
Aula Utama Istana Kerajaan Qi Jin
Jesslyn bersama panglima perang Guan perlahan memasuki aula Istana dengan tenang. Terlihat dari aura anggun yang terpancar dari Jesslyn begitupun panglima peeang Guan, kharismanya tak kalah hebat. Namun, kebanyakan perhatian justru berpaku pada Jesslyn yang tengah berjalan anggun sembari menunjukkan wajah datarnya.
"Hei! lihat itu!" ucap salah satu tamu undangan.
"Cantik sekali," ucap tamu lainnya.
"Siapa dia? Aku, baru pertama kali melihatnya," ucap tamu lainnya.
"Ya, Aku, juga. Dia pasti salah satu putri kerajaan tetangga, anggun sekali," sahut tamu lainnya.
"Tapi, dia datang bersama panglima Guan, apa hubungan mereka!?" sambung tamu lainnya.
Lalu masih banyak lagi ucapan-ucapan yang dilontarkan para tamu undangan. Namun, Jesslyn mengabaikan semuanya dan bersikap acuh tak acuh. Terbukti dari ekspresi Jesslyn saat ini yang hanya fokus berjalan bersama panglima perang Guan.
"Cucuku, mereka membicarakanmu, ternyata cucu manisku ini populer juga," goda panglima perang Guan sembari berbisik pelan.
"Ah, kek! hentikan itu! Aku jadi malu kan," sahut Jesslyn juga berbisik sembari menundukkan wajahnya.
"Haha, kau memang manis cucuku. Sekarang, mari kita duduk dulu," ucap panglima perang Guan sembari mengajak Jesslyn menuju meja vip yang telah disiapkan untuk mereka.
Jesslyn duduk dengan tenang, sementara kakeknya, panglima perang Guan di ajak pergi oleh salah satu kasim istana.
"Sahabatku, Guan, mari pergi sekarang, Kaisar telah tiba," ucap seorang kasim kerajaan sembari menghampiri dan menempuk pundak panglima perang Guan.
"Baiklah, kasim Luo, ayo pergi," sahut panglima perang Guan.
"Cucuku, kau tunggu di sini. Kakek ingin pergi menyapa kaisar dulu," ucap panglima perang Guan dengan di balas anggukkan patuh oleh Jesslyn. Sebelum pergi, kasim Luo nampak tersenyum ramah ke Jesslyn dan Jesslyn juga membalas senyumnya.
Lalu panglima perang Guan berjalan pergi bersama kasim Luo meninggalkan Jesslyn.
"Kasim Luo? sahabat?" pikir Jesslyn di benaknya. Lalu Jesslyn memandang sekitar dan menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Seketika muncul senyuman kecil di wajahnya. Hal menarik itu tak lain adalah Ming Ruyue dan anaknya, Lina.
Sementara itu, percakapan antara panglima perang Guan dan kasim Luo.
"Hei, Luo, kau harus menghentikan sikap kekanak-kanakkanmu itu. Sadarlah, kita pria tua yang sudah berumur," ucap panglima perang Guan.
"Haha, Guan, justru itu kita harus lebih bersemangat, agar kita bisa lebih awet muda. Kau harus mencobanya," sahut kasim Luo sembari menepuk-tepuk punggung panglima perang Guan.
"Hentikan itu, jangan mengajakku menjadi sepertimu," ucap panglima perang Guan.
"Hahaha, Aku, bercanda. Kau sensitif sekali, Guan," sahut kasim Luo.
"Tapi, Guan, gadis kecil yang bersamamu itu siapa? wajahnya terlihat familiar," ucap kasim Luo lagi sembari menatap panglima perang Guan dengan penasaran.
"Ah ya, dia banyak berubah dan tumbuh dewasa, tidak heran kau pun tak mengenalinya sekarang. Dia adalah cucuku satu-satunya, Jesslyn. Jadi, Luo, kau mengingatnya sekarang?" sahut panglima perang Guan membuat kasim Luo terkejut setengah mati.
"Apa! dia adalah cucumu, Jesslyn!? anak penakut yang pernah kulihat itu! benarkah itu, Guan!?" sahut kaisar Luo menatap tak percaya ke arah panglima perang Guan.
"Ya, kau pernah bertemu dengannya sekali saat kau mengunjungiku, tapi barusan ka-" sahut panglima perang Guan yang langsung di potong oleh kasim Luo.
"Ternyata benar, wajahnya juga sangat mirip dengan anakmu, yuelan. Seharusnya, Aku, menyadarinya saat itu juga. Haish," ucap kasim Luo sembari memainkan jenggotnya.
"Kasim Luo! panglima Guan!" bentak seorang pria paruh baya dengan atribut mewah sembari menghampiri kasim Luo dan panglima perang Guan dengan angkuh.
"Menteri Wang?" ucap kasim Luo.
