
Sementara di sisi lain evakuasi Dina baru bisa di kerjakan di pagi harinya karena terkendala dengan penerangan yang minim.
Mobil Dina yang masuk ke jurang di tarik oleh mobil derek.
“Hati-hati, terus! Terus!” teriak salah satu petugas evakuasi yang memberi arakan kepada sopir mobil derek
Mobil derek pun menarik mobil Dina dengan sangat hati-hati.
30 puluh menit telah berlalu mobil Dina pun berhasil di tarik ke jalan.
Sementara kondisi Dina sendiri masih hidup dengan keadaan kritis, Dina mengalami patah tulang di bagian kedua kakinya, dan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Sementara Iwan sopir Dina meninggal di tempat karena luka benturan hebat di kepalanya membuat pembuluh darah pecah di bagian kepalanya.
Mereka berdua telah di amankan di dalam ambulan lalu di bawa ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit Dina yang tidak sadarkan diri dan sangat kritis segera di tangani oleh tim medis ke ruang ICU.
Di sana Dina langsung di operasi memasukkan pen ke dalam dua kaki Dina.
Sementara pihak rumah sakit menghubungi Hendra untuk memberitahukan bahwa Dina mengalami kecelakaan dengan kondisi yang sangat kritis.
KIRING
Telepon genggam Hendra berbunyi.
Hendra mengambil telepon genggamnya yang berada di atas meja ruang tamu.
“Hallo selamat pagi dengan Pak Hendra,” ucap salah satu petus rumah sakit.
“Iya saya sendiri, ini dengan siapa dan ada apa?” jawab Hendra yang tidak mengenali panggilan masuk dengan nomor baru di HP nya.
“Saya dari pihak rumah sakit, mengabarkan ibu Dina mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit Tunas Bangsa ibu Dini masih selamat namun kondisinya kritis sekarang harap pihak keluarga segera mendatangi ke rumah sakit.”
“Ba-baik saya akan segera ke sana,” ujar Hendra yang panik di dalam telepon.
Tanpa berlama-lama Hendra segera masuk ke kamarnya mengati baju tidurnya.
Setelah selesai mengganti baju tidurnya Hendra segera bergegas pergi keluar mendatangi mobilnya.
Hendra yang telah berada dia dalam mobil pun segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit di mana Dina sedang di rawat
Sesampainya di rumah sakit Hendra mendatangi pusat informasi untuk menanyakan pasien yang bernama Dina.
Hendra mendapatkan informasi bahwa Dina sedang di ruang ICU dalam keadaan kritis.
Hendra berjalan menuju ruang ICU, sesampainya di sana Hendra duduk menunggu Dokter yang telah selesai menangani Dina.
Selama dua jam Hendra menunggu di luar ruang ICU Dokter pun telah keluar dari ruangan itu.
Hendra mulai menanyakan keadaan Dina Dokter.
“Dok bagaimana keadaan istri saya? Dan akan saya Dok” ucap Hendra yang panik.
“Alhamdulillah, istri Bapak selamat telah melewati masa kritis hanya saja belum sadarkan diri, dan Ibu Dina mengalami patah di kedua kakinya. Lalu janin di rahim ibu Dina mengalami keguguran” ujar Dokter.
“Apa saya boleh masuk untuk melihat kondisi istri saya Dok?”
“Silakan Pak Hendra,” ujar Dokter.
“Oh iya Pak Hendra sopir Pak Hendra yang bernama Pak Iwan tidak dapat kami selamatkan sopir Bapak telah meninggal di tempat.”
“Apa Dok? Iwan meninggal dunia,” Hendra yang terkejut.
“Iya Pak saya harap Pak Hendra dapat bersabar dengan musibah yang menimpa keluarga Bapak. saya permisi dahulu,” ujar Dokter Hendra.
Dokter meninggalkan Hendra, Hendra pun mulai masuk ke ruangan Dina.
Melihat kondisi Dina yang memperhatikan Hendra dengan mata yang berbinar-binar di tambah lagi buah hati yang mereka impikan kini telah pergi untuk selamanya.
