
Keesokan paginya Hendra bekerja seperti biasanya selepas sarapan pagi Hendra kembali berangkat kerja.
“Bi aku pergi ke kantor terlebih dahulu, nanti jika ada apa-apa di rumah tolong kabari aku,” ucap Hendra.
“Baik Tuan,” sahut Sundari dengan singkat.
Hendra pun mulai menaiki mobilnya, menjalankan mobilnya menuju kantor.
Di tengah perjalanan Hendra di kagetkan kembali dengan teror dari kuntilanak yang menyamar menjadi Rini.
Hendra yang melihat kembali arwah Rini di belakang tempat duduk mobilnya.
“Mas kamu jahat sekali denganku.”
“Pergi jangan mengganggu aku!” pekik Hendra di dalam mobil sembari mengemudikan mobilnya.
Hendra pun mempercepat laju mobilnya, hingga dirinya telah sampai di parkiran mobil ia segera keluar dari dalam mobil berjalan menuju kantor.
Di kantor pun Hendra tidak luput di teror oleh Kuntilanak itu.
Ketika Toni sedang ingin bertemu Hendra di ruangan Kerjanya.
Hendra lagi-lagi melihat Toni sebagai arwah Rini.
“Bukan aku yang menyebabkan kamu mati Rini, bukan aku!” pekik Hendra yang di dekati oleh Toni.
“Pak Hendra ini saya Toni!” Toni yang menegaskan kepada Hendra.
“Pergi! Pergi! Menjauh dariku,” Hendra yang terus-menerus berteriak.
Toni pun mengikuti ucapan Hendra ia keluar dari ruangan kerja Hendra.
‘Pak Hendra semakin lama semakin aneh,' gumam Toni yang pergi meninggalkan ruangan Hendra.
***
Beberapa bulan telah berlalu gosip tentang Hendra di kantornya semakin meluas, para pegawainya yang bekerja di kantornya mulai menganggap Hendra aneh tidak hanya itu perselingkuhannya dengan Rini pun menjadi buah bibir kantornya.
Suatu hari di kala Hendra ingin pulang dari kantornya para pegawainya sedang membicarakan dirinya di kantor.
“Lihat sekarang Pak Hendra semakin hari semakin aneh, suka teriak-teriak sendiri seperti orang sedang depresi,” ujar salah satu pegawai Hendra.
“Iya benar apa katamu, kemarin aku ke ruangan pak Hendra awalnya tidak ada masalah namun saat aku di perbolehkan masuk ke ruangannya pak Hendra berteriak-teriak menyuruh aku untuk pergi aneh bukan. Semenjak kepergian Rini pak Hendra mulai aneh,” sahut pegawai wanita.
“Sudahlah, biarkan saja yang penting gajih kita masih tetap di bayar,” sambungnya kembali.
Tiba-tiba Hendra dari arah belakang menegur mereka berdua.
“Kalian membicarakan aku?” tegur Hendra.
“Eh pak Hendra, tidak pak mana mungkin kami membicarakan bapak,” ucap salah satu pegawai Hendra.
“Awas kalian berdua jika saya mendengar kalian menjelek-jelekkan saya, kalian akan siap-siap untuk pergi dari kantor saya,” teguran keras dari Hendra.
“I-iya Pak.”
Hendra pun meninggalkan mereka berdua menuju tempat parkir.
Hendra pun kini mulai kecanduan obat penenang di kala dirinya mulai ketakutan, dan jimat yang di pakai oleh Hendra memang tidak bisa membuat kuntilanak itu membunuhnya namun kuntilanak itu selalu menerornya terus menerus hingga membuat Hendra mulai depresi.
Hendra sudah mulai tidak masuk kerja, karena dirinya sudah tidak fokus lagi jika bekerja, rasa takutnya membelenggu dirinya Sendiri.
Setiap malam pun Hendra selalu mimpi buruk yang membuat tidurnya tidak tenang.
Hendra selalu bermimpi dirinya yang memperkosa Sundari di waktu di desa dulu.
Hingga akhirnya semua rahasia terbongkar di malam itu.
Sundari yang berada di kamarnya sedang membaca mantra memanggil kuntilanak Durmo untuk meneror Hendra.
Di saat Hendra berada di kamarnya kuntilanak Durmo mulai kembali menghantui dirinya.
Hendra yang di kala itu belum tertidur sedang memandangi langit-langit kamarnya dengan di temani musik santai yang di putar di ponselnya.
Namun di saat Hendra mulai merasa tenang Hendra melihat di atas langit-langit kamarnya sebuah bayangan hitam.
