Sundari

Sundari
Mulai terungkap



Sayup-sayup mata Hendra mulai terpejam rasa kantuk telah menguasai dirinya sampai akhirnya Hendra mulai terlelap.


Hendra mulai bermimpi menyeramkan kembali, tidak hanya di dunia nyata Hendra di teror namun di alam mimpi pun juga sama Hendra di teror kembali oleh kuntilanak anak itu.


Kali ini Hendra tidak bermimpi di hutan atau rumah gubuk melainkan bermimpi ketika dirinya ingin memperkosa Sundari di gudang penyimpanan daun teh.


Hendra yang mengajak masuk Sundari ke dalam gudang itu tidak lupa juga pintu gudang itu di kunci oleh Hendra.


Hendra mulai mendekati Sundari lalu memaksanya untuk melepaskan bajunya memaksa Sundari untuk melayani nafsu bejatnya.


Saat Hendra berhasil melepas dengan paksa pakaian yang Sundari kenakan hal mengerikan pun terjadi kepada dirinya.


Di saat itu posisi Hendra sedang di atas tubuh Sundari dan ingin melepas ikat pinggang yang Hendra kenakan.


Ikat pinggang Hendra pakai telah berhasil lepasnya.


“Aku mohon jangan lakukan itu kepadaku,” ucap Sundari memohon kepada Hendra sembari menangis.


Hendra tidak mempunya rasa iba sama sekali, nafsu birahinya lebih menguasai dirinya ketimbang rasa kasihan kepada Sundari.


Di saat Hendra mulai ingin meniduri Sundari kejadian mengerikan pun kembali muncul.


Sundari yang berada di bawah tubuh Hendra seketika berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan.


Sosok itu berubah menjadi Kuntilanak yang tadi Hendra lihat sedang menyeringai kepadanya sembari mengancam dirinya.


“Kau akan mati Hendra! Perbuatanmu di masa lalumu akan menyiksa dirimu,” ancam Kuntilanak itu.


Sontak saja Hendra berdiri ingin menjauhkan dirinya dari tubuh sang kuntilanak itu.


Gerakan Kuntilanak itu lebih cepat dari Hendra, sebelum Hendra pergi menjauhinya kuntilanak itu telah berhasil mencekik leher Hendra.


Sontak saja Hendra tidak dapat bernafas, Hendra mencoba memberontak Sekuat tenaga.


Tenaga kuntilanak itu lebih kuat ketimbang Hendra. Hendra mencoba ingin menyelamatkan dirinya sendiri, dengan kebetulan ada sebuah besi panjang yang di pakai untuk menarik karung berisi daun teh besi itu berbuk huruf L dengan ujung lancip.


Hendra yang di cekik kuntilanak dengan posisi di lantai mencoba meraih gagang besi panjang itu.


“Kau akan mati Hendra, Hi-hi-hi,” ancam kuntilanak itu sembari tertawa di hadapan Hendra.


Dengan Sekuat tenaga Hendra berusaha meraih besi itu dan akhirnya berhasil tanpa pikir panjang Hendra menusukkan besi itu ke kepala kuntilanak itu.


Kuntilanak itu berteriak lalu melepaskan Hendra dari cekikkannya.


Hendra pun langsung berusaha berdiri berlari ke pintu gudang.


Hendra merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci gudang guna membuka pintu gudang.


“Ayo cepat,” ucap Hendra yang berusaha membuka pintu gudang.


Karena sangat panik Hendra belum bisa-bisa membuka kunci gudang itu.


Sementara Kuntilanak itu melepas besi yang di tancapkan Hendra ke tubuhnya, setelah berhasil di lepaskan besi sang kuntilanak membawa besi itu kembali untuk membunuh Hendar.


Kuntilanak mendekati Hendra, ketika Hendra masih sibuk membuka pintu dengan mengangkat tangan kuntilanak itu ingin menghempaskan besi itu ke tubuh Hendra.


“Tidakk!” teriak Hendra tersadar dalam mimpinya.


Dengan nafas tersengal-sengal keringat dingin yang keluar dari celah-celah kulit wajahnya.


Terlihat raut wajah ketakutan di wajah Hendra.


‘Ada apa ini, kenapa aku melihat kuntilanak itu terus dan ingin membunuhku’ gumam Hendra.


‘Mengapa aku bermimpi Sundari wanita yang pernah aku perkosa itu, bukannya dia sudah pergi dari desa,' batin Hendra.


Hendra mengambil segelas air putih di meja kamarnya.


Hendra meminum segelas air putih itu untuk menenangkan dirinya.


Beberapa menit kemudian  setelah Hendra merasa tenang ia pun melanjutkan tidurnya.


