Sundari

Sundari
Korban selanjutnya



Dina terus menjalankan kursi roda sampai berhenti di sebuah pintu. Dengan sendirinya pintu yang terkunci itu dapat terbuka dengan sendirinya.


Dina terus berjalan melewati pintu itu sampai dirinya berhenti di pinggir kolam berenang.


Dengan tatapan mata yang kosong Dina memandang permukaan air di kolam berenang itu, kuntilanak yang menguasai tubuh Dina kini telah mengendalikannya.


Dengan perlahan Dina mencoba berdiri tubuh Dina yang sedang di kuasai kuntilanak itu pun mampu untuk berdiri  setelah itu Dina melompat masuk ke dalam kolam menghempaskan tubuhnya.


Sontak saja Dina yang di kuasai kuntilanak itu hanya terdiam tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar kolam.


Saat tubuh Dina tenggelam makhluk gaib yang biasa di sebut kuntilanak itu pun keluar dari tubuh Dina. 


Dina mulai tersadar, matanya terbelalak karena mendapati tubuhnya berada di dasar kolam, Dina berusaha berenang menggunakan kedua tangannya. Namun apalah daya kaki dina yang saat itu tidak bisa di gerakkan membuatnya susah untuk naik ke permukaan. 


Namun di saat Dina ingin mengambil nafas di permukaan kolam berenang dan ingin berteriak meminta tolong, secara tiba-tiba dari dasar kolam berenang kaki Dina seperti ada yang menarik.


Dina yang mencoba melihat pun tersentak kaget karena yang menariknya ke dasar kolam renang adalah sosok kuntilanak yang telah keluar dari tubuh Dina.


Dina mencoba melawan dengan ke dua tangannya namun tidak bisa, semakin lama Dina kehabisan oksigen di dalam air tubuhnya mulai lemas, pandangannya pun mulai terasa kabur.


Dan akhirnya Dina kehabisan nafas bahkan banyak terminum air kolam hingga Dina berhenti bergerak.


45 menit Dina berada di dalam kolam berenang tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.


Sementara Hendra yang telah selesai melakukan panggilan tetepon  bersama Toni membahas tentang perusahaannya telah selesai.


Hendra mematikan telepon genggamnya menaruhnya kembali di atas meja.


Setelah itu Hendra keluar kamar menghampiri Dina yang berada di ruang keluarga.


Hendra yang telah berada di ruang keluarga pun bingung melihat Dina tidak ada di sana.


Hendra mencoba mencari-cari Dina sembari memanggil-manggil namanya.


“Sayang kamu di mana?” pekik Hendra mencari keberadaan Dina.


Hendra mencari istrinya  ke area dapur namun tidak ada satu orang pun di sana, Hendra pun beralih ke beberapa ruangan lain, wajahnya terlihat begitu khawatir karena takut terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya itu.


Hingga Hendra berjalan menuju bagian belakang rumahnya yaitu area kolam renang.


“Sayang?”


Hendra berjalan menuju tepi kolam karena melihat ada yang aneh di kolam renang tersebut.


Tanpa pikir panjang Hendra langsung menceburkan dirinya ke kolam renang, dia meraih dan memeluk tubuh istrinya yang masih setengah mengapung itu.


Hendra berenang ke tangga yang ada di tepi kolam. Hendra mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di lantai.


Hendra berusaha melakukan CPR dan nafas buatan kepada Dina, berkali-kali Hendra mencoba dan berusaha agar istrinya sadar.


Wajah Dina yang sudah pucat itu membuat Hendra semakin panik.


“Sayang bangun!” ucap Hendra sambil terus melakukan pertolongan pertama pada istrinya.


Hingga Hendra memeriksa denyut jantung serta nadi yang ada di pergelangan tangan Dina.


Tidak ada tanda-tanda detakan jantung bahkan Hendra tidak menemukan titik denyut nadinya. Hendra masuk ke dalam rumah untuk mengambil telepon genggam yang ada di sofa untuk menelepon ambulan.


Hendra masih berpikir jika istrinya itu hanya pingsan, dia membawa tubuh Dina masuk ke dalam rumah.


Tidak lama terdengar suara ngiungan dari sirine ambulan, petugas ambulan mulai menurunkan ranjang daruratnya dan meletakkan tubuh Dina di atasnya.


Sebelumnya Hendra juga menelepon polisi karena dia yakin istrinya tidak mungkin jatuh dengan sendirinya, dia berpikir ada seseorang yang dengan sengaja mendorong kursi roda Dina hingga dia jatuh ke kolam renang.


