Sundari

Sundari
Korban kedua Sundari



“Bagaimana keadaan anak kami Dok?” tanya Hendra yang sangat khawatir.


“Maafkan kami Pak Hendra dan Bu Dina, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong nyawa anak Bapak dan Ibu, tapi tuhan berkata lain. Tuhan lebih sayang kepada Angga, Bapak dan Ibu yang sabar” ujar Dokter yang memberitahu kabar buruk tentang Angga.


Sontak saja Dina menjadi semakin histeris, Dina berteriak, menangis, memukul-mukul dada sang suami dirinya tidak terima jika Angga telah pergi selamanya meninggalkan dirinya.


Malam itu menjadi malam yang sangat kelabu di kehidupan keluarga kecil Hendra.


Sementara di sisi lain Sundari yang telah mengetahui kabar itu dari sang kuntilanak.


Di kamarnya Sundari yang sedang duduk sembari membacakan mantra memanggil sang kuntilanak.


Sang kuntilanak pun mendatangi Sundari yang tengah duduk di lantai.


Kuntilanak itu berjalan merangkak mendatangi Sundari lalu berbisik kepada Sundari.


“Sudah aku bunuh anak itu,” kuntilanak itu berbisik di kuping Sundari dengan suara yang serak.


‘Baguslah jika begitu, bagaimana Hendra kehilangan seseorang yang kau cintai, ini baru korban pertama dalam hidupmu Hendra, rasakan sakitnya kehilangan orang yang kau sayangi,' gumam Sundari. 


‘Kau akan merasakan apa yang aku rasakan Hendra, Ha-ha-ha-ha,' gumam Sundari sembari tertawa di kamarnya.


Malam itu juga jasad Angga di bawa pulang oleh Hendra beserta sang istri.


Kesedihan terlihat di wajah Dina berserta Hendra ketika membawa pulang jasad sang anak.


Namun tidak dengan Sundari yang terlihat bahagia di hati kecilnya, Sundari hanya berpura-pura menangis agar Hendra berserta Dina tidak curiga kepadanya.


Kabar duka menyelimuti keluarga kecil Hendra saat itu tangisan Dina pun tak kunjung berhenti saat Angga pergi untuk selamanya.


Keesokan paginya jasad Angga dimandikan oleh sanga Ayah, setelah selesai dimandikan, jasad Hendra pun di kafankan, sampai akhirnya disolatkan terlebih dahulu sebelum di makamkan.


Ciuman terakhir pun di lakukan Dina sebelum Angga di kuburkan.


Setelah selesai semuanya jasad Angga pun di bawa di tempat pemakaman umun untuk di kuburkan.


Hendra yang berada di liang lahat menyambut jasad Hendra.


Hendra yang menyambut jasad Angga meletakkan Angga di liang lahat, setelah itu mengadzaninya.


Setelah beberapa menit proses pemakaman Angga berjalan dengan lancar.


Semua para penziarah sudah meninggalkan pemakaman dan pulang ke rumah masing-masing, namun tidak dengan Dina yang masih terduduk di kuburan Angga sembari memeluk nisan Angga.


“Sudah sayang, kasihan Angga biaralah Angga beristirahat dengan tenang,” ucap Hendra sembari mengelus-elus pundak Dina.


Dina masih saja menangis, belum bisa mengikhlaskan kepergian Angga, Hendra yang melihat sang istri yang sangat terpukul pun kembali menenangkan Dina.


“Angga sudah tenang di sana sayang kasihan dia jika kamu terus menangisi dirinya, mari kita pulang doakan Angga,” bujuk Hendra.


Dina yang mulai berangsur-angsur tenang pun mencoba mengikhlaskan kepergian Anggap putra pertama mereka.


“Iya Mas, semoga Angga tenang di sana. Maafkan mamah dan papah yang tidak menjaga Angga dengan baik,” ucap Dina di makam Angga.


Dina pun mulai berdiri di bantu oleh sang suami berjalan meninggalkan kuburan Angga.


Sesampainya di rumah suasana sedih masih menyelimuti keluarga kecil mereka, tangisan, tawa Angga tidak terdengar lagi di dalam rumah.


Bayangan akan kenangan bersama Angga pun masih mereka rasakan berdua.


Hendra pun sangat terpukul akan kehilangan putra pertamanya yang selama ini mereka berdua nanti-nantikan.


Namun di benak Hendra, mungkin tuhan lebih sayang kepada Angga sehingga Angga di panggil lebih cepat.


Namun di sisi lain Sundari yang sedang berada di dapur sedang tersenyum bahagia.


‘Bagaimana Hendra begitu sangat sakit bukan, ini belum seberapa di banding rasa sakit hati yang pernah aku alami karenamu, liat saja Hendra aku akan membunuh kalian semua dengan secara perlahan-lahan agar kamu bisa merasakan sakitnya Hendra,' batin Sundari.  