Keesokan paginya selepas sarapan pagi Hendra pergi ke kantor, ia menaiki mobilnya dan mengemudikan mobilnya menuju kantor.


Saat di jalan Hendra mulai di hantui kembali oleh sosok kuntilanak menerornya.


Di saat Hendra sedang mengemudikan mobilnya sembari mendengarkan musik yang di putar olehnya.


Musik itu berubah menjadi sebuah suara.


“Kau akan mati Hendra!” 


Sontak saja Hendra mematikan musik yang ia putar tadi.


Hendra pun melihat melalui kaca spion mobil yang berada di dalam sosok bayangan hitam di belakang kursi mobilnya bayang hitam itu terlihat samar-samar.


Saat bayangan hitam itu mulai memperlihatkan sosoknya Hendra begitu sangat terkejut.


Ternyata kuntilanak itu kembali menghantui dirinya.


Dengan cepat spontan Hendra mempercepat laju mobilnya.


Nasib baik masih berpihak kepada Hendra. Hendra yang telah sampai di parkiran mobil dengan segera keluar dari mobilnya.


Hendra yang tergesa-gesa berjalan masuk ke kantornya.


“Pak Hendra!” tegur Toni.


Seketika langkah Hendra terhenti ketika ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


“Ya Toni, ada apa?”


“Saya turut berduka cita pak atas kematian istri bapak bu Dina,” ujar Toni.


“Sama-sama Toni, oh iya bagaimana perkembangan perusahaan kita ketika aku tidak ada?” 


“Alhamdulillah Pak sesuai dengan keinginan bapak saya keuntungan perusahaan kita mengalami kenaikan kembali.”


“Bagus kalau begitu, jangan kamu ganti-ganti kembali bahan baku produksi kita mengerti!” Hendra yang menasihati Toni.


“Apa itu tidak membohongi konsumen Pak?” 


“Ah kamu tahu apa tentang itu bahan baku sama hanya saja kita memakai bahan baku yang standar tidak berkualitas.”


“Tapi iklan produk kita memakai bahan yang berkualitas Pak, bagaimana jika konsumen kecewa dan tahu akan rasanya pak?” 


“Semua teh rasanya sama saja Toni, hanya sedikit orang yang paham dengan teh yang berkualitas jadi dari 1000 orang yang membeli paling hanya 5 atau 7 mungkin. Masih aman dan kita masih bisa mengambil keuntungan dari mereka,” Hendra yang menjelaskan kepada Toni.


“Tapi pak, menurut saya kita tetap saja membohongi konsumen.”


“Eh, Toni  jika kamu masih ingin bekerja di perusahaanku ikutin aturan main ku, kamu paham Toni!” gertak Hendra.


“I-iya pak saya mengerti,” sahut Toni.


Hendra meninggalkan Toni menuju ruangan kerjanya.  


Hendra yang sudah sampai di pintu ruangan kerja ya pun mulai membuka dan masuk, Hendra berjalan ke meja kerja duduk sembari melihat berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


Hendra mulai menyalakan laptopnya di atas meja kerjanya. Setelah itu Hendra mulai menelepon Rini sekretaris pribadinya.


“Hallo Rini,”


“Iya Pak Hendra!” 


“Bisa ke ruangan saya, dan tolong bawa laporan ketika saya tidak ada di kantor.”


“Iya Pak,” sahut Rini di telepon.


Hendra pun mematikan telepon Rini.


Selang beberapa menit Rini telah tiba di depan pintu ruangan Hendra.


“Permisi Pak,” ucap Rini sembari mengetuk pintu ruangan Hendra.


“Masuk saja Rin.”


Rini pun masuk ke dalam ruangan Hendra.


“Silakan duduk.”


“Terima kasih Pak, ini laporan yang tadi bapak minta,” Rini yang menaruh beberapa berkas di meja Hendra.


“Terima kasih Rini.”


“Saya turut berduka cita atas meninggalnya bu Dina,” ucap Rini.


“Iya dan sebentar lagi Rin kamu akan menjadi bu Hendra, Dina telah menyerahkan perusahaannya kepadaku setelah 40 hari kematian Dina aku akan menikahimu.”


Ternya Hendra sudah lama bermain dengan di belakang Dina dengan Rini sekretaris pribadinya.


Rini mempunya kemolekan tubuh yang membuat Hendra tergoda di tambah lagi paras cantik dan seksi yang di miliki Rini membuat naluri Hendra sebagai laki-laki ingin memiliki Rini sepenuhnya 


Hendra yang selalu pulang malam mengerjakan pekerjaannya itu hanya alasan dirinya untuk membohongi Dina padahal sebenarnya Hendra bersama Rini sedang bersenang-senang di sebuah hotel bintang lima.