
Ratih menangis histeris sepanjang jalan, dirinya tidak menyangka jika harus kehilangan Rian.
Beberapa jam berlalu, Rehan dan juga Ratih pun sampai di depan rumah sakit. Tanpa basa-basi Ratih keluar mobil dan berlari ke arah polisi yang tengah berjaga di sana saat itu.
“Pak anak saya mana ... Dimana dia Pak.”
Ratih meraung menangis sambil memaksa para polisi segera memberi tahu dimana anaknya.
“Sabar Bu, ibu ini siapa?”
“Saya ibunya Rian,”
“Rian yang korban kecelakaan itu.”
“Dimana anak saya pak.”
“Bu ... Ibu tenang dulu. Anak ibu sedang di dalam karena kondisinya memprihatinkan,” ucap polisi itu.
“Ya Allah Rian kenapa nasibmu bagini nak,” Ratih tak kuasa menahan kesedihannya.
“Bu ... Sabar Bu ini di ruamah sakit.”
Rehan berusaha menenangkan istri nya itu, Rehan membawa istrinya keluar agar tidak mengganggu pasien yang sedang sakit.
Hingga emosi dari Ratih dapat di kendalikan Rehan kembali mengajak istrinya untuk masuk ke dalam.
“Pak. Sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya?” tanya Rehan.
“Kami turut prihatin dengan keadaan anak Bapak dan Ibu, kami sudah memeriksa dan olah TKP. Saudara Rian meninggal karena saat itu dia oleng dan terjatuh dan saat yang bersamaan truk bermuatan cukup besat melintas dn melindas tubuhnya.”
Mendengar penjelasan itu Rehan langsung terduduk lemas, dia tidak bisa membayangkan betapa parahnya kondisi Rian.
Rehan dan Ratih di rumah sakit sudah 3 jam dan proses penjahitan tubuh Rian yang rusak itu pun telah selesai dan siap untuk di pulangkan ke rumah duka.
Rehan ingin melihat Rian untuk yang terakhir kalinya, dia membuka kain penutup berwarna putih itu.
Saat Rehan membuka penutup itu tangisnya pecah, wajah dan perutnya penuh luka jahitan, tubuh yang sudah kaku itu berulng kali di peluk oleh Rehan dan Ratih.
Mereka sangat berduka, tangisan mereka menggema di dalam kamar jenazah itu.
Ngiungan mobil ambulan mengiringi pengantaran jenazah Rian ke rumah duka.
Mata Ratih sembab akibat terus menangisi nasib anaknya yang malang itu.
Sekitar 2 jam mereka pun sampai di rumah duka, di san sudah ada keluarga yang mengurus segala sesuatu untuk jenazah Rian.
Jenazah Rian diangkat dan di bawa langsung ke tempat pemandian jenazah, dengan hati-hati para pemandi jenazah itu memandikan tubuh Rian.
Hingga tugas memandikan jenazah pun selesai, selanjutnya jasad Rian segera di kafani lalu di sholatkan di mushola.
Usai di sholatkan para warga dn juga Rehan bersiap membopong keranda untuk mengantarkan Rian ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Isak tangis pecah ketika tibuh Rian di keluarkan dari keranda dan akan di kebumikan.
Rehan turun ke liang lahat dan mengadzankan Rian untuk yang terakhir kalinya.
Kuburan pun di tutup, batu nisan bertuliskan nama Rian pun ditancapkan.
Taburan bunga menghiasi atas makan Rian, lantunan doa di panjatkan untuk Rian.
Hingga proses pemakaman selesai, sekuruh warga yang ikut dalam pemakaman pun satu per satu kembali ke ruamahnya.
Demikian juga dengan Ratih dan Rehan.
Malam harinya acara tahlilan pun diadakan di rumah Rehan, pembacaan surah Yasin dn tahlilpun berkumandang.
Doa-doa menggema lewat pengeras suara. Hingga acara selesai.
Ratih duduk termangu dengan tatapan kosong, hal itu membuat hati Rehan pilu.
Rehan duduk di samping istrinya itu dan berusaha menabahkan hati Ratih.
“Sudah jangan sedih terus nanti dia gak tenang disana,” ucap Rehan.
“Ruamah ini jadi sepi,” ucap Ratih.
