
Tiga hari telah berlalu kondisi Dina semakin membaik, Dina di bolehkan pulang oleh Dokter.
Pagi itu Hendra bersiap-siap membawa Dina pulang. Dina yang tidak bisa berjalan di bawa menggunakan kursi roda.
Hendra yang mengangkat Dina dari ranjang pasien ke kursi roda. Hendra mendorong kursi roda Dina keluar kamarnya.
Sebelum Hendra pergi meninggalkan rumah sakit yang merawat Dina, Hendra terlebih dulu membayar semua biaya rumah sakit yang telah merawat istrinya.
Setelah pembayaran telah selesai Hendra selesaikan barulah Dina di bawa masuk ke mobil, Hendra yang mengangkat Dina dari kursi rodanya masuk ke dalam mobil, selepas itu baru Hendra membenahi kursi rodanya ke dalam bagasi mobilnya.
“Apa kamu sudah siap untuk pulang sayang,” ujar Hendra yang berada di dalam mobil sembari menyalakan mobil.
“Iya Mas,” ucap Dina dengan singkat.
Hendra pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju ke rumahnya.
Di dalam perjalanan Hendra mengajak bicara Dina yang sedari tadi terlihat hanya terdiam saja.
“Ada apa sayang sedari tadi aku lihat kamu hanya terdiam saja apa yang terjadi kepadamu?”
“Tidak apa-apa, Mas.”
“Coba ceritakan kepadaku sayang?” ujar Hendra.
“Aku tidak ingin kamu tinggal kerja terlalu lama Mas, aku takut berada di rumah itu bersama bi Sun,” pungkas Dina.
“Bi Sun baik, apa yang kamu takutkan?”
“Kamu tidak mengerti Mas, jika semua telah terjadi baru kamu akan mengerti Mas,” ucap Dina.
“Maksudmu sayang?”
“Sudahlah Mas, aku jelaskan kamu tidak akan percaya,” sahut Dina yang terlihat kesal.
Beberapa jam telah berlalu mereka berdua pun akhirnya telah tiba di rumah.
Dina yang membuka jendela mobil melihat rumah itu terasa sangat mengerikan baginya rumah itu seperti kuburan yang sangat menyeramkan untuknya di tambah lagi Dina tidak bisa berjalan hanya bisa menggunakan kursi roda membuat dirinya semakin takut.
Namun Hendra tidak pernah percaya dengan ucapannya bagi Hendra hal mistik itu adalah peristiwa yang tidak masuk akal dan Hendra tidak mempercaya hal tersebut.
Sundari yang mendengar mobil Hendra telah tiba segera menghampiri mereka.
Sundari berjalan menuju ke depan teras rumah.
Sementara Hendra telah memberhentikan mobilnya di teras rumahnya, Sundari pun membantu Hendra.
Hendra yang keluar dari mobil memerintahkan Sundari untuk mengambil kursi roda di dalam bagasi mobil.
“Bi Sun tolong ambil kursi roda Nyonya Dina di dalam bagasi!” perintah Hendra.
“Baik Tuan,” sahut Sundari.
Sundari pun mengambil kursi roda milik Dina di dalam bagasi mobil dan mempersiapkannya.
Setelah siap, Hendra membuka pintu mobil di mana Dina duduk.
“Ayo sayang kita turun,” ajak Hendra yang telah siap mengangkat Dina ke kursi roda.
Setelah Hendra selesai mengangkat Dina ke kursi roda Sundari juga membantu memasuk-masukan barang-barang Dina ke dalam rumah.
Hendra mendorong kursi roda Dina masuk ke dalam rumah.
“Akhirnya kamu kembali ke rumah sayang, apa kamu mau beristirahat di kamar?” tanya Hendra.
“Iya Mas, kakiku sakit terlalu lama di dalam mobil,” ujar Dina.
“Baiklah kalau begitu,” sahut Hendra.
Hendra pun mendorong kursi roda yang di duduki Dina masuk ke dalam kamar.
Setelah sampai di kamar Hendra mengangkat Dina ke tempat tidurnya.
“Sebaiknya kamu istirahat sayang, aku ingin menelepon papah dan mamahmu memberitahukan bahwa kamu sudah pulan.”
Sebelum pergi keluar Hendra menyelimuti Dina lalu mengecup kening Dina, barulah Hendra pergi dari kamarnya.
