
Suster pun segera pergi keluar untuk memanggil Dokter.
“Permisi Dok, boleh saya masuk,” ucap Suster sembari mengetuk pintu ruangan Dokter.
“Ya silakan Sus,” sahut Dokter di dalam ruangannya.
Suster pun mulai menceritakan kronologi kejadian saat dirinya masuk ke ruangan isolasi Hendra.
“Apa sus? Sus tidak salah mengeceknya?”
“Tidak Dok, saya sudah mengecek berkali-kali pasien yang bernama pak Hendra sudah saya temukan tidak bernyawa di ruangannya, dengan luka gosong di lehernya Dok,” pungkas suster yang menjelaskan kepada Dokter.
“Kalau begitu mari kita ke ruangannya, tunggu aba-aba dari saya baru kabarkan keluarga beliau.”
“Baik Dok.”
Mereka pun bergegas pergi ke ruangan isolasi Hendra.
Sesampainya di sana Dokter pun mulai mengecek kondisi Hendra dan ternyata benar apa di ucapkan oleh suster itu.
“Aneh sekali pasien ini meninggal dengan luka gosong pada lehernya jika pasien ini melakukan tindakan bunuh diri tidak akan mungkin, di ruangan ini tidak ada satu benda pun sebagai bukti. Dan juga pak Hendra Sendiri sudah di berikan baju khusus yang tidak memungkinkan dia melakukan tindakan bunuh diri,” ujar Dokter yang menjelaskan kronologinya.
“Lalu bagaimana Dok? Apa sebaiknya kita beritahu pihak keluarganya secepatnya,” tanya salah satu suster yang berada di ruang isolasi Hendra.
“Seperti kita harus secepatnya menghubungi pihak keluarga pak Hendra,” sahut Dokter.
Suster pun mulai menghubungi Doni ayah dari Dina.
“Selamat malam Pak Doni, saya dari pihak rumah sakit jiwa mengabarkan kepada pak Doni bahwa pasien yang bernama Hendra telah meninggal dunia, pak Doni di harapkan segera ke rumah sakit secepatnya,” ucap Suster yang memberitahukan Doni kabar mengenai Hendra di telepon.
“Apa Sus? Apa ini benar? Bukannya kemarin Hendra masih baik-baik saja?” Doni yang tidak mengira Hendra akan meninggal.
“Jika Bapak Doni ingin mengetahui secara jelas kronologinya pak Doni bisa datangi pihak rumah sakit,” seru suster di telepon.
“Baik Sus, saya akan segera ke sana,” ucap Doni sembari mematikan ponselnya.
Lisa ibunya Dina mendengar perbincangan suaminya Doni dengan pihak rumah sakit mengenai masalah Hendra.
“Ada apa Pah? terlihat serius sekali?” tanya Lisa dengan penasaran.
“Mah, sepertinya kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi pihak rumah sakit menelepon papah, dan memberitahukan soal Hendra. Hendra telah meninggal dunia Mah!” pungkas Doni memberitahukan Lisa.
“Apa Pah? Ini benar?” Lisa tidak yakin akan kabar yang ia dengar.
“Iya Mah, ini benar pihak rumah sakit sendiri yang menelepon papah.”
“Ya sudah Pah, Mamah percaya mari kita segera pergi ke rumah sakit,” ajak Lisa.
Mereka yang berada di kamar pun keluar dari kamar menuju mobil, Doni menaiki mobilnya bersama Lisa di kemudikan oleh sopir pribadi Doni sendiri.
“Pak Soleh, tolong ke RSJ.”
“Iya Pak.”
Pak Soleh pun mulai menjalankan mobil ke RSJ tempat di mana Hendra di rawat.
15 menit mereka telah sampai di RSJ tempat Hendra di rawat.
Kedatangan merekan pun di sambut langsung oleh Dokter yang merawat Hendra.