“Aku gak menyangka jika ank kita satu-satunya itu akan berakhir mengenaskan.”
“Udah jangan di sebut-sebut.”
Ratih kembali menitikkan air matanya, bulir bening itu terus mengalir tanpa henti karena rasa sedihnya.
“Rasanya aku seperti kehilangan harapan terbesarku Mas,” ucap Ratih.
“Sudah Ratih ikhlaskan Rian ya, ayo kita masuk saja ke kamar, kamu harus istirahat,” Rehan mengajak Istrinya itu masuk ke dalam kamar.
Ratih merebahkan tubuhnya di kasur dan beberapa kali terlihat menghela nafasnya.
Bahkan Ratih juga menepuk-nepuk pelan dadanya.
Begitu sakitnya hati Ratih saat itu hingga dia merasakan perih di hatinya.
Hingga pagi menjelang Rehan terlihat melamun di teras rumahnya.
Beberapa warga yang kasihan melihatnya pun mencoba menyapanya.
“Pak Rehan,” sapa warga itu.
“Iya pak,” sahutnya.
“Saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya Rian,” ucapnya.
“Iya pak terima kasih.”
“Tabah dan ikhlaskan, agar Rian tidak merasa sakit di sana.”
“Saya dan istri saya berusa untuk tabah pak, hanya saja saya masih tidak percaya jika anak saya sudah mendahului saya. Harusnya saya lah yang terlebih dahulu pergi,” sahutnya.
“Jodoh, rejeki dan maut Allah lah yang mengaturnya Pak Rehan.”
“Iya saya mengeri pak.”
“Kalau begitu saya pamit dulu mau ke kebun.”
“Iya pak silahkan.”
***
Di sisi lain Sundari melakukan aktifitasnya seperti biasa di pagi hari. Memasak untuk anaknya lalu menaruhnya di atas meja makan.
Sundari berjalan santai menyusuri hutan untuk menuju perkebunan teh.
Saat Sundari keluar hutan dia juga berpapasan dengan salah seorang buruh pemetik teh seorang ibu tua.
“Pagi Nak,” sapa ibu itu.
“Pagi Bu, mau metik teh?” tanya Sundari.
“Iya,” sahutnya ramah.
“Ibu sendiri?”
“Iya, anak Ibu merantau di kota dan sudah lama sekali tidak pulang atau memberi kamar.”
Sundari mengimbangi langkah pelan ibu renta itu hingga mereka berdua sampai di perkebunan teh.
Sundari meras kasihan dengan ibu itu karena sudah renta tapi harus tetap bekerja.
‘Apa nanti aku akan seperti ibu itu juga?’ batin Sundari.
Sundari melakukan pekerjaanya seperti biasa. Sebenarnyan Sundari sering mendengar gosip-gosip miring tentang dirinya yang di buat oleh rekan sesam pemetik daun teh, namun Sundari tidak ingin berurusan dengan orang-orang seperti itu.
Hingga ada satu orang buruh pemetik teh yang dengan sengaja menyindirnya.
“Sun ... Sun. Kalau mau main sama laki-laki ya jangan di hutan juga.”
“Semua orang di sini tahu, kamu sering keluar masuk hutan bersama anak pemilik pabrik kecil itu iya kan.”
Mendengar hal itu Sundari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya orang berpikiran kotor seperti itu.
Sundari tidak memedulikan orang tersebut dan tetap fokus bekerja hingga selesia dan menerima upah.
***
Keesokan harinya Sundari seperti biasa selepas dirinya selesai memasak dan juga mengurus anaknya Sundari pergi ke perkebunan.
“Kek Sundari pamit pergi dulu, Sundari nitip Adit?” Sundari yang berpamitan.
“Iya Sundari hati-hati.”
Sundari pun keluar dari rumah Baskoro menuju desa.
Sesampainya Sundari di desa, Sundari terus berjalan ke perkebunan teh.
Beberapa menit kemudian Sundari yang telah sampai di perkebunan teh dan ingin memakai atribut kerjanya ada seorang ibu dengan postur tubuh yang gemuk menghampiri dirinya.
“Mbak Sun, sudah mendengar kabar terbaru tentang Mas Rian,” ucap Ibu itu.