Hendra menuju ruang tamu duduk di sofa ruang tamu. Hendra mengambil telepon genggamnya lalu menelepon orang tua Dina.
Kedua orang Dina sangat senang mendengar anaknya kembali pulang.
Tidak berselang lama sekretaris Hendra di kantor meneleponnya.
Rini sekretaris pribadi Hendra memberikan informasi kepada Hendra bahwa perusahaannya mengalami penurunan laba.
Karena Hendra tidak masuk kerja seminggu lebih jadi semua manajemen di serahkan kepada wakil Hendra yang bernama Toni.
“Kok bisa keuntungan kita malah menurun, bagaimana kerja Toni! Saya sudah pasrahkan kepada dia untuk mengelola selama saya tidak ada kantor tapi malah seperti ini. Ah ... Sudahlah saya akan telepon Toni terlebih dahulu,” Hendra yang kesal mematikan teleponnya.
Hendra mencoba menelepon Toni.
“Selamat siang Pak Hendra,” ucap Toni yang mengangkat telepon Hendra.
“Kerjamu bagaimana, aku tinggal satu minggu lebih tapi kamu malah tidak becus mengurus perusahaan ini Toni!” sahut Hendra dengan nada marah kepada Toni.
“Maaf Pak saya yang salah saya hanya ingin memberikan yang terbaik kepada konsumen pak, sehingga keuntungan di perusahaan kita mengalami penurunan.”
“Kamu tahu jika kamu mengganti produk teh kita itu membuat keuntungan saya menipis bahkan turun, saya tidak mau tahu jika dalam dua minggu ini kamu tidak bisa memperbaiki perusahaan saya, sebaiknya kamu keluar dari perusahaan saya!” ancam Hendra dengan kesal di teleponnya.
“Ba-baik Pak, saya janji akan membuat keuntungan perusahaan kita kembali seperti semula,” sahut Toni.
Hendra yang kesal dengan kerja Toni mematikan teleponnya.
Hendra pun yang sedang kesal mencoba menenangkan dirinya duduk di sofa ruang tamu.
Sementara Dina yang sedang beristirahat di dalam kamar di kejutkan oleh sosok kehadiran kuntilanak.
Dina yang belum tertidur melihat bayangan hitam di langit-langit atap kamarnya.
Bayangan hitam itu dari yang Dina lihat kecil menjadi besar lalu berubah menjadi sosok kuntilanak yang berjalan merayap di langit-langit atap kamarnya mulai ingin mendekati Dina
Dina yang melihat kuntilanak itu sontak berteriak dengan Histeris, teriakan Dina di dengar oleh Hendra yang berada di ruang tamu.
Hendra segera berdiri bergegas menghampiri Dina.
Terlihat Dina yang menutupi wajahnya dengan selimutnya.
Hendra mencoba mendekati Dina menanyakan kepada Dina apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa sayang,” ucap Hendra yang mendekati Dina di tempat tidurnya.
Dina tidak merespons ucapan Hendra dirinya masih saja dalam ketakutan.
“Sayang tenang ini aku, suamimu Hendra!” pekik Hendra.
Dina membuka selimutnya yang sengaja di pakainya untuk menutupi wajahnya.
Dina yang melihat Hendra di hadapannya pun memeluk Hendra dengan erat.
“Mas, jangan tinggalkan aku sendiri,” pinta Dina.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Hendra.
“Kuntilanak itu muncul kembali menggangguku Mas,” Dina menjelaskan.
“Sudah aku ucapkan kepadamu di rumah ini tidak ada hal semacam itu, kamu selalu saja takut dengan imajinasimu sendiri, aku cape sayang aku lelah.”
Ucapan Hendra yang menohok membuat Dina menjadi sedih. Hendra yang sedang kalut akan perkerjaannya di tambah lagi sikap Dina akan hal mistik membuat Hendra menjadi geram dan tidak dapat menahan emosinya.
Sontak saja kata-kata Hendra membuat hati Dina sakit.
“Belum satu hari Mas, kamu bilang akan menjagaku tapi buktinya apa? Aku hanya ketakutan tidak ingin kamu tinggalkan tapi ucapanmu sudah sangat kasar Mas,” pungkas Dina dengan mata yang berbinar-binar.
“Maafkan aku sayang, aku sedang lelah perusahaanku mengalami penurunan laba yang lumayan cukup bayak,” Hendra menjelaskan kepada Dina apa yang terjadi kepadanya.