Sundari

Sundari
Terungkap semua kebusukan Hendra



15 menit mobil ambulan menempuh perjalanan menuju rumah sakit terdekat, hingga akhirnya telah sampai di depan rumah sakit.


Hendra yang langsung di bawa dengan ranjang pasien ke ruangan UGD di sana Hendra langsung di tangani oleh tim medis.


Satu jam kemudian Hendra tidak mengalami banyak luka di bawa kembali ke ruangan untuk menjalankan rawat inap.


Selang beberapa jam, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 07.00,  Hendra pun telah tersadar awalnya Hendra tersadar ia bersikap baik menanyakan kepada suster yang merawatnya tentang kejadian menimpanya.


“Saya di mana Sus?” tanya Hendra yang bingung.


“Bapak sedang berada di rumah sakit, Pak Hendra mengalami kecelakaan. Untung saja luka yang Pak Hendra alami tidak terlalu parah,” sahut Suster yang menjelaskan kepada Hendra.


Namun anehnya selang beberapa menit Hendra mulai berteriak-teriak, melemparkan semua benda yang ada di dekatnya kepada Suster itu.


“Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku!” pekik Hendra ke arah Suster yang merawatnya.


Sikap Hendra mulai berubah aneh, ia merasa semua orang yang di lihatnya itu berubah menjadi kuntilanak yang sangat menyeramkan.


“Pak Hendra tenang Pak?” ucap Suster itu mencoba menenangkan Hendra.


Namun bukannya semakin tenang Hendra malah semakin brutal, Hendra yang berdiri dari tempat ranjang pasien mencabut secara paksa selang infus yang ada di tangannya lalu berusaha untuk menyerang Suster yang merawatnya.


Suster itu pun berteriak meminta tolong. 


Sampai akhirnya para tim medis mendatangi ruangan di mana Hendra di rawat.


Hendra yang di pegangi oleh beberapa perawat laki-laki karena aksi brutalnya, namun Hendra masih saja mengamuk-ngamuk  membuat Dokter menyuntikan obat penenang ke tubuh Hendra.


Selang beberapa menit tubuh Hendra mulai lemas, di tambah lagi penglihatannya menjadi buram dan akhirnya Hendra tidak sadarkan diri.


“Sepertinya pasien ini mengalami gangguan kejiwaan, Sus tolong hubungi pihak keluarganya!” perintah Dokter  


“Baik Dok,”


Suster pun sangat kesulitan untuk menghubungi orang tua Hendra karena Hendra sendiri sudah putus kontak dengan orang tuanya bertahun-tahun.


Akhirnya Suster mendapatkan nomor orang tua Dina.


“Hallo selamat pagi pak, saya ingin mengabarkan bahwa pasien yang bernama Hendra kini di rawat di rumah sakit Bangsa karena kecelakaan mobil yang menimpanya, namun saat ini pak Hendra tidak mengalami luka yang sangat serius dan telah sadar. Tapi dugaan kami sementara pak Hendra mengalami gangguan mental, bapak bisa ke rumah sakit sekarang untuk lebih jelasnya lagi biar Dokter saja yang akan menjelaskannya pak,” pungkas Suster yang menjelaskan kepada Ayahnya Dina.


“Biarkan saja Sus, saya tidak mau menemuinya dia mau mati atau tidak bukan urusan saya,” ujar Ayahnya Dina kesal.


Lalu telepon pun di matikan oleh Ayahnya Dina.


Ternyata orang tua Dina sudah mengetahui gosip Hendra berselingkuh dengan Rini dari rekan kerja Hendra sendiri ya itu Toni.


Kekayaan dan aset-aset yang selama ini Hendra incar dari Dina pun tidak ia dapatkan.


Dan juga perusahaan yang di pegang oleh Hendra saat ini merupakan milik Dina, karena Hendra pernah bangkut saat itu dan keluarga Dinalah yang menyuntikkan saham kepada perusahaan yang Hendra miliki.


Toni selaku wakil Hendra kini diangkat oleh ayah Dina untuk mengelola perusahaan yang di pegang oleh Hendra sebagai catatan Ayah Dina pemilik perusahaan itu.  


Dan Toni menjelaskan semua kecurangan Hendra kepada Ayahnya Dina tentang dirinya harus membohongi konsumen untuk meraup keuntungan yang lebih tinggi.


