
Keesokan paginya selepas sarapan pagi Doni berserta Lisa tengah bersiap-siap pergi ke rumah Hendra.
“Ayo Mah kita berangkat?” ujar Doni.
“Iya Pah tunggu sebentar,” sahut Lisa yang tengah memoles wajahnya dengan balutan make up
Selesai berdandan Lisa pun telah siap untuk berangkat menuju rumah Hendra.
“Ayo Pah, Mamah sudah siap,” ajak Lisa.
Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju mobil mereka.
Sesampainya di depan mobil, Doni dan Lisa masuk ke dalam mobil di temani pak Soleh sopir pribadi mereka.
“Pak ke rumah Hendra,” ujar Doni yang memberitahu tujuan pejalannya.
“Baik Pak,” ujar pak Soleh yang mulai menjalankan mobil.
Mereka bertiga pun pergi menuju rumah Hendra.
Di dalam perjalanan Doni beserta sang istri sedang berbincang santai di dalam mobil.
“Pah, Mamah dengar penjelasan Dokter tentang kondisi mayat Hendra. Kenapa Hendra mati dengan tanda gosong di lehernya ya?” Lisa yang mencerna ulang ucapan Dokter mengenai perihal kematian Hendra.
“Entah Mah, Papah pun tidak mengerti mengapa Hendra seperti itu, anggap saja itu teguran Tuhan untuk dirinya,” sahut Doni.
“Sudahlah Pah, kamu harus menghilangkan rasa bencimu terhadap Hendra, bagaimana pun Hendra adalah suami dari Dina dan sekarang Hendra pun sudah menerima hukumannya.”
“Iya Mah, maafkan Papah. Papah hanya kesal saat mendengar cerita Hendra dari Toni sekejam itu Hendra kepada anak kita padahal dengan sepenuh hati Dina selalu membantu Hendra, Papah sangat kesal jika putri kesayanganku di sakiti oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
“Iya Mamah mengerti, aku sebagai ibunya pun tidak terima jika anakku di perlakukan seperti itu.”
“Sudahlah Mah, papah malas untuk membahas kebusukan Hendra.”
Tidak berselang lama mereka telah tiba di depan pintu pagar rumah Hendra.
Pak Soleh menekan terakson mobil, berharap Sundari keluar untuk membukakan pintu pagar yang di kunci oleh dirinya.
Setelah menekan terakson mobil berulang kali barulah Sundari keluar dari rumah Hendra.
Sundari berjalan menuju ke pintu pagar membukakan pintu untuk orang tuanya Dina.
Setelah pintu pagar di buka oleh Sundari pak Soleh pun menjalankan mobilnya masuk ke halaman rumah.
Pak Soleh pun memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hendra setelah itu Doni beserta Lisa pun turun dari.
“Mari masuk Pak dan Ibu,” ucap Sundari mempersilahkan mereka masuk ke rumah Hendra.
Mereka berdua pun masuk ke rumah Hendra serta duduk di ruang tamu.
Doni pun membuka perbincangan terlebih dahulu.
“Begini Bi, ada yang saya ingin tanyakan ke pada Bibi. Apa Bibi kenal dengan Pak Hendra secara dekat.”
“Memangnya ada apa pak Doni,” sahut Sundari yang pura-pura tidak tahu.
“Begini Bi, oh ya kalau boleh saya tahu nama Bibi, lebih enak memanggilnya.
“Ya Pak, panggil saja Bi Sun.”
Doni pun melanjutkan kembali maksud dirinya yang ingin bertemu Sundari.
“Begini Bi Sun, mungkin Bi Sun belum mengetahui kabar dari pak Hendra sendiri, pak Hendra di rawat di rumah sakit jiwa karena kata Dokter yang merawatnya sikap Hendra berubah saat itu dirinya sering sekali mengamuk-ngamuk bahkan bisa melukai orang yang didekatnya pihak rumah sakit sendiri telah menghubungi kami selaku keluarga terdekat pak Hendra. Dan kami berdua sepakat agar pak Hendra dirawat ke RSJ. Namun sehari di rawat di sebuah rumah sakit jiwa pak Hendra meninggal dunia sampai sekarang pihak rumah sakit pun tidak tahu kenapa pak Hendra meninggal dunia. Ada bekas gosong di leher pak Hendra, nah maksud kami datang ke sini ingin menanyakan apa pak Hendra mempunya keluarga dekat, karena pak Hendra sendiri yang berbicara kepada kami tidak punya keluarga ayah dan ibunya sudah lama meninggal apa Bi Sun tahu?”