“Tidak Bu, memangnya kenapa dengan Mas Rian? Tanya Sundari yang bingung.
“Ya Allah, jadi Mbak Sun tidak tahu jika mas Rian telah meninggal dunia akibat kecelakaan dan di kubur di pemakaman umum desa ini,” pungkas ibu gemuk itu kepada Sundari.
Sontak saja Sundari yang dengar kabar itu tidak percaya.
“Ibu jangan berbicara bohong dengan saya!” ucap Sundari yang tidak percaya
“Ibu tidak berbicara bohong mbak Sun, Ibu berani bersumpah tidak berbicara bohong kepada Mbak Sun,” Ibu gemuk itu berusaha meyakinkan Sundari.
Air mata Sundari tidak dapat di tahan olehnya Sundari yang mendengar kabar kematian Rian pun seperti tersambar petir di siang hari bolong.
Tubuhnya lemas lalu terduduk di tanah air matanya tak kuasa ia bendung, rasa sakit hati di tinggalkan orang yang ia cintai kini kembali terjadi.
Baru sebentar Sundari merasakan kebahagiaan namun kini kenyataan pahit pun harus ia terima.
Sundari yang terus menerus menangis sembari terduduk di tanah pun di tenangkan oleh ibu gemuk tadi.
“Sabar Mbak Sun semua ini sudah kehendak Tuhan, ibu tahu rasanya sakit sekali di tinggalkan orang yang kita cinta tapi, kita harus mencoba ikhlas menjalani semua itu,” ibu gemuk pun memberikan nasehat serta mencoba menenangkan Sundari yang sedang menangis.
“Saya mau ke makan Mas Rian Bu?” ucap Sundari sembari menangis.
“Iya Mbak Sun mau ibu antar?” tanya Ibu gemuk itu.
“Tidak usah Bu, saya bisa sendiri ke sana” ucap Sundari.
Sundari pun melepas atribut lalu berjalan meninggalkan perkebunan teh menuju makan Rian.
Sesampainya di makam Rian, Sundari memeluk gundukan tanah merah sembari menangis
“Mas, mengapa kamu tinggalkan aku sendiri Mas. Kamu pernah berjanji kepadaku akan selalu bersamaku dan menemaniku tapi kenapa Mas, kenapa sekarang Mas malah meninggalkan aku sendirian. Dikala hatiku sudah merasa nyaman kepadamu, apakah aku tidak pantas bahagia Tuhan, sampai kau ambil Mas Rian” ucap Sundari dengan menangis histeris di atas kuburan Rian.
“Sekarang aku Sendiri Mas, tidak ada lagi seseorang yang mengobati lukaku hanya dirimu Mas.”
Sundari yang meluapkan kesedihan dan amarahnya di makan Hendra kini kembali ke rumahnya.
“Sundari pulang Mas, nanti setiap habis memetik teh, Sundari akan menyempatkan diri untuk menjenguk Mas di sini. Sebenarnya dalam hati kecil Sundari sangat mencinta dirimu Mas,” ucap Sundari.
Sundari pun berjalan menuju rumah Baskoro, di dalam perjalanan pulang air mata Sundari tidak Hentinya mengalir hingga dirinya sampai di rumah.
Baskoro yang melihat Sundari bersedih pun menanyakan ada apa dengan dirinya.
“Ada apa Sundari? Mengapa kamu menangis?” tanya Baskoro.
Sundari langsung berlari memeluk Baskoro menumpahkan kesedihannya di pelukan Baskoro.
“Rian Kek, Rian,” sahut Sundari sembari menangis.
“Iya ada apa dengan Rian, apa dia menyakiti hatimu Sundari?” tanya Baskoro.
“Bukan itu kek,” sahut Sundari sembari menangis.
“Lalu apa Sundari?”
“Mas Rian pergi meninggalkan Sundari untuk selamanya kek, Mas Rian kecelakaan dan meninggal di tempat kemarin dirinya dikubur Sundari baru mengetahui itu semua Kek,” sahut Sundari yang tidak Henti-hentinya menangis.
“Sudah Sundari jangan bersedih mungkin ini semua sudah kehendak takdir.”
“Mengapa Sundari harus bernasib seperti ini kek, apa salah Sundari?”
