Sundari

Sundari
Bertemu kembali dengan Rian



Metari pagi mulai bersinar hawa dingin masih terasa menusuk kulit, kabut tipis masih menyelimuti hutan.


Sundari yang sedang berada di dapur memasak sarapan pagi untuk dirinya beserta keluarganya.


Pagi ini Sundari berencana pergi ke desa untuk kembali bekerja sebagai buruh pemetik teh.


“Kek makan sudah matang mari kita makan?” ucap Sundari seraya menyiapkan makan untuk mereka.


“Iya Sundari,” sahut Baskoro yang sedang berada di teras bermain dengan Adit.


Makan yang telah di masak Sundari pun telah matang, Baskoro mengendong Adit untuk masuk ke dalam rumah.


Sundari dengan sangat piawainya menyuapi Adit.


“Sundari,” tegur Baskoro.


“Iya Kek,” sahut Sundari.


“Kamu harus cepat memikirkan masa depanmu Nduk, mumpung aku masih ada aku ingin ada yang menjaga dirimu.”


“Sundari masih belum memikirkan ke arah sana kek.”


“Jika kamu sudah mempunya suami ada yang akan membantumu mengurus Adit, dan juga menafkahimu Sundari,” Baskoro yang sedang menasihati Sundari.


“Ndari masih merasa takut, jika ada laki-laki yang hanya memanfaatkan tubuh Sundari saja Kek, tanpa sayang kepada Adit,” sahut Sundari sembari menyuapi Adit.


“Tidak semua laki-laki itu sama Sundari, jika memang ada yang tulus kepadamu maka dia akan menerima semua kekuranganmu dan juga masa lalumu.”


“Iya Kek,” sahut Sundari dengan singkat.


“Kakek tidak bermaksud apa-apa, hanya tidak ingin melihat kamu sendiri memikul beban hidupmu Sundari.”


“Iya Kek, Sundari mengerti kalau kakek sangat memikirkan Sundari.”


“Ada satu pesan lagi untukmu Sundari yang harus kau ingat, ini ada sebuah mantra yang suatu saat pasti akan berguna jika aku tidak ada lagi, ikutilah mantra ini Dhuh jiwo peteng, pasrahna marang aku, aku iki pimpinanmu, sing kuwat bakal menang, mula pasrahna marang aku (Wahai jiwa yang gelap tunduk kepadaku, aku pemimpinmu, yang kuat dialah yang akan menang maka tunduklah kepadaku),” tutur Baskoro yang membacakan mantra.


Sundari mengikuti mantra yang di bacakan oleh Baskoro sebanyak tiga kali.


“Coba kamu ulangi mantra tadi Nduk?” ujar Baskoro.


Anehnya dengan sangat piawai Sundari dapat menghafal mantra yang di berikan oleh Baskoro tadi.


“Mengapa Sundari dapat dengan mudah menghafal dan membacakan mantra itu kek seperti mantra itu sudah di luar kepala,” ucap Sundari yang kebingungan.


“Kau yang terpilih Sundari, jadi kamu bisa dengan mudah menyerah semua ilmu yang aku telah berikan kepadamu,” Baskoro menjelaskan kepada Sundari.


“Suatu saat kamu akan memerlukan mantra ini,” sambung Baskoro kembali.


“Iya Kek terima kasih.” 


Sundari yang telah selesai menyuapi Adit makan pun segera pergi ke desa untuk bekerja.


“Kek Sundari pergi dulu,” Sundari yang berpamitan kepada Baskoro.


“Iya Sundari, hati-hati.”


Sundari mulai berjalan meninggalkan rumah Baskoro menuju desa.


Sundari terus berjalan melewati semak-semak belukar yang ada di hutan itu, tidak ada satu orang pun yang pernah masuk ke dalam hutan itu terlihat dari semak belukar yang sangat tinggi menghiasi hutan tersebut.


Satu jam Sundari berjalan menyelusuri hutan itu hingga akhirnya Sundari pun telah tiba di desa.


Sundari yang terus berjalan menuju perkebunan teh melewati warung bu Tinah.


“Mbak Sun sudah pulang, mampir dulu,” tegur bu Tinah.


“Iya Bu, nanti saja saya mampir ini mau ke perkebunan dulu,” sahut Sundari sembari berjalan.