Doni yang menceritakan panjang lebar tentang Hendra dan maksud hatinya ingin bertemu Sundari.
Sundari pun mulai menjawab pertanyaan dari Doni.
“Sebenar secara kebetulan saya kenal dengan Pak Hendra. Sopir pak Hendra sendiri yang bernama Iwan adalah tetangga saya di desa dulu, pak Hendra menyuruh Iwan untuk mencarikan pembantu rumah tangga dan kebetulan saya sedang butuh pekerjaan. Ternyata setelah sampai di sini saya bertemu pak Hendra anak dari pemilik perkebunan teh yang dulu–,” cerita Sundari yang terhenti.
“Lalu Bi Sun orang tua pak Hendra sendiri apakah masih hidup?”
“Iya Pak Doni, orang tua pak Hendra sendiri masih hidup di desa saya, kebetulan ayah dari pak Hendra yaitu pak Gunawan sedang sakit.”
“Baiklah jika begitu, saya sudah mendapat informasi dengan Bi Sun. Kami selaku orang tua Dina ingin mengembalikan jenazah pak Hendra kepada pihak keluarga dan sekarang ini jasad pak Hendra masih ada di rumah sakit,” jelaskan kembali Doni.
“Kami ingin meminta tolong kepada bi Sun untuk menemani kami membawa jasad pak Hendra ke desanya,” pinta Doni.
“Iya pak Doni saya akan bantu rencananya besok saya akan pulang ke desa, ingin bertemu keluarga saya,”
“Apa tidak hari ini saja Bi Sun pulang ke desa dan nanti Bi Sun akan kami antar pulang berserta jasad pak Hendra dengan mobil ambulan,” saran dari Doni.
Sundari pun tidak memberitahukan dengan detail siapa dirinya, melihat pak Doni selaku mertua Hendra yang meminta tolong kepadanya akhirnya Sundari pun mengiyakan permintaan mereka untuk membantu mereka membawa pulang jasad Hendra ke rumah orang tuanya.
“Kalau begitu saya permisi dahulu mau merapikan pakaian saya di kamar pak,” ujar Sundari.
“Oh silakan Bi Sun kami akan menunggu di sini,” sahut Doni.
Sundari pun meninggalkan mereka berdua di ruang tamu dan segera ke kamarnya untuk membereskan segala benda yang ingin ia bawa pulang ke desa.
Satu jam telah berlalu Sundari pun telah siap dengan tasnya yang berisi baju dan perlengkapan dirinya.
“Pak Doni, saya sudah siap,” ujar Sundari yang menenteng tasnya.
“Kalau begit mari kami antar Bi Sun pulang,” ujar Lisa.
Sundari pun berjalan menuju mobil keluarga Doni untuk menjemput jasad Hendra yang berada di rumah sakit.
Sundari yang sudah berada di pelataran rumah mengunci rumah Hendra dan memberikan kunci tersebut kepada orang tua Dina.
Sundari mulai menaiki mobil Doni.
“Ayo Pak Soleh kita jalan ke rumah sakit!” perintah Doni.
“Baik Pak.”
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan rumah Hendra begitu pun dengan Sundari yang tidak akan menginjak rumah Hendra lagi untuk selamanya.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Doni membuka obrolan dirinya sangat ingin tahu tentang Hendra di masa mudanya dulu.
Sundari tidak banyak memberitahu tentang Hendra kepada Doni, karena ia sadar jika semua kematian mereka adalah ulah dari Sundari sendiri.
Tepat 1 jam dari rumah Hendra mereka telah tiba di rumah sakit yang menyimpan jasad Hendra.
Doni berserta istri pun masuk ke dalam rumah sakit tersebut, sementara Sundari berserta pak Soleh menunggu mereka berdua di dalam mobil.
Setelah menunggu beberapa lama di dalam mobil akhirnya Doni beserta sang istri kembali menghampiri mereka di dalam mobil.
“Ayo pak Soleh kita berangkat,” ujar Doni.
“Baik Pak,” sahut pak Soleh.
Pak Soleh pun menyalakan mesin mobil pergi menuju desa, sementara jasad Hendra berada di dalam mobil ambulan kedua mobil pun berangkat menuju desa.
