertanyaan yang hanya di balas gelengan pelan oleh keduanya.


"Jadi, kenapa kalian menangis? Apa kalian takut? tenanglah ada Aku di sini bersama kalian sekarang," ucap Jesslyn sambil menenangkan Hua, sementara Bai yang sedari tadi terdiam tak mengucapkan sepatah katapun.


"Master, Kami baik-baik saja. Tapi, Fan, di-dia," sahut Hua dengan isakan tangis yang semakin deras. Membuat Jesslyn bingung dan meminta penjelasan kepada Bai, tapi nihil. Karena Bai terus terdiam sambil gemetar hebat. Seolah habis melakukan sesuatu yang salah, membuat Jesslyn curiga dengan sikapnya yang demikian berbeda.


Bersambung~


-----------Author Massage----------


Seperti biasa jangan lupa di---


-LIKE(gratis)


-COMENT(Berikan pendapatmu)


-AND VOTE(harus dong)


Dukung terus karya author oke see you all~