"Kenapa gerakan kaliam lama sekali, apa kalian mau membuat Yang Mulia Kaisar menunggu?" ucap menteri Wang membuat panglima perang Guan mengkerinyitkan keningnya.
"Menteri Wang, kami baru saja-" sahut panglima perang Guan yang dipotong oleh kasim Luo.
"Maaf, menteri Wang, kami keasyikkan mengobrol sampai lupa waktu," sahut kasim Luo cepat.
"Luo, kau-" ucap panglima perang Guan yang lagi-lagi dipotong oleh kasim Luo.
"Hm, segeralah menghadap Yang Mulia Kaisar, jangan membuatnya menunggu," sahut menteri Wang acuh tak acuh sembari berjalan pergi meninggalkan kasim Luo dan panglima perang Guan. Lalu bergabung bersama tamu undangan.
"Dia selalu tegas ya, tidak pernah berubah," ucap kasim Luo sembari melihat kepergian menteri Wang.
"Luo, kau tidak perlu merendahkan dirimu untuk orang sepertinya, cobalah untuk tidak merendahkan dirimu lagi," ucap panglima perang Guan sembari berjalan meninggalkan kasim Luo.
"Kau tidak pernah berubah, Guan, selalu peduli kepada orang terdekatmu," kasim Luo bergumam sembari menyusul panglima perang Guan dan mereka bergegas menuju Kaisar Huang,
Sementara itu, Jesslyn.....
"Hm? mereka juga datang? haha ternyata mereka masih punya cukup nyali untuk bertemu denganku," pikir Jesslyn sembari tersenyum kecil ke arah Lina yang tengah memelotinya saat ini.
"Apa? dia juga datang? sial*n, ku pikir dia tidak akan datang," pikir Lina menatap tak suka ke arah Jesslyn. Begitupun dengan Ming Ruyue yang entah karena apa terus memelototi Jesslyn dengan tajam. Menyadari reaksi mereka, Jesslyn bangkit dari duduknya sembari berjalan menghampiri Ming Ruyue dan Lina.
"Hei, dia berdiri," ucap seorang tamu.
"Arah itu, dia menuju ke tempat jendral Hang," sambung tamu lainnya.
"Apa yang akan dia lakukan?" ucap tamu lainnya.
"Hai, pel*cur dan jal*ng, bagaimana kabar kalian sekarang? Aku, lihat kalian tenang-tenang saja, apa kalian menganggap remeh peringatanku?" ucap Jesslyn tersenyum kecil.
"Apa kau bilang, jal*ng? seberapa hebat kau sampai berani mengancam kami?" sahut Lina tersenyum meremehkan.
"Jal*ng, lepaskan sekarang juga, pakaian yang kau kenakan itu," ucap spontan Ming Ruyue.
"Apa?" sahut Jesslyn spontan.
"Aku, bilang lepaskan itu sekarang juga!! Itu adalah milikku!!" bentak Ming Ruyue menggema ke seluruh aula Istana. Membuat seluruh tamu undangan memandang ke arah mereka.
"Ibu, hentikan ini, kita dilihat banyak orang," ucap Lina merasa tak nyaman sembari menyentuh Ming Ruyue.
"Lepaskan!" sahut Ming Ruyue sembari mendorong Lina hingga terjatuh.
"Wah ada apa itu?" ucap seorang tamu.
"Bukannya itu adalah nyonya besar Ming?" ucap tamu lainnya.
"Hei, ada pertengkaran," ucap tamu lainnya.
Mendengar bisikan sana sini oleh tamu undangan, Lina menjadi malu dan mulai merencanakan sebuah taktik untuk menyelamatkan harga dirinya. Namun, sebelum dia bisa memulai taktiknya, semuanya sudah di selesaikan duluan oleh Jesslyn.
"Kau!! gadis jal*ng, ku bilang lepaskan!!" ucap Ming Ruyue sembari berlari menyerang Jesslyn. Sontak saja itu membuat kegaduhan. Di mana semua tamu memandang tak percaya Ming Ruyue yang terkenal baik hati dan ramah. Jesslyn yang melihat Ming Ruyue hendak menyerangnya, menghindar dengan santai.
"Ming Ruyue, tak kusangka kau ingin menunjukkan watak aslimu di sini, ku pikir kau akan lebih bijak dan meneruskan aktingmu," ucap Jesslyn tersenyum kecil sembari memandang rendah Ming Ruyue. Begitupun dengan para tamu lainnya, mereka terkejut akan apa yang baru saja mereka lihat.
"Siapa yang berani membuat keributan di hari bahagia ini!" bentak Kaisar Huang sembari berjalan mendekat bersama panglima perang Guan, kasim Luo, Ratu Wen, beserta pangeran dan putri kerajaan tak lain Huang Yun He.
Bersambung~
-----------Author Massage----------
Seperti biasa jangan lupa di---
-LIKE(gratis)
-COMENT(Berikan pendapatmu)
-AND VOTE(harus dong)
Dukung terus karya author oke see you all~