Sundari

Sundari
Rencana Sundari



Mentari pagi telah memancarkan sinarnya menembus celah-celah jendela di kamar Hendra.


“Mas, ayo bangun,” ucap Rini membangunkan Hendra yang masih tertidur.


“Aku masih ingin tidur bersamamu sayang,” ujar Hendra mencium pipi Rini.


“Kamu tidak kerja Mas?” 


“Seperti hari ini aku ingin pergi ke dokter terlebih dahulu.”


“Ke Dokter? Untuk apa kamu sakit Mas?” sahut Rini yang panik sembari memegang kening Hendra.


“Tapi tidak panas?” ucap Rini kembali dengan wajah bingung.


“Aku tidak sakit sayang, hanya saja aku sering berhalusinasi aneh jadi aku mau konsultasi dengan ke Dokter psikiater,” pungkas Hendra kepada Rini.


“Mungkin aku agak siang ke kantor selepas dari Dokter, dan kamu hari pergi ke kantor naik taksi online saja ya sayang, agar orang kantor tidak curiga kamu bersamaku soalnya kita belum resmi menikah aku tidak ingin para karyawan membicarakanmu beserta aku nanti,” ujar Hendra kembali menjelaskan kepada Rina 


“Iya sayang aku mengerti, kapan rencananya kamu akan melamar dan menikahi aku Mas?” 


“Setelah 40 hari kematian Dina.”


“Mengapa selama itu Mas?” 


“Tidak bisa sayang, harta Dina secara resmi akan jadi milikku semua setelah 40 hari kematian Dina.”


“Apa kamu mau bersabar menungguku?” tanya Hendra.


“Iya Mas aku akan bersabar menunggumu.”


“Sebaiknya kamu segera mandi sayang bersiap untuk pergi ke kantor,” perintah Hendra.


Rini pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi Rini pun mengganti pakaiannya.


Sementara Hendra meninggalkan tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Hendra yang sedang berada di kamar mandi lagi-lagi di hantui kembali oleh sosok kuntilanak yang selalu menerornya.


Di saat Hendra sedang berada di wastafel Hendra di kejutkan oleh sosok bayangan hitam yang ada di pojok dinding kamar mandi.


Hendra melihat bayangan hitam itu melalu cermin yang menempel di dinding atas wastafel.


Sosok bayangan hitam itu berubah menjadi kuntilanak. 


Kuntilanak itu berdiri berjalan membungkuk mendekati Hedra dengan rambut yang panjang menutupi hampir semua wajahnya.


“Pergi! Pergi! Jangan bunuh aku!” teriak Hendra.


Rini yang mendengar teriakan Hendra di kamar mandi pun segera menghampiri dirinya.


Rini mengedor pintu kamar mandi memanggil-manggil nama Hendra.


“Mas! Ada apa?” pekik Rini mengedor pintu kamar mandi Hendra.


Namun Hendra tetap saja berteriak-teriak menyuruh kuntilanak itu pergi dari dirinya.


“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Hendra.


Tidak berselang lama Rini berhasil membuka pintu kamar mandi Hendra.


Terlihat Hendra yang sedang duduk meringkuk sembari memeluk kakinya serta menundukkan wajahnya.


“Mas Hendra, Mas,” panggil Rini.


“Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak kembali Hendra.


“Ini aku Rini Mas?” 


Mendengar suara Rini Hendra secara perlahan mulai memberanikan dirinya melihat seseorang di hadapannya.


“Rini!” pekik Hendra memeluk Rini.


“Ada apa Mas, seperti seseorang yang sedang ketakutan!” ucap Rini.


“Di sana,” ucap Hendra sembari menunjuk pojok dinding.


Rini yang bingung karena dirinya tidak melihat apa-apa di pojokkan dinding kamar mandi.


Hendra mulai memberanikan dirinya melihat keadaan di sekitar kamar mandi.