“Maafkan kami, kami semua termasuk saya telah berupa untuk merawat semaksimal mungkin pak Hendra namun, Tuhan berkata lain Pak Hendra di temukan tidak bernyawa lagi di ruangan isolasinya dengan luka gosong di lehernya tidak ada tanda-tanda pak Hendra ingin mengakhiri hidupnya. Karena di ruangan Isolasi sendiri tidak ada benda tajam di sana,” Dokter yang menjelaskan kronologi Hendra di temukan tidak bernyawa lagi di ruangannya.
“Maaf Pak Doni di RSJ kami tidak bisa jika bapak ingin seperti bapak bisa ke rumah sakit harapan kita nanti saya akan kasih tahu pihak rumah sakit di sana untuk menampung sementara jasad pak Hendra, mungkin besok pagi jasad pak Hendra akan di pindahkan,” Dokter yang menjelaskan kepada Doni.
“Baiklah jika begitu, terima kasih atas bantuannya Dok.”
“Sama-sama, Pak Doni.”
Setelah berbincang cukup lama Doni beserta keluar dari rumah sakit jiwa dan kembali ke rumah mereka.
Doni tidak begitu mempermasalahkan kematian Hendra, karena menurut pemikiran Doni sendiri itu adalah kamar dari perilaku yang telah Hendra perbuat.
Namun di sisi lain Doni sangat bingung harus mencari ke mana pihak keluarga Hendra.
Di dalam perjalanan pulang menuju rumah Doni bertukar pendapat kepada Lisa.
“Mah? Bagaimana jika kita tidak menemukan pihak keluarga Hendra?” tanya Doni.
“Menurut Mamah ya Pah, jika sampai seminggu kita tidak menemukan kabar tentang keluarga Hendra sebaiknya kita kubur di sini saja.”
“Tidak! aku tidak sudi makan anakku berdekatan dengan Hendra, aku ingin memulang Hendra ke rumah orang tuanya,” ujar Doni
Doni yang tidak setuju Hendra di makamkan dekat Dina anaknya.
“Pah, aku baru ingat di rumah Hendra serta Dina tempati dulu masih ada pembantunya, kita tanya saja siap tahu pembantu Hendra itu tahu mengenai asal usul Hendra,” Lisa yang memberi usul kepada Doni.
“Mana mungkin Mah? Hendra sangat tertutup sekali orangnya mana mungkin pembantu itu tahu mengenai Hendra.”
“Pah, tidak ada salahnya kita mencoba,” ujar Lisa.
“Baiklah kalau begitu besok pagi ke rumah Hendra,” sahut Doni.
Setelah cukup panjang berbincang di dalam mobil mereka bertiga pun telah sampai di rumah.
Doni beserta Lisa kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan kembali istirahatnya.
Mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka yang empik
Malam semakin larut jam pun sudah menunjukkan pukul satu malam.
Sayup-sayup mata Doni beserta Lisa yang mulai merasa mengantuk, karena tidak dapat mengan rasa kantuk mereka berdua pun tertidur dengan nyenyak.
Sementara di sisi lain Durmo mendatangi Sundari di dalam kamarnya, untuk melaporkan bahwa tugasnya telah selesai.
Sundari yang sedang duduk di tempat tidurnya di datangi oleh kuntilanak Durmo
“Sundari, tugasku telah selesai untuk membalaskan dendamu kini Hendra telah mati, aku ingin kembali ke alamku untuk sementara waktu,” ujar Durmo.
“Baiklah Durmo, aku berterima kasih kau telah berhasil membunuh Hendra dan membalaskan dendamku, besok lusa aku akan pulang ke desa bertemu dengan Adit anakku dan juga Baskoro,” sahut Sundari.
Kuntilanak Durmo pun pergi dari hadapan Sundari, Setelah berbincang dengan Durmo. Sundari mulai merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Sundari anak yang rajin walau pun Hendar tidak ada di rumah namun Sundari selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik, membersihkan rumah Hendra yang sangat besar itu sendirian.
Karena merasa lelah Sundari pun mulai tertidur dengan lelap.
Kini dendam sundari telah di balaskan oleh Durmo dan Sundari pun ingin kembali ke desa untuk bertemu keluarga kecilnya.