Tentu saja ayah Dina mendengar hal tersebut dari Doni sangat murka, semua keburukan Hendra pun mulai terbongkar satu persatu.


Toni yang mengetahui perselingkuhan Hendra pun membeberkan kepada orang tua Dina.


Jika sebenarnya kasus bunuh dirinya Rini ada sangkut pautnya dengan Hendra.


Toni pernah melihat Rini sedang menangis di tempat yang sepi.


Toni pun secara diam-diam ke rumah sakit untuk mencari tahu jasad Rini yang sangat memperhatikan itu.


Dan begitu terkejutnya ketika Toni mengetahui bahwa Rini sedang mengandung dan usia kandungan Rini sudah sebulan.


Dari situlah pihak keluarga Dina sangat murka kepada Hendra sehingga akan mengambil semua aset-aset Dina yang telah Hendra pakai.


Keesokan Harinya kondisi Hendra kejiwaan Hendra semakin buruk pihak rumah sakit pun telah memberitahukan orang tua Dina tentang kondisi Hendra.


“Mas, memang Hendra berperilaku tidak baik kepada anak kita tapi, sekarang dia sudah menerima karma dari semua perbuatannya. Maafkan dia Mas, pihak rumah sakit menunggu keputusan Mas sekarang mari kita ke rumah sakit dan menyerahkan pengobatan Hendra kepada merak,” bujuk  sang istri.


“Baiklah jika begitu, aku juga bukan orang sejahat dia.”


Mereka berdua pun akhirnya pergi untuk melihat kondisi Hendra.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya orang tua Dina telah sampai di rumah sakit.


Kedua orang tua Dina pun mendatangi Dokter ingin mengetahui kondisi Hendra lebih jelasnya.


Setelah Dokter memberitahukan semua mengenai Hendra, kedua orang tua Dina pun memasrahkan kepada Dokter yang terbaik untuk Hendra.


Dengan persetujuan kedua orang tua Dina, Hendra pun akhirnya di bawa ke rumah sakit jiwa untuk mengobati gangguan kejiwaannya.


Mereka melihat Hendra yang selalu berteriak-teriak histeris serta terkadang brutal jika ada orang lain yang mendekatinya.


Siang ini Hendra di pindahkan mereka ke rumah sakit jiwa.


Sesampainya di rumah sakit jiwa Hendra di masukan ke ruang isolasi karena Hendra yang sering sekali mengamuk jika ada orang lain yang ingin mendekatinya.


Saat Hendra di masukkan ruang isolasi ia semakin menjadi-jadi.


“Lepaskan aku tidak gila! Aku tidak gila,” ujar Hendra yang berteriak-teriak.


Namun tim medis tetap memeganginya untuk menaruhnya di ruang isolasi.


Di saat ingin di masukkan ke ruangan itu Hendra berupaya untuk kabur ia melukai petugas medis dengan cara menggigit tangannya. 


Sontak saja Hendra dapat kabur dan berlari sekencang mungkin, namun usaha Hendra pun sia-sia semua tim medis rumah sakit di kerahkan untuk menangkap Hendra.


Hendra yang tertangkap pun akhirnya di tenangkan dengan menyuntikkan obat penenang.


Seketika Hendra yang sedang meronta-ronta kini menjadi lemas dan lama-kelamaan tidak sadarkan diri.


Para tim medis pun dengan segera memasukkan Hendra ke dalam ruang isolasi.


Orang tua Dina pun berbicara kepada Dokter yang ada di RSJ tersebut.


“Dok saya serahkan semua kepada Dokter tentang pasien yang bernama Hendra, karena saya sendiri pun tidak mengetahui pihak keluarganya, Hendra mengaku dia sebatang kara dan orang tuanya sudah lama meninggal di desa,” ujar Ayah Dina yang menjelaskan kepada Dokter.


“Baik Pak jika memang seperti itu, jadi pasien yang bernama Hendra ini akan kami rawat semaksimal mungkin.”


“Terima kasih Dok, saya permisi dahulu,” ucap ayah Dina yang berpamitan kepada Dokter.


“Sama-sama Pak”


Ayah dan Ibu Dina pun keluar dari rumah sakit jiwa menuju parkiran mobil.


Sesampainya di parkiran mobil mereka mulai menjalankan mobil mereka meninggalkan rumah sakit jiwa itu dan kembali ke rumahnya.