
“Sayang apa yang kamu lakukan?” ucap Hendra
Hendra mencoba memegangi kedua tangan Dina yang sedang memberontak tidak sadarkan diri.
“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Dina yang tidak sadarkan diri.
“Ini aku Hendra! Suamimu!” teriak Hendra menyadarkan Dina.
Dina yang masih saja meronta-ronta menganggap Hendra itu sang kuntilanak akhirnya dengan gelap mata Hendra mengayunkan tangan kanan ke pipi Dina.
Tamparan keras mengenai pipi Dina, sontak saja tamparan dari Hendra membuat Dina tersadar.
“Mas,” Dina yang menangis sembari memeluk Hendra.
“Maafkan aku, bukan maksudku untuk menyakitimu,” sahut Hendra yang merasa bersalah memperlakukan Dina dengan kasar.
“Aku takut Mas.”
“Iya sayang aku di sini sekarang, mengapa kamu sampai ingin bunuh diri sayang?” tanya Hendra.
“Bunuh diri? Aku tidak akan melakukan hal seperti itu Mas, kuntilanak itu yang ingin menusukku dengan menggunakan gunting ke dadaku.”
“Tidak ada sayang, aku tidak melihat apa-apa, di saat aku membuka pintu kamar aku hanya melihatmu ingin menusukkan gunting itu ke dadamu sendiri, melihat tindakkanmu seperti itu aku pun berlari mengambil gunting yang ada di tanganmu lalu membuangnya ke lantai,” ujar Hendra yang menjelaskan kepada Dina apa yang sebenarnya Hendra lihat.
Dina kembali terdiam mana kala mendengar penjelasan Hendra.
‘Berarti kuntilanak itu tidak menampakkan wujudnya di hadapan Hendra, hanya aku saja’ batin Dina.
“Sayang, sayang,” tegur Hendra.
Dina yang terdiam pun terkejut saat Hendra memanggilnya.
“I-iya Mas, kamu baik-baik saja,” tanya Hendra.
“Iya Mas, aku baik-baik saja. Kenapa kamu kembali lagi Mas tadi sepertinya sudah pergi ke kantor.”
“Iya sayang, ada berkas yang tertinggal di meja kamar jadi aku kembali lagi untuk mengambilnya,” Hendra yang menjelaskan kepada Dina.
“Kamu ingin kembali ke kantor lagi Mas?” tanya Dina.
“Rencana seperti itu ada apa sayang?”
“Aku takut jika kamu pergi Mas, aku takut di rumah ini sendirian. Aku pinta untuk hari ini temani aku,” Dina yang memohon kepada Hendra.
Hendra terdiam melihat wajah sanga istri raut wajah Dina yang sangat ketakutan membuat Hendra merasa tidak tega menolak permintaan Dina.
“Baiklah jika begitu sayang, hari ini aku tidak masuk kerja aku akan menunggumu,” ujar Hendra kepada Dina.
“Terima kasih Mas,” sahut Dina sembari memeluk Hendra dengan erat.
Mereka berdua pun mengobrol di kamar.
Hendra melepas baju hemnya menggantinya dengan baju rumah karena hari ini Hendra tidak masuk kerja.
“Sayang apa kamu ingin buah?” tanya Hendra.
“Iya Mas,” jawab Dina.
“Tunggu sebentar biar aku minta bi Sun mengupaskan buah mangga untukmu.”
Hendra keluar dari kamar memanggil Sundari.
“Bi Sun! bi Sun!” teriak Hendra memanggil Sundari.
Sundari yang mendengar Hendra memanggilnya pun segera mendatangi Hendra.
“Iya Tuan,” ucap Sundari yang menghampiri Hendra.
“Tolong kupas kan buah mangga untuk nyonya!” perintah Hendra.
“Baik Tuan,” sahut Sundari.
Sundari meninggalkan Hendra menuju dapur.
Beberapa jam kemudian Sundari yang telah selesai mengupas buah mangga pesanan Hendra pun, kembali menghampiri Hendra.
“Permisi tuan, ini pesanan tuan,” pekik Sundari sembari mengetuk pintu kamar Hendra.
“Iya tunggu sebentar Bi,” pekik Hendra dari dalam kamar.
“Terima kasih Bi,” ujar Hendra.