Hendra yang terkejut berdiri dari tempat tidurnya untuk menyalakan lampu kamarnya yang saat itu Hendra matikan menggantinya dengan lampu tidur.
Akan tetapi bukannya menghilang saat Hendra menyalakan lampu kamarnya bayangan hitam itu malah semakin tampak jelas.
Hendra yang sangat ketakutan pun berlari membuka pintu kamarnya.
Anehnya di saat Hendra ingin membuka pintu kamarnya pintu itu seperti terkunci tidak bisa di buka padahal sebenarnya pintu kamar Hendra sendiri tidak ia kunci.
Kuntilanak itu pun mulai berjalan merangkak mendekati Hendra.
Hendra yang mulai panik pun mengedor-gedor kamarnya meminta bantuan Sundari untuk membantunya.
“Bi Sun! Bi Sun! Tolong aku!” teriak Hendra yang mengedor dengan sangat keras pintu kamarnya.
Namun tidak ada jawaban dari Sundari Hendra pun mulai kembali mengedor-gedor pintu kamarnya memanggil Sundari untuk menolongnya.
“Bi Sun, tolong aku!” pekik Hendra.
Sundari yang mendengar teriakan Hendra pun mulai menghampiri Hendra di kamarnya.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka.
Melihat pintu kamar yang terbuka Hendra pun berlari keluar.
Sundari pun berpura-pura menanyakan kepada Hendra apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa sebenarnya yang terjadi Tuan, mengapa Tuan Hendra berteriak-teriak histeri” tanya Sundari yang berpura-pura tidak mengetahui.
“I-itu di kamarku,” ujar Hendra yang menunjuk ke dalam kamarnya.
Sundari masuk ke dalam kamar melihat apa yang di katakan Hendra.
Saat Sundari masuk ke kamar Hendra dia tidak melihat apa-apa.
“Tidak ada apa-apa di Kamar tuan!” ujar Sundari yang memberitahukan kepada Hendra.
Hendra mulai masuk ke kamarnya kembali melihat apa yang di ucapkan Sundari.
Ternyata benar apa yang di ucapkan Sundari tidak ada apa-apa di kamar Hendra.
“Tadi aku melihat Kuntilanak itu di kamarku,” Hendra berusaha meyakinkan Sundari.
“Tidak ada apa-apa Tuan!” sahut Sundari secara singkat.
“Mungkin saja Tuan kelelahan dan berhalusinasi!” ucap Sundari.
“Tidak Bi Sun aku sangat yakin dengan yang aku lihat, bis Sun bisa menemani aku? Aku tidak mau berada di kamar ini!” pinta Hendra.
“Baik Tuan, mau saya buatkan susu hangat?”
“Iya Bi Sun boleh,” sahut Hendra.
Sundari pun pergi ke dapur untuk membuatkan susu hangat sementara Hendra berada di ruang tamu menunggu Sundari.
Beberapa menit kemudian Sundari menghampiri Hendra dengan membawakan dirinya segelas susu hangat.
“Ini susu hangatnya Tuan,” ucap Sundari sembari menyodorkan susu hangat ke meja tempat Hendra duduk.
“Terima kasih Bi Sun, oh iya bisakah bi Sun menemani aku duduklah di sini temani aku untuk mengobrol,” pinta Hendra.
“Baik Tuan!” ujar Sundari.
Hendra pun memulai perbincangannya kepada Sundari.
“Oh iya Bi aku ingin bercerita kepada Bi Sun. Sudah beberapa bulan ini aku sering bermimpi tentang masa laluku yang suram Bi,” ujar Hendra.
“Kalau boleh saya tahu tuan bermimpi apa?” tanya Sundari.
“Aku selalu bermimpi memperkosa gadis desa di kampungku,” ucap Hendra yang menjelaskan secara singkat kepada Sundari.
“Lalu bagaimana gadis itu? Ucap sundari yang berpura-pura tidak mengetahui.
“Sebenarnya aku suka dengan gadis itu dia sangat cantik dan menjadi kembang desa di kampungku, tapi karena dia seseorang yang miskin aku tidak mungkin menjadikannya sebagai istriku. Suatu malam Sundari nama gadis itu sedang berjalan di kegelapan malam, aku yang sudah lama menaruh hati pun mencoba mendekati gadis itu. Ternyata gadis itu ingin membeli obat untuk neneknya. Awalnya aku sangat iba kepadanya namun karena nafsuku sangat memuncak di saat itu dan aku pun di pengaruhi oleh minuman beralkohol membuat diriku berniat jahat kepadanya,” Hendra yang bercerita masa lalunya kepada Sundari.