The Devil's Queen

The Devil's Queen
Chapter 39



Usai bertemu dengan Bai dan Hua, Jesslyn kembali pulang ke kediaman panglima perang. Seperti biasa, Jesslyn kembali lewat halaman belakang. Entah sejak kapan menjadi jalur favoritnya.


"Fan, dia sangat malang. Tapi, Aku yakin dia seorang anak yang hati-hati dan tidak ceroboh. Bagaimana bisa anak yang seperti itu mengalami hal seperti ini?" pikir Jesslyn di benaknya sambil berpikir keras.


"Ah, pria itu! benar! pria bertudung itu! aroma asap dan tato di tangannya itu, tidak salah lagi! semua itu pasti ulahnya!" pikir Jesslyn dengan cepat raut wajahnya berubah.


"Sial*n! brengs*k keji! Aku tak peduli siapa kau. Jika, Aku, bertemu denganmu lagi, akan mencabut nyawamu saat itu juga," ucap Jesslyn geram sambil menatap lurus dengan mata dinginnya yang sedingin es. Tatapannya seolah bisa membekukan siapapun yang melihatnya.


"Nona, Jesslyn? apa itu anda?" ucap seorang pelayan yang tengah berjalan menghampiri.


"Ya, ada apa?" Jesslyn menyahut sambil menoleh ke arahnya.


"A-Anu, Nona. Tuan meminta, Nona, untuk segera bersiap-siap," ucap pelayan itu dengan sedikit gugup.


"Ya, Aku akan segera ke sana," sahut Jesslyn dingin sambil berbalik dan perlahan mulai memasuki ruangannya.


"Nona, terlihat sedang marah. Apa cuman perasaanku saja?" pikir pelayan itu sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.


"Hm, Acara ya. Di sana, pasti akan ramai bukan?" ucap Jesslyn disertai senyuman liciknya.


Beberapa jam telah berlalu. Waktu telah menunjukkan pukul 19.00 pm dan pesta pertunangan putra mahkota Gu dimulai tepat pada pukul 20.30 pm. Jesslyn mulai bersiap dengan majangkan deretan benda-benda yang di sebut make up di jaman dulu beserta kotak perhiasan yang selalu di jaga oleh Jesslyn, pemilik tubuh sebelumnya.


"Oke, semuanya telah siap. Saatnya, Aku mulai!" ucap Jesslyn dengan semangat dan mulai menyentuh alat-alat make upnya.


Sementara itu Leon.....


"Entah kenapa sejak datang ke kota ini, Aku sering datang ke mari," ucap Leon sambil memandang kota dari kejauhan.


"Juga tempat ini benar-benar membuatku merasa tak asing, begitupun kota ini. Seolah, Aku, pernah ke mari sebelumnya," ucap Leon lagi.


"Tentu saja, Kau akan merasa tak asing dengan kota ini," ucapan seorang membuat Leon terkejut sekaligus waspada sambil menatap tajam ke aras sekitar.


"Siapa!?" bentak Leon.


"Tenanglah, tidak perlu terkejut seperti itu," sahut seorang pria bertudung yang perlahan menampakkan dirinya dari balik pepohonan tidak jauh dari Leon.


"Ini, Aku, Zayn. Apa kau mengingatku?" ucap pria bertudung itu lagi membuat Leon tiba-tiba merasa sesuatu menembus masuk ke dalam kepalanya.


"A-Apa, si-siapa, k-kau?" Leon menyahut dengan terbata-bata sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Arghh," erangan Leon terjatuh lemas di tanah sambil terus memegangi kepalanya.


Leon merasa sakit yang amat sakit pada kepalanya saat ini. Jika dihitung, ini kali kedua Leon mengalaminya. Seperti sekarang ini, di mana ia mendapatkan sepotong ingatan entah milik siapa dan dari mana. Tiba-tiba datang dan menyalurkannya begitu saja dalam dirinya. Ingatan yang tersalurkan kali ini, sama seperti sebelumnya.


Di mana, itu selalu menampilkan sosok misterius. Tapi sedikit berbeda dengan sebelumnya, kali ini sosok misterius itu tengah bersama dengan seorang pria lainnya yang tengah menyajikan secangkir minuman berwarna merah yaitu darah, kepada sosok misterius. "Terimah kasih, Zayn," sosok misterius itu berucap. "Ya, dengan senang hati, Lord," sahut sosok pria lainnya. Leon tidak bisa mengenali keduanya di karenakan wajah mereka, utamanya sosok misterius yang terus membuatnya penasaran tidak terlihat jelas. Tampilan wajah keduanya samar-samar dalam penglihatan Leon.


"Apa kau mengingatku sekarang?" ucap Zayn sambil menurunkan tudung kepalanya.


"Maaf, Aku, tak begitu mengerti," sahut Leon sambil menoleh ke arah Zayn.


"Haha, lupakan saja ucapanku barusan. Sekarang ini, tidak kah kau penasaran akan sesuatu?" ucap Zayn sambil menampilkan senyumannya.


"Siapa kau sebenarnya? apa tujuanmu ke mari?" ucap Leon menatap tajam ke arah Zayn.


"Hmm, itu bukan pertanyaan yang ku inginkan. Tapi, kalau kau ingin tahu, dengan senang hati, Aku, menjawabnya," sahut Zayn terus menampilkan senyumannya.


"Aku, adalah salah satu dari ras iblis yang tersisa. Tujuan ku ke mari, Kau ingin tahu?" ucap Zayn sambil berjalan mendekat ke arah Leon.


"Maaf, Aku, tak bisa menjawabnya sekarang," ucap Zayn sambil tersenyum penuh arti ke arah Leon yang tengah berhadapan dengannya.


"Apa maksud-" sahut Leon yang di potong dengan cepat oleh Zayn.


"Waktu habis, selamat tinggal," ucap Zayn memakai kembali tudungnya lalu melompat ke langit dan menghilang di udara tipis bagai angin.


"Zayn? Aku merasa tak asing dengan nama itu begitupun dengannya. Kenapa? seharusnya ini pertama kali kami bertemu," pikir Leon di benaknya.


"Lalu, lord Rong, pria itu siapa dia sebenarnya? Aku tidak boleh tinggal diam. Jika, Aku, bertemu denganmu lagi, Zayn. Kau harus menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya dan sekarang," ucap Leon sambil memandang langit sejenak sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.


"Langit sudah gelap, Aku harus kembali menemui gadis itu," ucap Leon sambil melompat ke pohon demi pohon bagai ninja menuju kediaman panglima perang.


Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di sebuah kastil tua.


"Aku akan mengurus semuanya. Jadi, bertahanlah dulu di tubuh roh itu dan tunggu, Aku, akan menyiapkan semuanya dengan sempurna untukmu, lord Rong," ucap Zayn sambil meletakkan sebuah kotak beraura hitam pada sebuah ruangan yang gelap.


Bersambung~


-----------Author Massage----------


Seperti biasa jangan lupa di---


-LIKE(gratis)


-COMENT(Berikan pendapatmu)


-AND VOTE(harus dong)


Dukung terus karya author oke see you all~