Hari demi hari raut sedih masih terpancar di wajah Dina, sesekali Dina mendatangi kamar Angga untuk melihat box tempat tidur Angga.


Masih terlintas sangat jelas tangisan Angga dan tertawa Angga yang menggema di kamarnya.


Sudah berhari-hari Dina di tinggal oleh Angga namun kesedihannya tidak kunjung hilang.


Hendra pun tidak lepas perhatian kepada Dina yang sedang bersedih, bahkan hampir setiap hari Hendra memberikan semangat kepada Dina dan mencoba menghibur Dina.


*** 


Bulan demi bulan telah berlalu Dina mulai mengikhlaskan kepergian Angga dengan sepenuh hati.


Akan tetapi kabar baik mewarnai hari-hari kelam mereka di saat Angga pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Di pagi itu, di saat Dina bangun tidur dirinya mulai merasakan pusing dan mual.


Dina pun bergegas bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.


Hendra yang mengetahui istrinya sedang muntah-muntah menanyakan kepada Dina apa yang sebenarnya terjadi.


“Sayang ada apa denganmu? Apa maag mu kambuh kembali?” tanya Hendra.


“Entahlah Mas, tiba-tiba saat aku ingin bangun dari tidur kepalaku terasa pusing lalu rasanya perutku mual,” ucap Dina menjelaskan kepada Hendra apa yang terjadi pada dirinya.


“Kalau begitu sebaiknya aku antar kamu ke rumah sakit untuk periksa?” ujar Hendra.


“Tidak usah Mas, aku ingin tidur saja,” Dina yang menolak ajakan Hendra untuk periksa ke rumah sakit.


“Ayolah sayang, aku sangat khawatir kepadamu, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa sayang,” Hendra yang sangat khawatir kepada Dina.


“Mau ya sayang aku antar untuk periksa,” ujar Hendra membujuk Dina.


Dina pun akhirnya mau di ajak oleh Hendra untuk periksa.


Dengan di gandengan Hendra berjalan keluar dari kamarnya.


Sesampainya mereka berdua di depan mobil Hendra. Hendra pun memerintahkan Iwan untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


“Pelan-pelan sayang masuknya,” ucap Hendra yang membantu Dina masuk ke dalam mobil.


Hendra beserta Dina duduk di kursi belakang.


“Ayo jalan Iwan, ke rumah sakit harapan kita,” ujar Hendra.


“Baik pak?”


“Oh iya sayang lama sekali kita tidak mengetahui kabar dari Retno bagaimana sekarang kabarnya,” ucap Hendra.


“Mbak Retno ya Pak, saya pernah mendapat kabar mbak Retno dari teman saya, kasihan sekali sekarang mbak Retno,” celetuk Iwan.


“Kenapa Iwan?” tanya Hendra yang sangat penasaran.


“Sekarang Retno hanya di kursi roda saja dia lumpuh, tapi untung saja tunangannya yang sekarang menjadi suaminya sangat mencintai Retno, jadi sekarang Retno tidak tinggal di daerah kota ini lagi pak, Retno sudah ikut suaminya pindah ke kota lain dan sekarang Retno di urus oleh suaminya yang sangat sabar merawatnya,” Iwan yang menjelaskan kepada Hendra beserta Dina.


“Syukurlah jika begitu, tapi kasihan sekali Retno,” ujar Dina.


“Ya kita tidak tahu Pak, Bu namanya musibah jika sudah datang kita sendiri pun tidak akan mengetahuinya,” celetuk Iwan.


“Benar sekali yang di ucapkan oleh Iwan, seperti kepergian Angga yang aku pun tidak percaya,” Sahut Dina yang teringat akan putra pertama meninggal dunia.


“Iya sayang, Angga sudah bahagia dia sana dia dapat berlari-lari dan bermain di surga” sahut Hendra menghibur Dina.


Saking asyiknya mereka bertiga mengobrol tidak terasa sudah sampai rumah sakit harapan kita.


Iwan yang memasuki parkiran mobil, setelah mobil di parkirkan Hendra pun membantu Dina untuk turun dari mobilnya menuju rumah sakit.


Hendra menggandeng tangan Dina masuk ke dalam rumah sakit.


“Tunggu di sini dulu sayang, aku ingin mendaftarkan dirimu terlebih dahulu,” ucap Hendra yang meninggalkan Dina di kursi yang telah disediakan pihak rumah sakit untuk menunggu.  


Hendra pun berjalan untuk mendaftarkan Dina.


Setelah selesai mendaftarkan Hendra kembali mendatangi Dina dan duduk di samping Dina menunggu panggilan suster.     


Nantikan cerita selanjutnya jangan lupa dukungan seikhlasnya ya gaes terima kasih.