“Sudahlah Sundari tenangkanlah dirimu, jangan buat amarah menguasai hati dan jiwamu. Belajar menerima kenyataan pahit ini.”
Sontak saja Sundari terdiam mendengar ucapan dari Baskoro.
Sundari mulai berjalan menuju kamarnya mencoba menenangkan dirinya.
***
Malam pun tiba Sundari masih dengan kesedihannya.
Sundari yang keluar dari kamarnya duduk di pelataran rumah Baskoro.
Sundari menatap langit yang banyak bertabur bintang.
Di saat Sundari sedang menatap langit yang bertabur bintang ia pun teringat akan kenangan dirinya bersama Rian.
Sundari merasa kesepian, tidak akan ada lagi yang menemaninya pulang ke rumah dan berbincang di jalan.
Bulir bening jatuh mengalir ke pipinya. Bagaimana tidak, Sundari harus kehilangan lagi dan lagi.
Sundari merasa hidup ini tidak adil dan merasa semesta telah mengutuknya.
‘Hiduoku rasanya tidak ada artinya lagi. Kenapa aku harus menanggung ini terus menerus tanpa henti,' batin Sundari.
Sundari termenung dalam gelapnya hutan di temani suara hewan malam yang bersahut-sahutan.
Seminggu telah berlalu Sundari masih tetap dengan kesedihannya, tidak mudah menghapus kenangan orang yang ia cintai. Setiap sepulang bekerja Sundari pun tidak pernah absen pergi ke pemakaman Rian, terkadang Sundari pun berkunjung ke rumah orang tua Rian untuk besilah terahim.
Sundari yang telah selesai bekerja kini kembali pulang ke rumah Baskoro.
Sundari yang selalu berjalan menyelusuri hutan tiada mengenal lelah.
Sesampainya di rumah Baskoro Sundari pun harus tetap mengurus Adit, namun kini Adit semakin pintar dan mandiri.
Hanya Aditlah yang dapat membuat Sundari bahagia, melihat wajah lucunya menghilangkan kelelaannya.
Baskoro yang melihat Sundari terus menurus bersedih pun tidak tega, ada beberapa hal yang Baskoro sembunyikan kepada Sundari.
“Sundari anakku?”
“Iya kek”
“Ada hal ingin aku bicarakan kepadamu mengenai kematian Rian dan juga dirimu?”
“Ada apa sebenarnya Kek, coba jelaskan kepada Sundari,” ucap Sundari yang sangat antusias.
“Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan ilmu hitam mangkujiwo sendiri.”
“Kenapa dengan ilmu itu kek?”
“Dahulu, kakek sepertimu, Dikucilkan dari desa karena penyakit yang menurut warga desa begitu sangat menjijikkan penyakit kulit yang aku derita tidak kunjung sembuh dan juga semakin melebar menyebabkan bau yang tidak sedap di saat seseorang berada di dekatku. Aku pun di usir dari desa dan pergi tanpa arah tujuan sampailah di hutan ini, di hutan ini lah aku bertahan hidup membuat rumah gubuk ini. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah goa di situlah ada sosok kuntilanak Durmo yang mengajariku ilmu hitam. Saat aku mempelajari ilmu hitam itu penyakit kulitku pun hilang dan aku berniat membalaskan sakit hatiku kepada warga desa yang telah menyakit hatiku di bantu oleh Durmo. Setelah dendamku terbalaskan aku pun mencintai seseorang wanita yang tulus mencintaiku namun saat hatiku merasa nyaman oleh wanita itu Durmo membunuhnya di sisi aku marah dan mendapatkan mantra yang dapat mengalahkannya, Durmo tidak akan pergi ia akan selalu membunuh seseorang yang mendekati kita dan sekarang kakek Sendiri di hutan ini hingga saat ini.”
“Lalu mengapa kakek berikan ilmu itu kepada Sundari kek, kenapa?”
“Kau terpilih anakku, Energi kebencianmu sangat kuat mengantarkan aku padamu begitu juga Durmo.”
“Lalu apa yang harus Sundari lakukan Kek?” tanya Sundari.
“Kalahkan Durmo. Kalau kau tidak mengalahkannya, maka kau yang akan dikuasainya.”