
“Apa benar Pak Hendra?” tanya Rini dengan wajah yang semringah.
“Iya benar kapan aku pernah berbohong kepadamu, oh ya satu lagi jangan panggil saya bapak panggilan itu di buat ketika ada orang lain selain kita.”
“Iya Mas Hendra.”
“Oh ya malam ini kamu ada acara? Aku ingin menganjak mu jalan selepas pulang dari kantor?”
“Tidak Mas, hari ini aku tidak ada acara waktuku khusus untukmu,” Rini yang merayu Hendra.
“Baiklah jika begitu, selepas pulang dari kantor aku akan mengajakmu jalan.”
“Baiklah Mas, aku kembali ke meja kerjaku terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaanku.”
Rini pergi dari ruangan Hendra kembali ke meja kerjanya.
Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka berdua, seperti kedua kekasih sedang di landa asmara Hendra dan Rini ini menikmati kebersamaan mereka tanpa ada gangguan.
Setelah pekerjaan mereka telah selesai dan berjalan dengan lancar Hendra menunggu Rini di dalam mobil tepatnya di parkiran kantor.
Rini yang sudah keluar dari kantor menuju parkiran mobil.
“Sudah lama menunggunya Mas?” tanya Rini sembari masuk ke dalam mobil Hendra.
“Tidak sayang, kau begitu cantik hari ini,” rayu Hendra.
Hendra mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran kantor.
Namun aksi mereka di lihat oleh Toni.
‘Tumben Pak Hendra pulang bareng dengan Rini, ah sudah biarkan saja aku malas ikut campur,' gumam Toni.
Di dalam perjalanan Hendra berbincang-bincang dengan Rini.
“Mau jalan ke mana kamu hari ini sayang.”
“Terserah Mas saja.”
Hendra membawa Rini ke mall di sana Rini dapat berbelanja sepuasnya, Hendra yang sedang jatuh cinta kepada Rini tidak mempermasalahkan uang yang Hendra keluarkan untuk kebutuhan Rini.
Rini mengajak Hendra masuk ke toko baju, harga-harga baju yang di jual di toko baju tersebut sangat fantastis.
“Mas baju ini bagus jika aku pakai?” tanya Rini yang mencoba baju.
“Baju apa saja jika kau yang memakainya akan terlihat bagus sayang,” Hendra kembali merayu Rini.
“Ah, kamu bisa saja Mas.”
Rini pun akhirnya mengambil beberapa lembar baju yang harganya lumayan mahal.
Setelah itu Hendra mengajak Rini ke toko perhiasan untuk membelikannya sebuah kalung.
“Kalung ini cocok untukku mas?” tanya Rini.
“Motif liontinnya aku kurang suka sayang.”
“Kalau yang ini?”
“Emm ... Seperti yang itu saja lebih cocok kamu tambah terlihat cantik menggunakan kalung itu.”
“Baiklah kalau seperti itu Mas, Mbak saya ambil yang ini saja.”
“Sayang aku ingin mengajak mu makan? Aku sangat lapar,” ucap Hendra mengajak Rini.
“Iya Mas aku pun setelah berjalan-jalan mengeliling mall ini.”
“Baiklah jika begitu kamu mau makan apa sayang?”
“Terserah mas saja.”
Setelah selesai berbelanja mereka berdua memutuskan untuk pergi makan di Restoran yang terdapat di mall tersebut.
Rasa bahagia terpancar dari wajah Rini, semua yang dia inginkan hari di telah di penuhi oleh Hendra.
Setelah sampai di restoran Hendra telah memesan makanan, sembari memesan makan mereka berbincang santai di sana.
“Mas apa benar kamu akan menikahiku?” tanya Rini meyakinkan dirinya.
“Iya sayang aku akan menikahimu, semua sudah aku miliki sekarang tapi yang belum hanya satu, yaitu memiliki kamu.”
“Ah, kamu bisa saja Mas,” ucap Rini tersipu malu.
Saat mereka tengah asyik berbincang santai pelayan restoran pun telah datang memberikan pesanan makan yang Hendra pesan.
“Ini pesanannya Pak,” ucap pelayan restoran yang menyodorkan beberapa menu makanan di meja Hendra.
“Terima kasih,” sahut Hendra.
Pelayan restoran itu pun meninggalkan mereka berdua, sementara Hendra bersama Rini mulai menyantap makan yang mereka pesan.
Hari sudah mulai malam jam pun telah menunjukkan pukul sembilan malam Hendra berniat mengantar Rini untuk pulang.
Namun di saat di perjalanan mengantar Rini pulang Hendra berubah pikiran.
Hendra yang sedang mengemudikan mobil menoleh ke samping melihat kemolekan tubuh Rini di tambah lagi gunung kembar Rini berukuran di atas standar padam umumnya.
Hal itu membuat Hendra tidak dapat menahan nafsunya kepada Rini.
