
Siang harinya Dina yang mendatangi Iwan sopir pribadinya di teras sedang bersantai sesudah Iwan mengantar Hendra bekerja.
“Iwan!” Panggil Dina.
“Eh iya bu, ada apa Bu?” tanya Iwan.
Dina mendekati Iwan yang sedang duduk di teras rumah lalu Dina pun duduk di samping Iwan.
“Kamu ada kenalan dukun sakti tidak Wan?” tanya Dina.
“Dukun? Untuk apa Bu?” tanya Iwan yang bingung.
Akhir-akhir ini aku sering diganggu makhluk halus seperti kuntilanak, siapa tahu kamu ada kenalan dukun sakti bisa ajak aku ke sana untuk menghilangkan kuntilanak yang sering mengunguku. Tapi ingat jangan bilang kepada pak Hendra soalnya pak Hendra tidak terlalu percaya dengan hal seperti itu, nanti aku kasih kamu komisi karena sudah membantuku. Bagaimana apa kamu mau?” Dina yang meminta tolong kepada Iwan.
Mendengar kata komisi Iwan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Iwan pun membantu Dina untuk mencari dukun yang hebat.
“Baik Bu, saya ada kenalan namanya ki Selamet beliau dukun terhebat Bu.”
“Kalau begitu sekarang juga antarkan aku ke rumah Ki Selamet itu!” perintah Dina.
“Tapi Bu, jika pak Hendra pulang sore bagaimana? Saya harus menjemputnya dan nanti rencana kita ketahuan oleh pak Hendra?”
“Tunggu sebentar aku telepon mas Hendra terlebih dahulu untuk memastikan dia pulang malam atau tidak.”
Dina mengambil telepon genggamnya di saku bajunya, Dina mencari kontak suaminya lalu meneleponnya.
Keberuntungan memihak kepada Dina, Hendra yang sangat sibuk mengerjakan pekerjaannya tidak bisa pulang lebih awal sama seperti hari-hari sebelumnya Hendra pulang larut malam.
“Bagaimana Bu?” tanya Iwan.
“Aman, bapak pulang larut malam hari ini, kamu bisa mengantarkan aku sekarang. Ini komisi buatmu ambil saja dulu nanti kalau semua sudah beres akan aku tambahi lagi.”
“Siap Bu.”
“Dan ingat jangan sampai pak Hendra tahu, kalau tidak aku bisa memecatmu!” ancam Dina.
“Beres Bu semuanya aman, percaya sama Iwan.”
“Ya sudah kalau begitu aku ganti baju dulu.”
“Siap Bu.”
Dina pergi meninggalkan Iwan menuju kamarnya untuk mengganti baju dasternya, tidak lupa sobekan kertas yang Dina curi dari buku Sundari dia bawa.
Selang beberapa menit Dina telah selesai mengganti baju dasternya.
Kini Dina pun kembali ke luar menghampiri Iwan.
“Ayo Wan,” ajak Dina.
Iwan yang menunggu Dina mengganti baju sembari menikmati rokoknya pun mematikan rokok yang tinggal setengah itu.
“Eh iya Bu.”
Mereka berdua menaiki mobil, Iwan mulai menyalakan mesin mobilnya menjalankannya meninggalkan rumah menuju tempat paranormal.
“Tapi sedikit aneh si Bu,” celetuk Iwan.
Ucapan Iwan yang tidak jelas membuat Dina bingung.
“Maksudmu itu apa Wan?” Dina yang tidak paham dengan perkataan Iwan.
“Maksud saya, kok kuntilanak itu hanya mengganggu ibu saja, sementara di rumah itu kan ada pak Hendra, Bi Sun, dan saya. Tapi mereka tidak pernah di ganggu Bu.”
“Entah aku pun tidak mengerti Wan kenapa hanya aku saja? Ngomong-ngomong kamu mau di ganggu?” Dina yang mentang Iwan.
“Amit-amit tujuh turunan Bu, jangan sampai,” Iwan yang merasa takut.
Dina yang melihat mimik wajah Iwan yang ketakutan pun tertawa.
“Ha-ha-ha, mangkanya kalau ngomong itu jangan sembarangan,” Dina yang menegur Iwan.
Setelah dua jam menempuh perjalanan akhirnya Iwan beserta Dina mulai memasuki jalan yang terbilang cukup kecil hanya bisa di lalui satu mobil saja, di samping kiri jalan ada sebuah papan yang bertulisan jalan keramat.
“Jalan keramat?” Dina yang membawa tulisan di samping kirinya.
Iwan beserta Dina sudah memasuki jalan keramat tersebut.
Terlihat sepanjang jalan di sisi kiri terdapat pohon bambu yang rimbun di tambah lagi banyaknya makan tua di pinggiran jalan sedangkan di sisi kanan jalan terdapat jurang curam.
Dina yang tidak pernah melihat fenomena mengerikan itu bertanya kepada Iwan.
“Wan kita tidak salah jalankan?” tanya Dina yang melihat jalan itu sangat sepi sekali di tambah fenomena menyeramkan di sepanjang jalan itu.
“Iya Bu tidak salah namanya juga jalan keramat ya di dalamnya pasti seram,” ujar Iwan memberitahukan Dina.
“Kalau begitu kita jangan sampai malam Wan, keluar dari jalan ini. Aku takut.”
“Iya Bu, saya usahakan.”
“Menurut warga desa sekitar jika mobil menabrak sesuatu di malam hari jangan pernah berhenti atau keluar dari dalam mobil,” Iwan yang menjelaskan.
“Memangnya kenapa wan?” tanya Dina.
“Ya, yang kita tabrak itu bukan manusia melainkan makhluk astral, terus menurut info yang saya dengar juga jika malam hari kita harus menekan klakson mobil sebanyak tiga kali, itu artinya sebagai tanda permisi kepada mereka jika kita sedang lewat,” pungkas Iwan kepada Dina.
“Mengerikan sekali Wan, kenapa kamu bawa aku ke tempat seram ini,” Dina yang mulai takut akibat penjelasan dari Iwan.
“Loh katanya Ibu tadi mau cari dukun yang sakti? Ya kalau yang sakti tempatnya ya seperti ini,” sahut Iwan.
“Ya sudahlah yang penting kuntilanak itu tidak mengganggu aku lagi,” celetuk Dina.
Untuk menghilangkan rasa takut Dina, sepanjang jalan Dina mengajak Iwan untuk mengobrol.
Bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih