Sundari

Sundari
Kau akan mati



Keesokan paginya seperti biasa Sundari mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka.


Dina berserta Hendra yang masih berada di dalam rumah berdebat masalah Sundari yang Dina ingin dia pergi dari rumah ini.


Sundari yang ingin mengetuk kamar mereka memberitahukan makanan telah siap pun mendengar perdebatan mereka berdua.


Namun Sundari yang mendengarnya hanya tersenyum saja.


“Pokoknya aku ingin Bi Sun itu pergi dari rumah ini, jika kamu tidak mau bicara kepadanya nanti aku yang akan bicara kepadanya!” ancam Dina.


“Iya, iya, iya. Aku akan bicara kepada bi Sun!” ucap Hendra yang menegaskan.


Hendra pun keluar dari kamarnya terlihat Sundari yang telah berdiri di depan kamarnya.


“Sarapannya sudah siap Tuan,” ucap Sundari yang pura-pura tidak mengetahui apa-apa.


“Iya terima kasih Bi, Bi Sun ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.”


Di saat Hendra ingin berbicara ke pada Sundari, Hendra yang menatap pupil mata Sundari tidak bisa berkata-kata.


Sundari yang sedang menatap mata Hendra sembari membacakan mantra untuk Hendra.


Hendra yang terkena pelet Sundari tidak dapat berkata apa-apa tatapannya pun kosong saat itu.


“Ya Tuan, Tuan ingin berbicara apa mengenai saya?” tanya Sundari.


“Oh tidak ada Bi,” ucap Hendra yang telah lupa apa yang ingin dirinya bicarakan kepada Sundari.


“Baik jika begitu, saya permisi ke belakang Tuan melanjutkan pekerjaan saya,” ucap Sundari.


“Iya Bi Sun silakan,” sahut Hendra dengan tersenyum.


Hendra pun masuk kembali ke kamarnya.


Setelah berada di dalam kamar Dina menanyakan kepada Hendra.


“Bagaimana Mas? Apa kamu sudah berbicara kepada bi Sun?” tanya Dina.


“Memang aku ingin bicara apa dengan bi Sun,” ucap Hendra yang telah lupa.


“Kamu aneh Mas, tadi kita telah sepakat untuk memberhentikan bi Sun, tapi tiba-tiba kamu tidak ingat, biarkan aku saja yang bicara nanti.”


“Kenapa kamu sangat membenci bi Sun, bi Sun bekerja dengan baik, dia pun membantu untuk merawatmu kenapa kamu masih saja membencinya,” Hendra yang membela Sundari.


“Mas! Kamu benar-benar aneh! “ bentak Dina.


“Sudahlah aku tidak ingin bertengkar karena hal ini, sebaiknya kita sarapan saja. Aku ingin pergi ke kantor hari ini.”


Hendra pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh Dina ke meja makan.


Sesampainya di meja makan, Sundari membantu Dina menyiapkan makanan untuk Dina.


Sundari pun mencoba untuk menyuapi Dina roti, namun di saat Sundari ingin menyuapi Dina roti Dina menepis itu menyebabkan roti yang oleh Sundari terjatuh ke lantai.


Hai itu di lihat oleh Hendra. Hendra yang melihat perilaku Dina pun sangat marah.


“Sayang! Bi Sun sudah sangat baik merawatmu kepada kamu berperilaku sangat kasar kepadanya!” Bentak Hendra.


“Mas orang ini yang menyebabkan anak kita mati, Iwan mati dan aku hampir celakakan olehnya kamu masih saja membela dia!” ucap Dina dengan nada tinggi.


“Sudah sayang, bagaimana mungkin bi Sun melakukan hal itu?” tanya Hendra.


“Dia punya ilmu hitam Mas,” Dina yang menegaskan kepada Hendra. 


Melihat mereka berdebat di hadapannya Sundari meminta ijin untuk pergi melanjutkan pekerjaannya.


“Saya permisi ke belakang dahulu Tuan,” ujar Sundari yang meninggalkan mereka berdua berdebat.


“Sudahlah aku cape berdebat denganmu terus, sebaiknya aku pergi ke kantor saja,” sahut Hendra


Hendra pun meninggalkan Dina di kursi rodanya.