Setelah dilihat oleh Hendra memang tidak ada apa-apa di sekitar kamar mandi tersebut hanya dirinya dengan Rini saja yang berada di kamar mandi itu.


“Tadi aku melihat kuntilanak itu di sana” 


“Tidak ada apa-apa Mas? Di sini hanya kamu dan aku saja,” ucap Rini meyakinkan Hendra. 


“Ayo aku bantu Mas berdiri keluar dari kamar mandi ini.”


Raut ke takut terpancar dari wajah Hendra.


“Sebentar aku ambilkan air putih untuk Mas.”


Rini berjalan ke meja mengambilkan air minum untuk Hendra.


“Ini Mas minum dulu air putihnya,” sahut Rini memberikan air putih untuk Hendra.


Hendra pun mengambil segelas air putih yang di berikan Rini untuk dirinya.


“Terima kasih sayang,” ucap Hendra.


“Mas Hendra, sepertinya Mas harus pergi ke Dokter psikiater secepatnya dari malam tadi Mas selalu ketakutan,” pungkas Rini.


 “Iya sayang, setelah selesai bersiap-siap aku akan segera pergi ke Dokter.


Selang beberapa lama Hendra pun telah siap untuk pergi meninggalkan hotel tempat mereka menginap.


Rini yang tidak ikut bersama Hendra pun di pesankan taksi online olehnya.


Hendra menunggu taksi online yang tiba pun menemani Rini.


Beberapa menit kemudian taksi online yang di pesan oleh Hendra pun telah tiba.


Rini berserta Hendra pun keluar dari hotel tersebut.


“Mas aku ke kantor terlebih dahulu,” ujar Rini.


“Iya sayang hati-hati,” 


Merek berdua pun pergi dari hotel tersebut ke tempat masing-masing Hendra yang menuju Dokter sedangkan Rini menuju kantor.


Sementara di rumah Sundari yang berada di sendirian di kamarnya sedang berbicara dengan kuntilanak yang ia suruh menghantui Hendra.


“Bagaimana kerjamu Durmo?” panggilan Sundari kepada kuntilanak itu.


“Dia sekarang sedang bersenang-senang dengan wanita lain Sundari, tapi aku sudah menakutinya mengapa tidak langsung di bunuh saja Sundari,” ucap Durmo dengan suara serak serta berat.


“Jangan! Aku ingin bermain-main terlebih dahulu jika Hendra langsung kau bunuh dia tidak akan menderita, aku ingin melihat dia menderita terlebih dahulu. Mati secara perlahan-lahan, Ha-ha-ha,” ucap Sundari di sertai tawa jahatnya.


“Bagus Sundari, Bagus,” sahut Durmo.


“Satu lagi bunuh wanita yang bersama Hendra itu! Aku ingin Hendra menderita siapa pun yang bersamanya dan bahagia bunuh!” perintah Sundari kepada Durmo.


“Baiklah Sundari aku akan melaksanakan perintahmu, hi-hi-hi,” sahut Durmo lalu menghilang.


Di sisi lain Hendra yang telah selesai berobat di Dokter.


“Pak Hendra ini saya berikan obat penenang untuk bapak jika rasa takut bapak Hendra kembali muncul minum obat ini tapi ingat pak Hendra jangan minum melebihi dosis,” ucap Dokter psikiater yang memberikan Hendra resep.  


 “Baik Dok terima kasih,” ucap Hendra meninggalkan ruangan Dokter tersebut.


Hendra pun segera pergi ke apotek menebus resep obat yang di berikan kepada Dokter psikiater tersebut.


Setelah obat telah Hendra dapatkan, Hendra pun kembali menuju kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.


Hendra yang menuju pakiran mobil, membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam mobil.


Hendra menyalakan mesin mobil menjalankan mobilnya menuju kantor meninggalkan rumah sakit.  


‘Semoga saja ini hanya rasa takutku yang berlebihan dan aku berharap semua kembali dengan normal,' ujar Hendra yang bermonolog sembari mengemudikan mobilnya.