 Beberapa menit kemudian Sundari telah sampai di perkebunan teh, Sundari yang segera memakai perlengkapan bekerjanya untuk memetik teh.


Setelah selesai memakai perlengkapan bekerjanya Sundari pun segera ke tanaman teh untuk memetik ujung-ujung teh sebelum matahari menjadi trik.


Saat Sundari tengah asyik memetik daun teh, Rian menghampirinya.


Sejak kepergian Sundari, Rian setiap pagi selalu berkeliling perkebunan teh itu.


“Mbak Sun,” tegur Rian.


“Iya Mas Rian.”


“Kapan Mbak Sun pulang?” tanya Rian


 Wajah Rian terlihat sangat bahagia, melihat Sundari yang telah kembali.


“Kemarin sore Mas.”


“Saya sangat senang sekali bisa melihat Mbak Sun lagi.”


“Akhirnya kita bisa bertemu lagi di sini Mbak Sun, apa mungkin kita berjodoh,” ucap kembali Rian.


Sundari tersenyum saat Rian melontarkan rayuannya kepada dirinya.


Satu jam telah berlalu Sundari yang masih saja memetik daun teh di temani oleh Rian.


“Apa kamu tidak bekerja Mas?” tanya Sundari.


“Tidak hari ini saya ingin menemani Mbak Sun di sini sampai selesai,” sahut Rian.


“Jika Mas tidak bekerja nanti akan di marahi oleh bos Mas,” ucap Sundari yang sangat lugu.


“Ha-ha-ha, siapa yang berani memarahi diriku Mbak Sun, karena saya pengelola pabrik teh itu,” ujar Rian yang menjelaskan kepada Sundari.


Pabrik teh Rian memang tidak sebesar pabrik teh yang berada di kota, pengelolaannya pun masih sangat alami memakai tenaga manusia, hanya ada beberapa mesin yang ada di sana tidak seperti pabrik teh di kota yang semua di kelola dengan menggunakan mesin.


Mata hari mulai terik Sundari pun mengakhiri pekerjaannya, di saat Sundari telah selesai bekerja Rian ingin mengajak Sundari untuk berkeliling perkebunan teh ayahnya sembari mengobrol santai dengannya.


“Mbak Sun ada kesibukan selepas selesai bekerja?” tanya Rian yang berharap Sundari mempunyai waktu luang bersama dirinya.


“Tidak begitu Mas, ada apa?”


“Saya ingin mengajak Mbak Sun berkeliling perkebunan teh ini sembari mengobrol santai apa Mbak Sun mau?”


“Emmm, Iya Mas,” sahut Sundari dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Mereka pun mulai mengobrol santai sebari berkeliling perkebunan.


“Mbak Sun saya ingin menanyakan tentang janji Mbak Sun waktu dulu sebelum pergi meninggalkan perkebunan ini, apa Mbak Sun masih ingat?”


“Iya Mas, saya masih ingat. Mas Rian menunggu kepastian dari saya bukan.”


“I-Iya Mbak Sun,” Rian yang terlihat gugup.


“Mengapa tidak kita jalani terlebih dahulu hubungan ini, saya juga belum mengenal keluarga Mas,” ucap Sundari yang memberikan lampu hijau untuk Rian.


“Iya benar apa kata Mbak Sun, saya pun belum pernah menceritakan Mbak Sun kepada orang tua saya.”


“Kalau begitu jika besok selepas Mbak Sun selesai bekerja saya mau mengajak Mbak Sun bertemu keluarga saya Apa Mbak Sun bersedia?” tanya Rian.


“Apa tidak terlalu cepat Mas?” tanya Sundari.


 “Tidak Mbak Sun, saya sudah mengenalmu begitu lama di tambah lagi menunggumu, jadi menurutku ini sudah waktunya untuk memperkenalkanmu kepada kedua orang tuaku, oh iya saya boleh menanyakan sesuatu kepada mbak Sun?”


“Apa itu Mas?”


“Siapa nama asli Mbak Sun sebenarnya?”


“Namaku Sundari Mas Rian, terkadang di panggil Ndari,” sahut Sundari.


Sundari pun telah bersedia memberitahukan nama aslinya kepada Rian.  


Satu jam telah berlalu Sundari pun berpamitan pulang kepada Rian karena menurutnya sudah cukup untuk menemani Rian.