“Iya Tuan,” ucap Sundari dengan singkat.
Hendra pun mendekati Dina, Hendra meletakkan piring yang berisi buang mangga itu di meja kamarnya lalu Hendra membantu Dina untuk duduk dengan posisi menyender di dinding tempat tidurnya.
Hendra menyuapi Dina dengan lembutnya.
“Mas?” panggil Dina.
“Kamu sangat aneh hari ini, tadi pagi kamu marah dengan ku, namun sekarang perhatianmu begitu lembut kepadaku,” ujar Dina yang bingung akan sikap Hendra hari ini.
Hendra yang tidak merasa pun mengelak ucapan Dina.
“Sepertinya itu hanya perasaanmu saja sayang, aku tidak pernah berubah,” ujar Hendra sembari menyuapi satu potong mangga ke mulut Dina.
“Mas aku ingin bertanya kepadamu apa kamu mau jujur?” tanya Dina.
“Bukannya aku selalu berkata jujur kepadamu,” sahut Hendra.
“Apa kamu pernah punya masala lalu yang kelam Mas, sampai aku harus mengalami karma buruknya?” tanya Dina.
“Bicara apa kamu sayang! Aku tidak pernah mempunyai masa lalu yang kelam, Ayah dan ibuku orang yang terpandang di desa mana mungkin aku berbuat hal yang membuat mereka malu,” Hendra berusaha meyakinkan Dina bahwa dirinya orang baik-baik.
“Iya aku percaya kepadamu Mas, tapi kata ki Selamet kamu punya perbuatan di masa lalu yang buruk sehingga keluarga kita kena imbasnya,” ujar Dina.
“Lagi-lagi kamu percaya dengan dukun itu! Ketimbang suamimu sendiri.”
Setelah lama berdebat dan berusaha meyakinkan Dina bahwa Hendra adalah orang baik-baik Dina pun mulai percaya kembali kepada Hendra.
Di malam harinya di mana semua orang telah pada tidur termasuk Dina.
Dina mulai di teror kembali di dalam mimpinya.
Di dalam mimpinya Dina seperti berada di hutan.
Dina yang bisa berjalan menyelusuri hutan itu, di dalam hutan itu terdapat rumah gubuk Dina pun menghampiri rumah gubuk itu.
Dina yang berada di depan pelataran rumah gubuk itu ingin melihat dari celah-celah dinding rumah itu yang terbuat dari kayu.
‘Tidak ada orang di rumah ini,' batin Dina di dalam mimpi.
Tapi karena Dina sangat penasaran ia pun mencoba masuk ke rumah gubuk itu.
Saat Dina telah masuk ke dalam rumah gubuk itu pintu gubuk di rumah itu tiba-tiba tidak bisa di buka tertutup dengan sangat keras.
Saat Dina berusaha ingin membuka pintu keluar, tiba-tiba ada seseorang yang entah dari mana di belakang Dina.
“Selamat datang di gubukku Nyonya,”
Dina pun menoleh ke belakang.
“Bi Sun apa yang kau lakukan di tempat ini” tanya Dina.
“Ini adalah rumahku Nyonya Dina,” ucap Sundari dengan senyum misteriusnya.
“Apa yang kamu ingin lalukan kepada ku Bi Sun,” ucap Dina.
“Aku ingin membunuhmu,”
“Kenapa kau ingin membunuhku Bi Sun apa salahku?” tanya Dina.
“Mungkin kau tidak salah Nyonya Dina. Tapi Hendra suamimu yang menyebabkan dendam di hatiku,” ucap Sundari menatap tajam ke wajah Dina.
“Apa yang di lakukan mas Hendra kepadamu Bi Sun sampai-sampai kau setega ini,” ujar Dina.
“Ha-ha-ha, Tega bukankah itu terbalik suamimu yang sangat tega memperlakukan diriku seperti ini Nyonya Dina!”
“Apa yang mas Hendra perbuat coba katakan Bi Sun?” paksa Dina.
Sundari tidak menghiraukan ucapan Dina, Sundari yang tersenyum dengan tatapan mata yang tajam ke arah Dina.
Dan Sundari memulai membacakan mantra pemanggil kuntilanak itu.
Dina mendengar mantra yang di bacakan Sundari pun sangat terkejut.
“Mantra itu,” ucap Dina tersentak kaget.