Hendra yang mempunyai rencana untuk membawa Rini ke hotel berbintang lima.
Hendra yang tengah fokus mengemudikan mobilnya di kejutkan oleh seseorang yang menyeberang jalan secara tiba-tiba.
Dengan spontan Hendra pun menginjak pedal rem secara tiba-tiba.
Rini yang sangat terkejut menanyakan kepada Hendra.
“Ada apa Mas?” tanya Rini yang terkejut.
“Tadi aku melihat ada wanita menyeberang jalan secara tiba-tiba,” sahut Hendra.
“Masa iya Mas? Aku sedari tadi tidak ada melihat wanita yang menyeberang jalan,” pungkas Rini memberitahu Hendra.
“Masa kamu tidak melihatnya sayang, jelas-jelas wanita itu melintas secara tiba-tiba di hadapanku,” sahut Hendra meyakinkan Rini.
“Tidak ada Mas, aku berani bersumpah tidak melihat apa-apa,” sahut Rini menegaskan Hendra.
“Ya sudahlah,” ucap Hendra yang tidak ingin berdebat melanjutkan perjalanan mereka.
15 menit Hendra telah sampai di parkiran hotel berbintang lima.
“Loh Mas? Kenapa kita ke sini katanya kamu mau mengantarkan aku pulang?” ujar Rini.
“Emm ... Aku ingin menghabiskan malam panjang bersamamu sayang,” rayu Hendra.
“Ayo kita masuk,” ajak Hendra kepada Rini.
Hendra bersama Rini akhirnya masuk ke dalam hotel dan memesan kamar, Hendra yang mendapatkan nomor kamar 17.
Mereka berdua berjalan ke kamar mereka.
Setelah sampai di kamar 17 Hendra langsung membuka pintu kamar tersebut.
“Mas aku ingin mandi terlebih dahulu,” ucap Rini.
“Iya sayang,” sahut Hendra yang menunggu Rini di atas kasur hotel yang sangat empuk.
Saat Hendra tengah berbaring di tempat tidur menunggu Rini yang sedang mandi Hendra yang terlelap sejenak.
Hendra yang tertidur bermimpi masa lalunya kembali.
Masa lalu yang pernah ia lalukan kepada Sundari.
Di dalam mimpinya Sundari yang ingin di tiduri secara paksa kembali menjadi sosok kuntilanak yang sangat menyeramkan.
Berkali-kali kata yang sama di lontarkan kuntilanak itu kepada Hendra.
“Aku akan membunuhmu Hendra,” ancam kuntilanak itu.
“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Hendra.
Rini yang telah selesai mandi pun mendengar Hendra berteriak-teriak.
Rini pun segera membangunkan Hendra yang sedang tertidur.
“Mas bangun Mas!” ucap Rini sembari menggoyang-goyangkan tubuh Hendra agar ia terbangun.
Seketika Hendra pun terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Ada apa Mas?” tanya Rini.
“Aku bermimpi buruk sayang.”
“Bermimpi apa Mas, sampai-sampai Mas berteriak-teriak?”
“Entah lah sayang semenjak kepergian Dina, aku selalu bermimpi kuntilanak anak yang ingin membunuhku, terkadang mimpi itu pun seperti nyata aku sering melihatnya menerorku,” Hendra yang menjelaskan kepada Rini.
“Sudah Mas, aku tidak mau mendengar hal yang menyeramkan aku takut,” sahut Rini.
“Jangan takut kan ada aku di sampingmu,” Hendra yang kembali merayu Rini melupakan akan mimpi buruknya.
Melihat Rini yang sedang mengenakan baju tidur nafsu kembali memuncak.
Hendra mulai dengan lembutnya meraba setiap detail kemolekan tubuh Rini.
Namun saat Hendra mulai ingin menjalankan aksinya ada rasa takut di hati kecil Rini.
“Mas, apakah kamu bersungguh-sungguh akan menikahiku?” tanya Rini mencoba meyakinkan dirinya.
“Iya sayang aku akan menikahimu, aku sudah berjanji kepadamu,” Hendra yang mengeluarkan kembali rayuan mautnya.
“Kenapa apa kamu tidak percaya kepadaku?” sambung Hendra.
“Bukan seperti itu aku hanya takut, jika nanti aku hamil kamu meninggalkanku Mas!” ucap Rini yang ragu.
“Tidak mungkin sayang, jika kamu hamil aku akan bertanggung jawab,” ujar Hendra mencoba meyakinkan Rini.
Rini pun tersenyum terbuai akan rayuan maut Hendra.
Hendra mulai mematikan lampu kamar dan menyalurkan nafsunya kepada Rini.
Malam ini adalah malam ke sekian kalinya Hendra melakukan hal ini kepada Rini melihat, Rini pun yang sangat piawai bermain di ranjang membuat malam ini semakin panas untuk Hendra.