
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, akan tetapi Hendra belum juga pulang ke rumah.
Dina yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur berdiri untuk mengambil teleponnya yang berada di atas meja kamarnya.
Setelah Dina mendapatkan telepon genggam miliknya Dina pun menelepon Hendra.
“Hallo Mas.”
“Iya Sayang.”
“Kamu belum pulang?”
“Belum sayang, masih banyak pekerjaan yang aku harus selesaikan hari ini. Kamu tidak usah menungguku sayang, nanti jika sudah selesai aku akan segera pulang.”
“Ya Sudah kalau begitu, aku tidur duluan hari ini aku merasakan sangat lelah dan mengantuk Mas.”
“Iya sayang kamu tidur duluan tidak baik buat ibu hamil tidur larut malam tidak usah menungguku pulang.”
“Iya Mas.”
Telepon di matikan oleh Dina. Setelah itu Dina menaruh teleponnya kembali di atas meja dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Dina yang merebahkan dirinya di atas tempat tidur pun mulai merasa mengantuk sayup-sayup mata Dina mulai terpejam dan masuk ke alam mimpi.
Di saat Dina mulai tertidur dirinya merasakan ada seseorang yang sedang mengelus-elus perutnya.
Namun karena Dina sangat mengantuk Dina begitu berat membuka matanya.
“Kamu sudah pulang Mas, katanya pekerjaan masih banyak,” ucap Dina sembari memejamkan matanya.
“Kok kamu diam saja Mas, dan tanganmu kenapa sangat dingin sekali,” ujar Dina yang memegang tangan seseorang yang mengelus perutnya sembari memejamkan matanya.
Dina yang mengira Hendra sedang tidur di sampingnya sambil mengelus perutnya tidak menjawab pertanyaannya.
“Mas, kok kamu diam saja? Tubuhmu sangat bau amis kamu habis ngapain mas?” ujar Dina.
Dina mengulangi pertanyaannya kembali mengira yang tidur di samping itu Hendra.
Tidak ada jawaban Dina mulai membuka matanya, hal pertama yang Dina lihat saat membuka matanya adalah tangan yang Dina kira Hendra sedang mengelus-elus perutnya.
Saat Dina melihat sebuah tangan yang berada di atas perutnya dengan kuku tangan yang panjang serta kulit di permukaan tangan penuh dengan koreng.
Dina yang tidur dengan posisi membelakangi sosok makhluk yang dia kira suaminya, langsung membalikkan badan.
Sontak saja Dina berteriak, ternyata yang dia kira itu suaminya adalah sosok kuntilanak yang sedang tidur bersamanya.
Dina keluar kamar lalu berlari menuju depan pintu kamar Sundari.
Dina mengedor-gedor pintu kamar Sundari.
“Bi Sun buka pintunya! bi sun buka!” pekik Dina sembari mengedor pintu kamar Sundari.
Ceklek
Sura pintu kamar Sundari terbuka.
“Ada apa Nyonya?” tanya Sundari yang seakan-akan tidak mengetahui apa-apa.
“I-itu ada kun-kuntilanak di kamarku Bi Sun,” ucap Dina yang sangat ketakutan.
“Di rumah ini tidak ada apa-apa Nyonya!” Sundari menegaskan.
“Aku yakin tidak salah lihat Bi Sun, jika Bi Sun tidak percaya ayo kita ke kamarku,” ajak Dina berusaha meyakinkan apa yang dia liat kepada Sundari.
“Baik Nyonya,” sahut Sundari dengan santai.
Dina beserta Sundari pun menuju kamar Dina beserta Hendra.
“Tidak ada apa-apa Nyonya.”
“Aku yakin melihatnya di kamar ini, kuntilanak itu tidur di sampingku dan mengelus-elus perutku. Aku sangga tadi Mas Hendra, namun saat aku membuka mata ternyata kuntilanak itu Bi Sun,” pungkas Dina kepada Sundari.
“Mungkin Nyonya hanya kelelahan saja, sehingga berhalusinasi. Sebaiknya Nyonya beristirahat tidak baik untuk ibu hamil muda tidur larut malam.”
“Tapi Mas Hendra belum pulang Bi Sun, aku takut di kamar sendirian.”
Tidak berselang lama Hendra pun pulang menuju kamarnya.
“Ada apa ini?”
“Mas, lama sekali kamu pulang aku takut,” tutur Dina sembari memeluk Hendra yang baru saja pulang dari kantor.
“Ada apa ini Bi Sun?”
“Nyonya Dina katanya melihat kuntilanak di kamarnya Tuan,” Sundari yang menjelaskan.
“Ohh, ya sudah Bi Sun jika kamu ingin melanjutkan beristirahat silakan, biar aku yang menemani Dina,” kata Hendra masih memeluk sang istri.
“Permisi Tuan, dan Nyonya saya kembali ke kamar,” kata Sundari pergi meninggalkan mereka berdua.
“Sayang tubuhku kotor, aku ingin mandi terlebih dahulu untuk membersihkan badan,” tutur Hendra ingin melepaskan pelukan Dina kepadanya.
“Ya sudah Mas, jangan lama-lama aku sangat takut.”
“Iya sayang,” sahut Hendra sembari mencium kening Dina.
Dina menunggu Hendra di tempat tidurnya sementara Hendra masuk ke kamar mandi yang berada di kamarnya untuk membersihkan diri.
Beberapa menit telah berlalu Hendra telah selesai mandi lalu mengenakan baju tidur.
Hendra yang sangat lelah karena banyaknya pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini, Hendra pun mendekati Dina merebahkan tubuhnya di samping Dina.
Sebelum mereka berdua tidur Dina mengajak Hendra untuk berbincang-bincang sebentar.
“Mas, apa kau tidak menyadari keanehan di rumah kita?” ucap Dina merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Tidak ada sayang semuanya biasa-bisa saja memang ada apa? Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?”
“Coba ingat baik-baik Mas, semenjak kedatangan Bi Sun. Ke rumah kita banyak peristiwa aneh.”
“Peristiwa aneh?” Hendra yang binggung.
“Iya Mas, dari Retno yang tiba-tiba terjatuh dari tangga, kepergian Nisa yang tidak mau bekerja di rumah ini tanpa memberikan alasannya. Lalu kepergian Angga untuk selamanya dan yang terakhir aku sering bermimpi kuntilanak itu bahkan sering menemuinya di rumah ini.”
Dina yang menjelaskan kejadian demi kejadian yang dia telaah.
“Mungkin semua itu hanya kebetulan sayang.”
“Ini bukan kebetulan Mas, setiap kejadian jika di telaah ada sangkut pautnya,” pungkas Dina.
“Sudahlah sayang, aku lelah hari ini aku malas membahas hal ini. Lagi pula kita tidak boleh sembarangan menuduh orang jika tidak ada bukti. Kamu sedang hamil muda jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting nanti bisa mempengaruhi kesehatanmu sayang,” Hendra yang menepis kecurigaan Dina terhadap Sundari.
Dina terdiam mendengar kata-kata dari Hendra.
“Mari kita tidur sayang, jangan terlalu berfikir keras tidak baik untuk kesehatanmu nanti,” Hendra yang menasihati Dina.
“Iya Mas.”
Malam semakin larut Hendra yang merasa sangat lelah tidak kuasa menahan rasa kantuknya. Hendra mulai tertidur dengan sangat pulas sementara Dina yang di tinggal Hendra lebih dulu tidur kembali mulai merasakan kantuk Dina pun melanjutkan tidurnya kembali setelah di ganggu kuntilanak itu.