
Selang beberapa menit suster memanggil Dina.
Dina yang di gandeng Hendra masuk ke ruangan Dokter, di sana Dini di periksa oleh sang Dokter.
Setelah selesai memeriksa Dina, Dokter tersenyum ke arah mereka berdua.
“Bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa penyakit maagnya kambuh?” Hendra yang bertanya dengan khawatir.
“Tidak perlu khawatir Pak Hendra, ibu Dina sangat sehat, maagnya pun tidak mengalami masalah,” sahut Dokter yang tersenyum kepada mereka berdua.
“Lalu kenapa dengan istri saya Dok?” Hendra yang semakin bingung dengan penjelasan sang Dokter.
“Ibu Dina akan segera menjadi ibu dan pak Hendra akan menjadi Ayah.”
Hendra yang mendengar ucapan Dokter tadi begitu sangat gembira dirinya akan menjadi seorang Ayah.
Begitu pun sang istri yang sangat bahagia mendengar kabar dirinya sedang hamil seperti sedang mendapatkan kejutan berupa hadiah yang tidak ternilai harganya.
“Mas aku hamil,” ujar Dina yang tidak percaya dirinya sedang hamil.
“Iya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu dan aku menjadi seorang ayah,” sahut Hendra dengan tawa bahagia sembari memeluk sang istri.
“Pak Hendra, ini saya kasih resep berupa susu dan vitamin saja untuk ibu Dina.”
“Iya Dok terima kasih.”
Hendra dan Dina keluar dari rumah sakit ke parkiran mobil.
Sesampainya di pakiran mobil Iwan sudah menunggu mereka berdua sedari tadi di dalam mobil.
Iwan mulai menjalankan mobilnya menunggalkan rumah sakit menuju rumah.
Satu jam telah berlalu mereka bertiga telah tiba di rumah, Dina yang turun dari mobil Hendra.
Sementara Hendra berpamitan kepada Dina untuk pergi ke kantornya.
“Aku pergi kerja dulu ya sayang. Anak Papah baik-baik di perut Mamah ya,” Hendra yang mengusap perut Dina sembari mencium kening Dina.
Setelah berpamitan Hendra masuk ke dalam mobilnya kembali untuk pergi ke kantornya di atar oleh Iwan.
Sementara Dina yang sedang berada di depan teras ingin masuk ke dalam rumah.
Di saat Dina ingin masuk ke dalam rumahnya terdengar teriakan bibi jamu dari luar pagar rumahnya.
“Jamu ... Jamu ... Jamunya mas, jamunya mbak,” teriak bibi jamu yang menjual dagangannya.
Dina yang mendengar teriakan bibi jamu segera menghampirinya.
“Bu jamu!” teriak Dina di dalam pagar rumahnya.
Dina membuka pagarnya menghampiri bibi jamu yang berdiri tepat di samping pagar rumahnya.
“Jamunya satu Bu.”
“Oh iya Mbak, tunggu ya Ibu buatkan dulu.”
“Iya Bu.”
Di saat sedang menunggu bibi jamu yang membuatkan jamu untuk Dina.
Dina merasakan kembali mual, dan seketika Dina pun memuntahkan isi perutnya.
Bibi jamu yang mengetahui itu memberikan Dina segelas air putih.
“Ini Mbak minum air putihnya dulu,” ujar Bibi jamu.
“Terima kasih Bu.”
“Ini Mbak jamunya, bagus untuk ibu hamil muda seperti Mbak ini.”
“Loh Ibu kok tahu saya sedang hamil muda.”
“Ya tahulah Mbak, anak saya di rumah itu sembilan jadi saya paham betul.”
Dina hanya tersenyum mendengar ucapan dari bibi jamu. Dina pun mulai meneguk jamu yang telah dia pesan tadi lalu membayarnya.
“Ini Bu gelasnya, berapa jamunya?” tanya Dina mengeluarkan Dompetnya.
“Murah saja kok Mbak cuma dua ribu rupiah saja.”
“Ini Bu, kembalinya buat anak-anak saja,” ucap Dina yang mengeluarkan uang berwarna merah bergambar pak Soekarno dan Hatta.
“Terima kasih Mbak, ini banyak sekali.”
