Sundari

Sundari
Akhir Kisah Sundari (The End)



“Bagaimana cara aku mengalahkannya Kek?”


“Kau harus ke goa itu dan bacalah mantra untuk memanggil dirinya, setelah Durmo datang bacalah mantra yang telah aku berikan kepadamu, Durmo akan membacakan mantra itu juga di situlah yang nanti akan terpilih siapa pemenangnya, malam ini malam jumat keliwon malam yang pas untuk mengalahkan Durmo.” Pungkas Baskoro yang memberitahu cara untuk mengalahkan Durmo.


“Baiklah Kek jika memang begitu caranya Sundari akan menjalankan apa yang kakek perintahkan.”


“Bagus Sundari aku yakin kau dapat mengalahkannya Sekarang aku dapat beristirahat dengan tenang.


Di malam harinya Sundari mulai berjalan menuju goa, di mana tempat dirinya pernah memanggil Durmo.


Sundari menyelusuri gelapnya malam di dalam hutan itu, ia pun terus-menerus berjalan hingga satu jam berjalan Sundari telah sampai di depan mulut goa.


Sundari yang hanya membawa lampu obar sebagai penerangan dirinya mulai memasuki doa tersebut.


Sundari pun duduk di atas batu besar yang terdapat di dalam goa tersebut.


Dengan mata tertutup Sundari mulai membacakan mantra untuk memanggil Durmo mulut Sundari pun terus menerus berkomat-kamit sampai Durmo datang menghampiri dirinya.


Tidak lama kemudian angin kencang pun terasa menghembus tubuh Sundari.


Sosok bayangan hitam mulai muncul, lama kelamaan sosok itu berubah menjadi kuntilanak Durmo.


“Ada apa Sundari kau memanggilku?” tanya Durmo.


“Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu mengapa kau bunuh Rian!” Bentak Sundari.


“Karena dia telah mengetahui diriku di dirimu Sundari,”


“Dia tidak bersalah mengapa kau bunuh Dia?” 


“Aku tidak ingin orang lain tahu tentang diriku yang berada di tempatmu Sundari.”


“Hanya dengan hal itu sampai hati kau membunuhnya!” bentak Sundari dengan amarah.


“Hi-Hi-Hi, kau sudah berani membentak-bentakku Sundari. Kau tidak tahu aku siapa!”


“Persetan denganmu Durmo, aku sangat kecewa kepadamu kau membunuh orang yang tidak bersalah!”


“Itu bukan urusanku, kau yang akan aku kuasai Sundari, mencarikan tumbal untukku.”


“Tidak Durmo, sudah cukup semua kau atau aku yang terkuat,” sahut Sundari dengan senyumnya.


“Cobalah kalau kau bisa Sundari.”


Durmo mulai membacakan memantranya. Mantra yang sama yang di berikan olah Baskoro.


“Dhuh jiwo peteng, pasrahna marang aku, aku iki pimpinanmu, sing kuwat bakal menang, mula pasrahna marang aku (Wahai jiwa yang gelap tunduk kepadaku, aku pemimpinmu, yang kuat dialah yang akan menang maka tunduklah kepadaku).”


Sundari beserta Durmo sama-sama membacakan mantra itu sampai di antara mereka ada yang kalah.


Berulang-ulang kali  Durmo dan Sundari membacakan mantra itu. 


Hingga darah segar mengalir melalu celah lubang hidung Sundari.


Saat darah yang mengalir dari lubang hidung Sundari, ia pun merasakan tubuhnya menjadi sangat lemas.


Hingga akhirnya Sundari yang tadinya berdiri dengan tegap kini menjadi terduduk.


Durmo  tertawa mana kala melihat Sundari yang tertunduk di hadapannya.


“Sundari aku berikan kau kesempatan! Kau mau jadi pengikutku atau kalau tidak kau yang akan mati!” ancam Durmo.


“Tidak aku tidak mau, jadi pengikutmu Durmo kau yang harus tunduk kepadaku!” ucap Sundari dengan sangat yakin.