“Mas saya ingin pamit pulang kasihan Adit jika di tinggal terlalu lama pasti mencari saya,” Sundari yang berpamitan pulang dengan Rian.


“Baik Mbak Sun, mau saya antar pulang?” 


“Tidak usah Mas, saya bisa berjalan kaki saja. Tapi saya ingin mengenal keluargamu.”


“Nanti Mas, jika sudah waktunya saya akan mengajak Mas untuk bertemu dengan keluarga saya.”


Sundari pun berjalan meninggalkan Rian di perkebunan. Sundari yang berjalan menuju rumah Baskoro di dalam hutan.


Entah apa yang masih di pikirkan Sundari mengenai Rian sampai ia masih enggan untuk memperkenalkan Rian kepada Baskoro dan juga anaknya.


Sementara Rian yang telah di tinggalkan oleh Sundari pergi kembali ke pabrik untuk mengecek para pekerja pabriknya.


Hingga menjelang sore pekerjaan Rian pun telah selesai tanpa kendala.


Rian yang menaiki motor besarnya menuju rumahnya.


15 menit Rian telah sampai di rumah karena jarak antara rumah Rian dan pabrik tidak terlalu jauh.


“Assalamualaikum,” Rian yang mengucap salam sembari mengetok pintu.


 Ratih yang mendengar suara orang mengetuk pintu pun menuju keluar pintu utama.


“Baru pulang Nak?” tanya Ratih.


“Iya Bu?”


“Mari makan ibu sudah memasak makanan ke sukaanmu,” Ratih mengajak Rian untuk makan bersama.


“Iya Bu, kebetulan Rian sangat lapar sekali,” sahut Rian.


Mereka berdua pun menuju meja makan, saat Rian telah sampai di meja makan Rehan ayah Rian telah duduk di sana.


“Bagaimana pekerjaanmu Rian?” 


“Alhamdulillah, berjalan degan baik Yah,” ujar Rian sembari menyendok nasi ke dalam piringnya.


“Oh iya, ada yang ingin Rian bicarakan kepada ibu dan ayah,” ujar Rian.


“Apa Nak, seperti sangat penting sekali?” tutur Ratih.


Rian pun mulai bercerita kepada ibu dan ayahnya mengenai kedekatan dirinya dengan Sundari.


“Bu, Yah, sebenarnya hampir setahun ini Rian dekat dengan seorang wanita, sikapnya tutur katanya dan juga kesederhanaannya membuat Rian jatuh cinta dengannya.”


“Mengapa tidak kamu bawa ke rumah kenalkan kepada Ayah dan ibu jika memang kau serius dengan wanita itu, dan siapa namanya?” tanya Rehan kepada Rian.


“Rencananya besok mau Rian bawa menemui ayah dan ibu, wanita itu bernama Sundari. Tapi dia sudah pernah memiliki suami dan katanya suaminya sudah lama meninggal apa ayah dan ibu masih mau menerima Sundari?”


“Nak, jika pilihan hatimu memang sudah kepadanya Ibu dan ayah akan selalu mendukungmu dan memberikanmu restu kami berdua,” pungkas Ratih secara bijak.


“Apa itu benar Bu.”


“Iya Rian, ayah dan ibu tidak terlalu memaksakan kehendak kami, jika kamu memang sudah pas memilih Sundari, ayah akan merestuimu,” ujar Rehan memberikan restu untuk Rian.


“Terima kasih, Bu dan Yah kalian memang orang tua terbaik yang Rian punya.”


“Rumah ini akan ramai dengan kehadiran cucu ibu nantinya.”


“Ibu Rian belum menikah dengan Sundari tapi ibu sudah jauh memikirkan ke arah sana.”


“Cepat menikah Nak, umurmu sudah matang?” tegur Ratih.


“Rian sih ingin segera mungkin tapi tidak tahu dengan Sundari apa telah siap belum, jika Rian bertanya masalah pernikahan Sundari selalu berkata kita jalani saja Mas sampai tiba waktunya,” ujar Rian yang mempraktikkan ucapan Sundari.


“Ha-ha-ha, kau ada-ada saja Rian, begitulah wanita jinak-jinak merpati,” sahut Rehan yang menertawakan keluguan anaknya  


Tawa canda mengiasi keluarga Rian. Keluarga Rian yang begitu harmonis berbanding terbalik dengan Sundari yang tidak tahu akan ayah dan ibu berada, karena sedari kecil Sundari diurus oleh sang  nenek.