“Tidak apa-apa Bu, ambil saja.”
“Enggak kok bu, sama suami saya pembantu dan juga sopir pribadi. Tapi suami sedang bekerja di antar oleh sopir jadi saya berdua saja dengan pembantu saya.”
“Mbak pesan ibu hati-hati, ibu tidak menakut-nakuti biasanya orang yang sedang hamil muda itu sangat di sukai oleh makhluk lain, sebaiknya mbak hati-hati jangan sendirian jika di rumah.”
“Ya Bu saya akan ingat pesan ibu lagi pula di rumah ada pembantu kok jadi saya tidak Sendirian.”
“Ya sudah kalau begitu Mbak ibu mau keliling dulu, sekali lagi terima kasih Mbak.”
“Iya Bu sama-sama.”
Dina mulai berjalan masuk lalu menutup pintu pagar rumahnya.
Selepas itu Dina berjalan kembali masuk ke rumahnya.
Dina yang sudah berada di dalam rumah duduk di sofa ruang tamu.
“Bi Sun! Bi Sun!” pekik Dina memanggil Sundari.
Sundari yang mendengar Dina memanggil bergegas menghampirinya.
“Iya nyonya ada apa?” tanya Sundari.
“Tolong buatkan saya nasi goreng, aku lagi ingin memakan nasi goreng lagi pula sedari tadi aku muntah-muntah terus Bi Sun bawaan hamil muda,” ujar Dina bercerita kepada Sundari dengan sangat bahagia.
“Selamat nyonya, saya tinggal terlebih dahulu ke belakang untuk membuatkan pesanan nyonya,” kata Sundari meninggalkan Dina sendirian di ruang tamu.
Sesampainya di dapur Sundari mulai memasak nasi goreng pesanan Dina.
Sundari yang melihat wajah Dina yang sangat bahagia dan juga Hendra membenci hal tersebut.
Sundari kini sudah dikuasai oleh dendamnya, sehingga dirinya tidak senang jika Hendra berserta istrinya Dina dapat bahagia.
‘Kalian boleh saja berbahagia hari ini tapi tidak untuk selamanya,' batin Sundari.
Nasi goreng yang di masak Sundari telah selesai, Sundari membawa pesanan Dina dan juga segelas air putih ke ruang tamu di mana Dina berada.
“Ini nasi gorengnya Nyonya,” ucap Sundari yang menyodorkan sepiring nasi goreng di meja.
“Iya terima kasih Bi Sun.”
“Saya permisi dulu nyonya,” Sundari yang meninggalkan Dina kembali ke dapurnya.
Saat Dina tengah menikmati nasi gorengnya Hendra meneleponnya.
Kring
Suara telepon genggam milik Dina yang berbunyi.
Dina mengambil tasnya lalu merogoh telepon genggam miliknya.
Setelah mendapatkan telepon genggam miliknya Dina pun mengangkatnya.
“Hallo Mas, ada apa?”
“Sayang seperti hari ini aku pulang larut malam, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.”
“Untuk hari ini saja ya Mas, aku tidak mau di tinggal sendiri di rumah.”
“Iya sayang untuk hari ini saja.”
“Baiklah jika begitu.”
“Ya sudah ya sayang, aku mau melanjutkan pekerjaan terlebih dahulu.”
“Iya Mas.”
Telepon pun di matikan oleh Hendra, Dina pun melanjutkan makannya.
***
Langit mulai berubah menjadi gelap hingga terdengar suara Azan magrib berkumandang.
Dina yang sedari kecil tidak begitu di ajarkan agama oleh orang tuanya sehingga dirinya enggan untuk beribadah.
Hal yang paling mudah untuk mereka makhluk tak kasat mata mengganggu dan juga kiriman santet adalah orang-orang yang jauh akan tuhannya.
Di situlah mereka akan sangat mudah untuk mengganggu termasuk Dina yang selagi kecil memang enggan untuk beribadah, keluarganya hanya mengajarkan dirinya untuk mencari uang, berbisnis, dan usaha, namun melupakan kewajiban yang seharusnya di lakukan.
Nantikan cerita selanjutnya, jangan lupa dukungan seikhlasnya gaes terima kasih.