Perjalanan menuju ke tempat keluarga Hendra sendiri tidak terlalu jauh hanya memakan waktu kurang lebih tiga jam.
Terutama Pak Doni yang membuka pembicaraan.
“Mbak Sun ini memangnya tetangga pak Hendra? Tanya Doni.
“Iya pak waktu dulu.”
“Oh iya berarti, Hendra ini anak orang terpandang di desanya?”
“Iya pak waktu dulu,” sahut Sundari secara singkat.
Doni yang tidak puas mengali informasi tentang Hendra pun mencoba menanyakan sedetailnya dengan Sundari.
“Memangnya kenapa kalau boleh saya tahu?”
“Pak Hendra menjual semua kekayaan milik bapaknya ke orang lain, setelah itu pak Hendra pergi dari desa itu entah ke mana, semenjak kejadian itu pak Gunawan orang tua dari pak Hendra sakit-sakitan hingga sekarang pak Gunawan mengalami sakit strok yang menyebabkan dirinya tidak dapat berjalan hanya di kursi roda saja,” Sundari yang menjelaskan kepada Doni.
“Astagfirullah, memang benar-benar biadab Hendra kepada orang tuanya. Lalu bi Sun apa yang Bibi Sun ketahui dari Hendra ini? Doni yang menanyakan kembali kepada Sundari.
“Sebenarnya pak Hendra dulu pernah memperkosa saya di waktu saya masih berumur 17 tahu,” Sundari yang memberitahukan kepada mereka berdua ke burukan Hendra.
“Astagfirullah, pantas saja sekarang dia seperti ini, ini karma dari perbuatannya di masa lalu. Sudah bi Sun Hendra sudah mendapat ganjarannya,” ucap Doni yang sedang menenangkan Sundari menangis.
Tak habis-habis untuk menceritakan keburukan Hendra di masa mudanya.
Tiga jam telah berlalu mereka pun telah sampai di desa Sundari, menuju ke rumah orang tua Hendra.
Namun di tengah jalan Sundari meminta untuk di turunkan di sini.
“Pak saya turun di sini saja,” ucap Sundari.
“Tidak papa Bi Sun kami antarkan Bi Sun sampai rumah,” sahut Lisa.
“Tidak usah Bu dan Pak saya turun di sini saja rumah saya tidak jauh dari sini,” Sundari yang enggan dirinya di ketahui oleh orang lain.
Karena Sundari terus menerus minta di turunkan di sana, akhirnya mereka pun menuruti permintaan Sundari.
“Pak dan Bu saya pamit dahulu terima kasih, ikuti saja jalan ini nanti bapak dan ibu akan melihat rumah berwarna hijau, itulah rumah orang tua Hendra,” Sundari yang memberitahukan di mana rumah orang tua Hendra.
“Baik Bi Sun, sudah mengantarkan kami,” ujar Lisa.
Sundari pun berjalan menuju hutan, sementara mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka ke rumah orang tua Hendra.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit menuju rumah orang tua Hendra.
Akhirnya mereka pun telah sampai di rumah orang tua Hendra.
Awalnya kedua orang tua Hendra yang terkejut mendengar sirene ambulan, Namun Doni sebagai mertua Hendra pun menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumah pak Gunawan.
Setelah menjelaskan panjang dan lebar orang Hendra sangat terpukul kini Hendra pulang hanya berupa jasad.
Tangisan di rumah Gunawan semakin pecah ketika jasad Hendra di turunkan dari mobil ambulan.
Semua penduduk desa pun sangat terkejut karena sudah sekian lama tidak mendengar kabar dari Hendra saat dirinya pergi meninggalkan desa ini.
Jasad Hendra pun di taruh di rumahnya sebelum di kuburkan jasad Hendra di mandikan terlebih dahulu, setelah itu di kafani lalu di sholatkan barulah di kuburkan.
Satu jam telah berlalu tahap demi tahap telah selesai di lakukan akhirnya Hendra pun di bawa untuk ke tempat peristirahatannya.
Doni beserta istri pun ikut dalam proses pemakaman Hendra.
Warga desa membantu proses pemakaman Hendra, mereka membawa jasa Hendra menggunakan keranda yang ada di mushola.
Setelah sampai di pemakaman setempat jasad Hendra lalu di masukan keliang lahat.
Tangisan kembali pecah oleh ibunya Hendra melihat anak satu-satunya harapan mereka kini telah pergi untuk selamanya.
“Sudah Bu ikhlaskan kepergian Hendra kamu tahu betul perasaan ibu ketika anak perempuan kami satu-satunya pun telah pergi meninggalkan kami, hati orang tua mana yang tidak hancur dan sedih jika anak yang ia sayangi pergi dahulu meninggalkan kita,” tutur Lisa yang mencoba menenangkan hati ibunda Hendra.
Lisa memeluk ibu Hendra, memberikan semangat serta mencoba menenangkan hatinya.
Setelah proses pemakaman telah selesai mereka berdua pun kembali pulang ke kota.
Sementara Sundari telah berada di rumahnya di sambut hangat oleh keluarga kecilnya.
Kini Adit sudah berusia dua tahun, Adit pun sangat pandai dan bisa sudah bisa memanggil kata ibu.
Terlihat bola mata Sundari yang berkaca-kaca melihat anaknya, kerinduannya terhadap Adit pun tidak bisa Sundari tahan sembari mengendong Adit, Sundari pun meneteskan air mata.
Saat itu Sundari sedang melepaskan kerinduan bersama anaknya di pelataran rumah di temani oleh Baskoro.
“Kek terima kasih sudah mengurus Adit, selama aku pergi,” tutur Sundari.
“Iya Sundari, tidak perlu berterima kasih, Adit memang sedari dulu sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri, bagaimana tugasmu Sundari apa telah selesai?” tanya Baskoro.
“Iya Kek, dendamku sudah terlampiaskan sekarang Sundari telah merasa tenang, semua keluarga kecil Hendra sudah Sundari habisi, berkat bantuan kuntilanak Durmo,” pungkas Sundari kepada Baskoro.
“Baguslah jika begitu Sundari sekarang hatimu tidak di penuhi oleh dendam masa lalu kembali, dan bisa menjalankan kehidupan dengan sediakala,” sahut Baskoro.
“Besok aku akan kembali ke perkebunan pak Rehan untuk bekerja kembali di sana.”
“Aku selalu mendukungmu Sundari, bagaimana hubungan mu dengan Rian mengapa kau tidak membawanya ke sini Sundari?” tanya Baskoro.
“Sundari belum siap Kek, biarkan saja semuanya berjalan nanti waktu yang akan menjawab semua ini, apakah Sundari bersama Rian atau sebaliknya Sundari akan sendiri,” tutur Sundari.
***
Senja kuning mulai berubah menjadi ke abu-abuan suara hewan-hewan nokturnal pun mulai bermunculan.
Sepinya malam di rumah gubuk yang Sundari diami membawa kedamaian tersendiri baginya.
Walau hanya bertiga di dalam rumah kecil itu membuat Sundari sangat begitu bahagia.
Malam itu Sundari mengajak Baskoro untuk berbincang-bincang saat Adit tengah tertidur.
“Sundari mau mengucapkan terima kasih banyak kepada kakek, jika saat itu Sundari tidak bertemu dengan kakek, entahlah mungkin Sundari sudah tidak ada di dunia ini lagi.”
“Ndri anakku mungkin pertemuan kita itu sudah di atur dan hanya kau yang terpilih bahkan telah berhasil mempelajari ilmu mangkijiwa itu sendiri. Karena ilmu ini bukan ilmu sembarangan banyak orang yang mempelajari ilmu ini namun tidak ada yang berhasil mereka pun mati, karena ilmu ini mengandalkan kekuatan batin yang dapat mengendali Durmo, yang terkuat adalah dia yang menang. Begitulah Sundari,” tutur Baskoro menjelaskan asal usul ilmu hitam mangkujiwa.
“Dan kamu yang terpilih untuk mempelajari ilmu hitam ini,” ucap kembali Baskoro.
“Iya kek Sundari akan selalu ingat pesan dari kakek.”
“Mari kita tidur malam sudah semakin larut besok kamu akan ke kembali bekerja di perkebunan teh.”
“Baik kek,” sahut Sundari pergi menuju kamarnya.
Mereka berdua pun mulai tertidur di tegah sepinya malam di hutan belantara.
Hanya suara hewan nokturnal yang menemani malam mereka di rumah gubuk itu.