Sundari yang mengumpulkan Semua tenaganya pun mencoba untuk bangkit, tekat Sundari sangat kuat Sehingga membuat dirinya dapat bangkit.


Sundari mencoba berdiri kembali sembari membacakan mantra itu.


Energi yang besar di hasilkan oleh Sundari ketika dirinya kembali membaca mantra. Durmo pun merasakan kesakitan yang begitu sakit di saat Sundari membacakan mantra itu.


“Aku menyerah Sundari jangan kau bacakan mantra itu lagi,” ujar Durmo yang menerima kekalahannya 


Kini Sundarilah pemenangnya yang mampu menguasai Durmo.


“Baiklah kalau begitu Durmo, jangan kau muncul kembali di hadapanku jika kau tidak mau aku bacakan mantra ini kembali,” ancam Sundari.


“Baiklah Sundari aku akan mengikuti perintahmu, aku akan kembali ke alamku sampai seseorang kembali memanggilku,” sahut Durmo yang tiba-tiba menghilang. 


Durmo pun tidak pernah muncul kembali di hadapan Sundari.


Beberapa bulan kemudian usai Sundari mengalahkan kuntilanak Durmo itu, Sundari menjalani hidupnya dengan normal bahkan Sundari berbaur dengan para warga yang ada di desa.


"Mbak Sun," panggil seseorang dari balik pintu.


"Iya sebentar," ucap Sundari dari dalam rumah.


Sundari membuka pintu. "Ada apa Asih?" tanya Sundari.


"Mbak Sun aku mau ke kota buat beli bahan, tapi ini pertama kalinya aku pergi. Mbak Sun kan pernah kerja di kota boleh nggak Asih minta temani?" pinta Asih.


"Ya boleh. Kapan rencananya mau ke kota?" 


"Besok lusa Mbak Sun, gimana bisa gak?"


"Bisa kok," sahutnya.


"Ya sudah nanti Asih jemput ya Mbak Sun," 


"Iya."


Asih pun pergi meninggalkan rumah Sundari.


Kini Sundari memilih pulang ke desanya dulu, rumah almarhumah neneknya yang sempat terbengkalai itu sekarang menjadi lebih hidup.


Para warga desa yang dulu pun sudah lupa dengan kejadian Sundari.


Kini rumah kecil itu dimanfaatkan Sundari untuk membuka warung kecil-kecilan, mengingat di desanya itu masih sedikit warga yang berjualan.


Sundari menjual beberapa bahan pokok seperti beras, minyak , telur dan lainnya Sundari juga membuka warung kopi di sebelahnya. Hal ini terinspirasi dari bu Tinah yang memiliki warung yang lengkap.


"Bi Sun pesan kopi ya," seorang pria paruh baya datang ke warungnya.


"Iya tunggu sebentar pak," sahut Sundari sembari mengolah kopi.


Warung milik Sundari cukup ramai pembeli mulai dari anak muda, ibu-ibu hingga anak-anak.


"Mbak Sundari saya beli berasnya 2 kilo mbak," ucap seorang lagi yang datang.


"Wah sekarang warungnya makin rame mbak."


"Iya alhamdulillah," sahutnya.


"Oh iya Mbak Sundari dulu pernah kerja di kota ya, sebagai apa Mbak?"


"Saya dulu jadi pembantu bu, kebetulan saat itu dapat rumah orang kaya."


"Wah enak dong gajinya pasti gede. Aku jadi mau kerja juga."


"Ah ... Gak juga Bu. Tap Alhamdulillah cukup."


"Ini berasnya bu."


"Sama telornya juga,"


"Berapa?"


"5 biji aja deh," ucapnya.


Pembeli di warung Sundari semakin ramai hingga Sundari sendiri kewalahan.


Hingga langit hampir gelap Sundari mulai menutup warungnya.


Walaupun hidup dalam kesendirian setidaknya Sundari masih bisa hidup normal seperti impiannya sedia kala.


Dua hari berlalu, Sundari memenuhi janjinya kepada Asih untuk menemaninya mencari bahan untuk melengkapi jualannya.


Asih sendiri adalah gadis mandiri seperti Sundari, Asih menompa hidupnya dengan berjualan baju keliling.


