Sundari

Sundari
Kematian Hendra



Sementara di sisi lain Sundari yang sedang berinteraksi dengan kuntilanak Durmo di dalam kamarnya.


“Durmo bagaimana keadaan Hendra?” 


“Hendra sedang berada di rumah sakit, aku tidak bisa secara langsung membunuhnya atau merasuki dirinya, saat aku mendekati dirinya tubuhku seperti terbakar Sundari.” 


“Mungkin karena pengaruh jimat yang di pakainya Durmo, sehingga kau tidak bisa mendekatinya, carilah cara agar bukan kau yang mengambilnya melainkan orang lain, carilah tubuh seseorang yang dapat kau rasuki lalu ambillah jimat itu lalu bunuh Hendra!” Sundari yang memberikan perintah kepada Durmo.


“Baiklah Sundari aku akan melaksanakan ucapanmu,” sahut Durmo yang lalu pergi.


“Sebentar lagi dendamku akan terbalaskan Hendra, aku akan menyusul mereka semua, Ha-ha-ha,” gumam Sundari dengan tawanya.


Kuntilanak Durmo pun menjalankan perintah Sundari.


Saat itu ketika Hendra masih belum sadarkan di ruang isolasi.


Kuntilanak itu merasuki suster yang bertugas mengecek kondisi Hendra.


Suster yang telah di rasuki oleh kuntilanak itu pun menuju ruang isolasi yang Hendra tempati saat ini.


Suster itu membuka kunci pintu ruang isolasi, setelah membuka pintu suster itu masuk ke ruang isolasi di sana terlihat Hendra yang masih tertidur akibat pengaruh obat penenang.


Suster yang di rasuki kuntilanak Durmo segera mendekati Hendra lalu melepaskan kalung yang Hendra kenakan.


Setelah mendapatkan kalung jimat Hendra suster itu pun mengantonginya lalu dengan segera keluar dari ruangan isolasi tersebut.


Saat telah keluar dari ruangan itu suster itu pun masuk ke dalam kamar mandi, dan membuang jimat Hendra ke dalam tong sampah yang ada di kamar mandi.


Barulah kuntilanak Durmo keluar dari tubuh Hendra.


Setelah keluar dari tubuh suster itu kuntilanak itu menghilang.


Suster yang di rasuki kuntilanak itu pun tidak sadar.


‘Mengapa aku berada di kamar mandi, bukannya aku harus ke ruang isolasi pak Hendra sekarang,' batin sang Suster.


Suster itu pun keluar dari kamar mandi lalu berjalan kembali ke ruang isolasi Hendra.


Suster membukan kembali pintu ruangan isolasi Hendra.


‘Kenapa, pintu ini tidak di kunci? Ah, sudahlah sebaiknya aku masuk terlebih dahulu melihat kondisi pasien,’ gumam suster itu.


Suster itu pun masuk ke dalam ruangan isolasi Hendra.


Terlihat Hendra yang masih terbaring di sana, namun tidak lama kemudian Hendra pun telah tersadar pengaruh obat penenang pun telah hilang.


Hendra yang tersadar pun langsung berdiri dalam posisi siaga melihat seseorang yang mendekati dirinya.


“Pergi jangan dekati aku?” pekik Hendra.


“Tenang ya pak Hendra, saya tidak akan melukai pak Hendra. Saya hanya membawa obat untuk pak Hendra minum,” ujar Suster yang mencoba menenangkan Hendra.


“Jangan dekati aku pergi!” bentak Hendra.


Hendra pun memegang kalung jimatnya.


Saat Hendra meraba lehernya ia merasakan ada hal yang aneh, Hendra tersadar jika kalung jimatnya telah hilang seketika Hendra mulai kembali mengamuk menyerang suster.


“Di mana kalungku! Kembalikan kalungku!” Bentak Hendra sembari mencekik suster itu.


“To-tolong, le-lepaskan saya pak Hendra,” ucap Suster itu dengan terbata karena cekikan dari Hendra.


Petugas medis lainnya yang mengetahui kegaduhan di ruang isolasi pun segera mendatangi dan benar saja Hendra kembali mengamuk melukai suster itu.


Dengan sangat sergap petugas medis yang lain membatu melepaskan suster itu dari cekikan Hendra.


Setelah mereka berhasil melepaskan cekikan Hendra.


Hendra masih saja mengamuk-ngamuk sembari meronta-ronta.


“Kembalikan jimatku!” pinta Hendra dengan berteriak.