“Sayang, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai tidak ada waktu untukmu, aku mencintaimu sayang,” ujar Hendra dengan mata berbinar-binar memegang tangan Dina yang sedang di infus.
“Sayang cepat sembuh ya, aku akan merawatmu kita akan kembali lagi ke rumah dengan keluarga kecil kita,” ucap Hendra.
Hendra yang sedang bersedih teringat akan kedua orang tua Dina.
Hendra pun mulai menelepon kedua orang tua Dina memberikan kabar tentang Dina kepada mereka.
“Hallo Mah,” ujar Hendra di telepon.
“Ya Hendra ada apa? Bagaimana apa Dina sudah pulang?” sahut ibu Dina.
“Dina mengalami kecelakaan Mah, mobilnya masuk jurang dan sekarang di rawat di rumah sakit tunas bangsa, sekarang kondisi Dina masih dalam keadaan koma Mah,” kata Hendra yang menjelaskan di telepon.
Mendengar hal itu Ibu Dini sontak saja terkejut dan menangis kedua orang tua Dina tidak percaya Dina mengalami kecelakaan.
Beberapa jam telah berlalu orang tua Dina pun telah tiba di rumah sakit.
Hendra yang keluar kamar ICU menghampiri orang tua Dini yang sedang berada di luar.
“Bagaimana kondisi Dina, Hendra?” tanya Ayah Dina.
“Masih belum sadar Pah.”
“Bagaimana kejadiannya kok bisa seperti ini?” tanya Ibu Dina.
“Hendra kurang tahu Mah, Dina pergi bersama Iwan sopir Hendra tadi pagi Hendra dapat info lalu Hendra ke rumah sakit ini Dina selamat Pah, Mah tapi tidak dengan Iwan.
“Ya Allah, kenapa jadi begini Dina,” sahut ibu Dina dengan menangis.
“Sudah Mah, kita berdoa saja untuk kesembuhan Dina,” tutur ayah Dina yang mencoba menenangkan istrinya.
Ibu Dina masuk lebih dahulu ke ruang Dina sementara Ayahnya beserta Hendra menunggu di luar.
“Pah Hendra tinggal sebentar ya, mau mengabari keluarga Iwan tentang kondisi Iwan.”
“Iya Hendra.
Hendra menjauh sebentar dari ayahnya Dina. Hendra mengabari keluarga Iwan bahwa Iwan mengalami kecelakaan dan meninggal Dunia.
Malam itu jasad Iwan di antarkan langsung oleh pihak rumah sakit dengan menggunakan ambulan ke pihak keluarga Iwan.
Isak tangis pecah rumah orang tua Iwan di saat jasad Iwan diangkat oleh beberapa tim medis masuk ke rumah.
Kabar duka kepergian Iwan tersebar cepat di desa.
Para warga berdatangan untuk turut berbelasungkawa dan turut mengantar kepergian Iwan ke tempat terakhirnya.
Iwan di kuburkan selepas sholat Zuhur para warga ikut serta dalam pemakaman Iwan.
“Ayo Bu kita pulang?”
“Iwan pak! Iwan!” bu Tinah yang menangis sembari memeluk nisan Iwan.
“Sudah Ikhlaskan kasihan Iwan jika ibu tangisi terus menerus,” pak Agus yang menenangkan istrinya
“Iwan, kenapa kamu meninggalkan ibu Nak. Ibu belum sanggup kehilangan dirimu,” ucap bu Tinah yang masih belum ikhlas melepaskan kepergian Iwan.
Pak Agus pun berusaha untuk memenangkan sang istri hingga akhirnya bu Tinah mau di bujuk untuk pulang.
Mereka semua pun meninggalkan tempat peristirahatan Iwan yang terakhir.
Sesampainya di rumah bu Tinah masih tak kunjung menghentikan tangisannya.
Menurut mereka Iwan anak yang sangat baik, tidak pernah menyusahkan orang tua malah Iwan sering membantu biaya sekolah untuk adik-adiknya.
Namun kini semua hanya tinggal kenangan Iwan pun pergi dengan tenang untuk selamanya.
Bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.