Dina terdiam ia hanya bisa menangis melihat Hendra yang pergi meninggalkan dirinya.


Sekarang di rumah itu hanya Dina dan Sundari saja, tidak ada yang bisa membantu Dina di kala dirinya ada apa-apa.


Dina yang menjalankan kursi rodanya menuju kamar.


Saat telah sampai di kamar, Dina mencoba berjuang sendiri untuk dapat naik ke kasurnya.


Dina hanya bisa mengandalkan kekuatan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya.


Dengan tertatih-tatih bersusah payah memindahkan dirinya sendiri ke atas kasur.


Walau pun tertatih-tatih Dina berupaya naik ke atas kasur namun akhirnya Dina pun berhasil.


Air mata kesedihan terus menerus menetes di pipinya mana kala ia mengingat dirinya dalam keadaan seperti ini di tambah lagi sikap Hendra yang menurutnya telah berubah menjadi beban batin di dalam hatinya.


Tidak ada yang percaya kepadanya, tidak ada yang bisa membantunya.


Pikirannya pun menemui titik buntu harus ke mana dirinya meminta pertolongan, dua orang tua yang sama pemikirannya dengan Hendra tidak percaya akan hal-hal yang berbau mistik.


Percuma saja Dina bercerita dan mengadu dengan kedua orang tuanya jika mereka pun tidak percaya dengan ucapan Dina.


Saat itu di kala Dina telah berhasil memindahkan badannya ke atas kasur Dina mulai beristirahat, mengistirahatkan beban yang ada di pikirannya saat itu dan juga kesedihannya atas perlakuan Hendra kepadanya.


Dina yang sedang berbaring di kasurnya sayup-sayup kedua matanya mulai mengantuk, di saat Dina mulai ingin tertidur.


Dirinya di ganggu kembali oleh sosok kuntilanak tersebut.


Dina yang merasakan sesuatu yang sedang berjalan di atas tubuhnya.


Dina membuka mata dirinya berteriak histeris namun tidak ada seorang pun yang mendengar kecuali Sundari, namun Sundari yang mendengar teriakkan Dina tidak merespons hanya mengabaikan saja dan tersenyum.


“Kau akan mati,” ucap Sundari tersenyum saat mendengar teriakan dari Dina.


Dina yang sedang di dalam kamarnya tidak dapat berbuat apa-apa di kala sosok kuntilanak itu berada di atas tubuhnya.


Kuntilanak itu mengulurkan kedua tangannya untuk mencekik Dina.


Dina mencoba memberontak namun tidak bisa, kekuatan kuntilanak itu sangat kuat. 


Namun Dina tidak menyerah begitu saja ia masih berusaha melawan kuntilanak itu untuk menyelamatkan dirinya.


Dengan tangan kanannya Dina berusaha menjangkau benda apa saja yang berada di atas meja kamarnya di dekat tempat tidurnya.


Dina pun mendapatkan sebuah gunting, tanpa berpikir panjang Dina menusukkan gunting itu ke tubuh kuntilanak.


Sontak saja, cekikan kuntilanak itu terlepas dari lehernya namun hal yang mengerikan akan terjadi kepada Dina kembali.


Kuntilanak yang bersil ditusuk oleh gunting hanya menyeringai ke arah Dina.


Sang kuntilanak itu mengambil gunting yang menancap di perutnya dan berusaha ingin menusukkan ke dada Dina.


Dina berusa menghentikan kuntilanak itu dengan memegang gunting yang mengarah ke dadanya.


Tenaga kuntilanak itu sangat kuat bagi Dina gunting pun hampir dekat dengan dadanya.


Di situlah Dina merasakan diri akan berakhir untuk selamanya.


Ceklek 


Suara pintu kamar terbuka.


Kedatangan Hendra saat itu begitu tepat bagi Dina.


Namun anehnya Hendra tidak melihat sang kuntilanak yang ingin menusuk Dina dengan gunting.


Hendra hanya melihat Dina yang sedang terbaring di atas kasurnya memegang gunting dan ingin menusukkan ke dadanya.


Sontak saja Hendra yang melihat perbuatan Dina seperti itu berlari menghampiri Dina.


Hendra yang berusaha mengambil gunting dari tangan Dina pun berhasil dan membuangnya ke lantai.