Karena Hendra tidak bisa di tenangkan akhirnya tim medis pun menyuntikan obat penenang kepada Hendra.  


Beberapa menit kemudian reaksi obat penenang mulai berjalan tubuh Hendra mulai melemas pandangannya pun mulai menjadi buram, sampai akhirnya Hendra tidak sadarkan diri.


Hendra yang tidak sadarkan diri di pakaikan baju khusus oleh para petugas medis.


Setelah memakaikan baju khusus membaut tangan Hendra tidak dapat bergerak untuk menyerang atau melawan, petugas tim medis pun pergi meninggalkan Hendra seorang diri di ruang isolasi dan mengunci kembali pintu ruang isolasi agar Hendra tidak dapat kabur.


*** 


Di malam harinya akhirnya kuntilanak Durmo dapat menjalankan tugasnya.


Saat Hendra tengah tersadar dari pengaruh obat penenang ia pun kembali bingung.


Baju khusus yang di pakaikan tim medis dengan dirinya kini membuat Hendra tidak dapat mengerakkan tangannya. 


Hendra yang merasa tidak nyaman pun berteriak-teriak di dalam ruangan isolasi.


“Tolong bebaskan aku, aku tidak gila!” 


“Bebaskan aku, aku tidak gila,” ucap Hendra dengan teriakan yang sama.


Saat Hendra tengah berteriak-teriak meminta pertolongan.


Tiba-tiba bayangan hitam muncul di pojok ruangan isolasi.


  Hendra yang tidak asing dengan sosok bayangan hitam itu pun mulai mencoba untuk mundur menjauh dari bayangan hitam tersebut.


Sampai tubuh belakang Hendra menempel di dinding Hendra tidak dapat mundur kembali.


Di sisilah Durmo mulai beraksi.


Bayangan hitam itu berubah menjadi sesosok kuntilanak yang berdiri dengan postur tubuh membungkuk.


Kuntilanak itu secara perlahan-lahan mendekati Hendra.


Namun di ruang itu Hendra tidak dapat berlari ke mana-mana untuk menyelamatkan dirinya di tambah lagi baju khusus yang pakaikan oleh petugas tim medis membuat Hendra tidak dapat bergerak dan akhirnya.


Durmo pun mulai mencekik Hendra.


“Kau, akan mati Hendra,” ancam kuntilanak Durmo yang sedang mencekik Hendra.


“Per-pergi,” sahut dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.


“Kau akan mati Hendra!” ancam kembali Kuntilanak Durmo.


Hendra yang mulai tidak bisa bersuara pun mulai kehabisan nafas, tubuhnya mulai lemas serta badannya pun mulai kejang-kejang menahan sakit cekikan Durmo dan tidak bisa bernafas.


Akhirnya Hendra pun tidak ada pergerakan kembali, seketika itu kuntilanak Durmo melepaskan cekikannya di leher Hendra.


Hendra yang tergeletak di lantai sudah tidak bernafas lagi, tidak ada satu orang pun yang mengetahui kematian dirinya di ruang isolasi.  


 Di sisi lain kuntilanak Durmo yang telah menjalankan tugasnya untuk membunuh Hendra pun mendatangi Sundari.


“Sundari aku sudah menjalankan dendamu Hendra telah mati!” ucap kuntilanak Durmo.


“Bagus akhirnya dendamku terbalaskan, manusia macam kau Hendra pantas untuk mati,” ucap Sundari dengan sangat puas karena dendamnya sudah terlampiaskan kepada Hendra.


 Sementara jasad Hendra sudah 2 jam belum ada yang mengetahuinya.


Tidak lama kemudian suster pun mencoba untuk ke ruang isolasi Hendra, karena Hendra telah di pakaian baju khusus suster itu pun tidak perlu takut saat berhadapan dengan Hendra.


  Suster itu membuka pintu ruangan isolasi setelah itu masuk ke ruangan itu.


Terlihat Hendra yang tergeletak dilantai.


Karena tidak curiga sama sekali Suster itu mencoba membangunkan Hendra.


Suster itu pikir Hendra masih berada dalam pengaruh obat penenang.


“Pak Hendra! Bangun pak Hendra,” pekik Suster itu membangunkan Hendra.


Namun tidak ada respons dari Hendra, akhirnya suster itu mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Hendra.


Tapi tidak ada respons sama sekali kepada Hendra.


Suster pun mulai curiga dan mengecek denyut jantung beserta denyut nadi Hendra.


“Inalillahi wainailaihi rojiun,” ucap suster itu.