Para petugas ambulan itu sejak awal sudah curiga jika Dina sudah tiada terlihat dari bibirnya yang mulai membiru serta tubuhnya yang pucat. Mereka mencoba memeriksa Dina, usai memeriksanya mereka terdiam.


“Kenapa kalian diam? Ayo cepat bawa istri saya! Kalian mau bunuh istri saya hah!” bentak Hendra.


“Tapi apa? Uang? Kalian harus di bayar dulu?” ucap Hendra sambil merogoh saku belakang celananya.


“Kami tidak perlu uang Bapak. Saya hanya ingin memberi tahu jika istri Anda suda meninggal.”


“Kalian jangan mengada-ada istri saya itu hanya pingsan! Cepat bawa istri saya sekarang juga!” 


Sedangkan Sundari yang telah pulang dari pasar berpura-pura tidak tahu apa-apa, Sundari yang masuk ke dalam rumah mendatangi Hendra menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Ada apa ini Tuan, mengapa banyak mobil ambulan,” ujar Sundari yang keheranan.


“Dina, Bi Sun–,” ucap Hendra terhenti menahan kesedihannya.


“Ada apa dengan nyonya Tuan?” tanya Sundari yang berpura-pura tidak tahu.


“Nyonya telah pergi selamanya bi Sun, aku menemukan tubuhnya di dasar kolam,” sahut Hendra.


Sundari pun berpura-pura menangis kehilangan Dina.


Kedua petugas itu pun menutup pintu belakang ambulan dan melaju  menuju rumah sakit. Hendra yang saat itu berada di dalam mobil ambulan pun tidak henti-hentinya memegangi tangan Dina.


“Sayang kamu sabar ya kita sebentar lagi sampai,” ucap Hendra sambil terus memegangi tangan istrinya.


Hingga mereka sampai di rumah sakit para petugas bergegas mendorong ranjang darurat itu menuju ruang UGD.


Para perawat serta dokter yang melihat tubuh Dina pun sudah berspekulasi jika Dina sudah meninggal.


Dokter mencoba memeriksa keadaan Dina hingga akhirnya Dokter memberi tahu kepada Hendra.


“Maaf Pak, kami turut berduka cita atas meninggalnya istri anda,” ucap dokter itu.


Bagai di sambar petir di siang hari bolong Hendra mendengar kabar duga dari sang istri yang pergi untuk selamanya.


Hendra yang menghampiri jasad Dina menangis memanggil nama sang istri teringat akan kenangan bersama Dina yang setia menemaninya.


Tiga tahun Dina menemani Hendra, keluarga yang tadinya harmonis kini berubah menjadi kesedihan.


Air mata Hendra tidak kunjung berhenti mengalir sembari memeluk jasad sang istri.


Kabar duka Hendra sampaikan ke orang tua Dina, ibu Dina yang mendengar anaknya pergi untuk selamanya pun menangis histeris anak yang mereka sayangi kini lebih dahulu meninggalkan mereka untuk selamanya.


Setelah memberikan kabar duka kepada kedua orang tua Dina.


Telepon genggam Hendra tiba-tiba berbunyi. Polisi yang sedang berada di TKP dan menyelidiki kematian Dina kini melaporkan hasilnya kepada Hendra.


“Selamat siang Pak Hendra, kami dari pihak kepolisian sudah menyelidik kasus kematian ibu Dina, dan tidak ada tanda-tanda pembunuhan kasus ibu Dina ini murni kecelakaan” ucap salah satu polisi yang menjelaskan kepada Hendra.


“Ba-baik pak,”


“Kami turut berduka cita atas kematian ibu Dina.”


“Terima kasih pak.”


Hendra pun menutup teleponnya, selang beberapa jam kedua orang tua Dina mendatangi ke rumah sakit.


Mereka melihat jasad Dina yang terlihat membiru di bagian wajah Dina.


Orang tua Dina pun menanyakan kepada Hendra kronologi kematian anaknya.


Dengan berat hati dan merasa bersalah karena Hendra meninggalkan Dina yang saat itu sedang berada di ruang keluarga untuk mengangkat teleponnya. 


Tadinya orang tua Dina menyalahkan Hendra karena tidak becus menjadi kepala rumah tangga yang baik, namun sampai akhirnya mereka telah berlapang dada menerima kenyataan pahit yang menimpa putri kesayangan mereka.