Malam mulai tiba Rian yang sangat bahagia bertemu Sundari membuat dirinya tersenyum-senyum saat membayangkan wajah Sundari.


“Kamu begitu cantik wahai wanita pujaanku,”  ucap Rian yang berada di kamarnya.


Namun hal aneh muncul kembali di saat, setahun lamanya Rian tidak pernah melihat hal aneh itu lagi kini muncul kembali.


Malam itu ketika dirinya sedang membayangkan kecantikan Sundari tiba-tiba sosok bayangan hitam pun muncul di pojok dinding kamarnya.


Dengan samar-samar bayangan itu seperti bentuk tubuh seseorang yang berada dalam kegelapan.


Rian mengusap-usap matanya memastikan apa yang Ia lihat itu benar.


Saat telah selesai mengusap mata bayangan hitam itu masih berada di pojok kamarnya.


Dengan sangat penasaran Rian pun menyalakan lampu kamar yang telah Ia matikan.


Saat ruangan kamar Rian menjadi terang bayangan hitam itu hilang.


Rian pun mematikan lagi lampu kamarnya dan bayangan hitam yang berada di pojokkan kamarnya kembali muncul.


Rian yang belum pergi dari tempat di mana tombol lampu kamar berada, Rian menyalakan kembali lampu kamarnya bayangan hitam itu hilang.


Rian semakin bingung dengan apa yang ia lihat.


Kali ketiganya Rian menyalakan lampu kamarnya ia pun terkejut 


Terlihat jelas wajah wanita berambut panjang dengan posisi berdiri membungkuk di hadapannya, wajahnya begitu sangat menyeramkan matanya merah warna kulitnya pucat seperti mayat giginya semua bertaring dan mulutnya sangat lebar.


Hal itu membuat Rian berteriak, teriakan Rian di dengar oleh Ratih ibu Rian.


Ratih yang mendengar teriakan anaknya pun menghampiri Rian.


Kebetulan pintu kamar Rian tidak dikunci, Ratih pun segera mendatangi Rian menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


“Ada apa Nak? Mengapa kamu berteriak?” tanya Ratih.


Rian pun akhirnya jujur kepada ibunya.


“Rian melihat sesuatu yang sangat menyeramkan Bu?” ujar Rian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Bawalah berdoa Nak, mintalah perlindungan kepada Allah,” nasehat Ratih.


“Iya Bu,” sahut Rian.


“Apa kamu sudah sholat Isa Nak?” tanya Ratih.


“Belum Bu?”


“Cepat lakukan kewajibanmu Nak?” Ratih yang menasihati Rian.


“Baik Bu,” ujar Rian.


Rian pun pergi meninggalkan ibunya untuk mengambil air wudu.


Setelah selesai mengambil air wudu Rian pun kembali menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam.


 Di sini gangguan itu muncul kembali, Rian yang sedang memaksakan sholat oun di ganggu kembali oleh sosok kuntilanak itu.


Rian merasakan dari arah belakangnya kuntilanak itu sedang  merangkak mendekatinya.


Namun Rian yang mulai goyah akan imannya pun tidak fokus untuk beribadah.


Rasa takut menghampiri dirinya, hingga akhirnya Rian yang tidak kusu melaksanakan ibadahnya pun menoleh ke belakang alangkah terkejutnya dirinya melihat kuntilanak yang berada di samping dirinya saat Rian tengah menoleh.


Sontak saja Rian berteriak dan bangun dari mimpi buruknya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal Rian duduk di atas tempat tidurnya.


‘Aku mimpi buruk kembali?’ Rian yang bermonolog.


‘Ada apa ini, Sudah lama aku tidak bermimpi buruk atau melihat hal menyeramkan mengapa sekarang muncul kembali?” gumam Rian Kembali.


 ‘Mungkin saja ini hanya sekedar mimpi bukan hal yang buruk untukku, sebaiknya aku melanjutkan tidurku kembali sebelum ibu ke kamar mendengar teriakanku,’ batin Rian.


Rian pun melanjutkan tidurnya kembali, dengan cepat Rian pun tertidur kembali karena ia masih merasakan kantuk di waktu terbangun tadi.  


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.