Sundari mengajak Asih ke tempat grosir pakaian yang harganya cukup murah. 


"Wah Mbak Sun makasih banyak ya sudah mau temani Asih belanja," ucao Asih.


"Sama-sama Asih."


"Mbak Sun kalau kerja di kota ini upahnya besar gak sih?" tanya Asih.


"Yah tergantung Asih, kalau oran kaya saya itu ya gak terlalu besar karena tenaga saya audah tidak terlalu kuat lagi,"  ucap Sundari.


"Mbak Sun kita cari penginapan aja ya , besok pagi baru kita pulang."


"Ya sudah, lagian sebentar lagi gelap."


Asih dan Sundari pun mencari penginapan terdekat agar bisa cepat istirahat.


Sesampainya di penginapan Asih bertanya mengenai hal pribadi Sundari.


"Emm ... Mbak Sun maaf saya mau tanya kata orang-orang Mbak Sun sempat di usir dari desa," tanya Asih.


"Iya. Dulu waktu saya seumuran kamu saya bekerja di kebun teh yang ada di desa. Tapi sekarang kebun tehnya udah gak ada. Saat bekerja saya selalu di ganggu oleh anak pemilik kebun."


"Lalu, suatu hari dia minta tolong kepada saya untuk membereskan barang yang ada di gudang. Saat saya masuk gudang, malah dia ikut masuk dan saya diperkosa  di sana hingga hamil." tutur Sundari.


"Ya Allah Mbak Sun, kenapa gak lapor aja?"


"Jaman dulu saya masih polos, saya di ancam kalau lapor maka nenek saya akan dibunuh olehnya," sahut Sundari.


"Lalu anak Mba Sun sekarang dimana?" 


"Ada kok di tempat lain," sahut Sundari.


“Oh gitu syukur lah, tapi Asih gak nyangka kalau mbak Sun ini kuat banget.”


“Yah kuat gak kuat Asih.”


“Lalu anak dari bos kebun itu dimana Mbak?”


“Saya gak tahu dia dimana sekarang,” sahut Sundari.


Keesokan harinya Sundari dan Asih keluar dari penginapan untuk  bersiap pulang ke desa. Mereka menumpangi bus untuk segera sampai ke desa.


Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam, saat di perjalanan Sundari memandang ke arah kaca jendela dia kembali mengingat masa-masa kelamnya dulu.


Sesekali dia teringat dengan adit anaknya.


‘Sepertinya nanti aku akan mengunjungi kakek dan juga Adit,' batin Sundari.


“Mbak kok melamun?” tanya Asih.


“Gak lagi keingat anak aja,” sahut Sundari.


“Nanti kunjungi aja Mbak. Memang anaknya dimana?”


“Ada sama kakeknya.” 


Mereka pun sampai ke rumah dengan selamat Asih terus berterima kasih kepada Sundari.


Keesokan harinya Sundari bersiap untuk pergi, ia membawa sekeranjang bunga setaman. Sundari terus berjalan jauh dari desanya hingga masuk ke dalam hutan tempat ia duku tinggal.


Hingga sundari sampai di rumah gubuknya itu, Sundari tidak masuk ke dalam rumah itu melainkan berjalan menuju belakang rumah.


Di belakang rumah itu terdapat dua buah nisan bertuliskan Baskoro dan Aditya.


Sundari menabur bunga di atas kedua makam tersebut.


“Tenanglah kalian di sana,” ucap Sundari.


“Kek aku titip Adit ya Kek,” ucap Sundari sembari mengelus nisan bertuliskan nama Aditya.


Selama hidupnya, Sundari sebenarnya sendirian di rumah tua itu yang menemaninya di setiap hari-harinya hanyalah arwah Kuncoro dan anaknya Adit yang meninggal saat dilahirkan.


TAMAT


Hai gaes terima kasih untuk sellu setia membaca cerita ini.


Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaklumi saja ya.


Ambil sisi positif dalam cerita ini dan buang sisi negatifnya.


Terim kasih semuanya.


Nantikan cerita author yang baru lagi ya.