Sundari

Sundari
Permintaan terakhir



Dengan secara tiba-tiba muncul bayangan hitam dari belakang tubuh Sundari.


Bayang itu pun terlihat semakin jelas menjadi sosok kuntilanak yang berjalan merangkak.


“Bunuh Dia!” Perintah Sundari sembari pergi meninggalkan mereka.


Kuntilanak itu berjalan merangkak mendekati Dina.


Dina mencoba membuka pintu keluar yang terbut dari kayu sembari berteriak meminta pertolongan.


“Tolong! Siapa saja bukaan pintu ini!” teriak Dina sembari mengedor-gedor pintu yang terbuat dari kayu itu.


Usaha Dina pun hanya sia-sia, tidak ada satu pun orang yang mendengar teriakkannya.


Semakin lama kuntilanak itu semakin dekat di belakang Dina.


Dina mulai tersadar jika sosok kuntilanak itu telah berada di belakangnya.


Dina memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, benar saja kuntilanak itu berdiri dengan tubuh yang bungkuk berada tepat di belang Dina.


Kuntilanak itu mengarahkan kedua tangannya ke leher Dina, mencekik Dina.


Sontak saja Dina berusaha membuka cekikan kuntilanak itu di lehernya.


Sekuat tenaga Dina ingin membuka cekikan kuntilanak itu di lehernya, namun karena kuntilanak itu sangat kuat Dina pun tidak bisa membuka cekikannya tenaga mulai lemas tubuh Dina mulai kejang-kejang karena susah untuk bernafas.


Namun nasib baik masih berpihak kepada Dina, Hendra yang sedang tertidur dengan istrinya mengetahui. Sang istri yang tertidur sembari memegang lehernya sendiri dengan nafas yang tersengal-sengal.


Melihat hal itu Hendra segera membangunkan Dina.


“Sayang! Sayang bangun!” teriak Hendra sembari menggoyang-goyangkan tubuh Dina agar terbangun.


Dina pun terbangun dengan batuk-batuk.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Hendra.


Dina yang tersadar ternyata semua itu hanya mimpi buruk untuknya pun memeluk Hendra sembari menangis.


“Mas!” pekik Dina sembari memeluk Hendra.


“Iya sayang aku di sini tenangkan dirimu,” ucap Hendra membelai-belai rambut Dina.


Beberapa menit Dina mulai kembali tenang, Hendra mengambilkan segelas air putih yang berada di meja kamar mereka untuk Dina.


“Ini minum airnya, agar kamu tenang sayang,” ujar Hendra memberikan segelas air putih untuk Dina.


“Terima kasih Mas,” sahut Dina meminum segelas air putih itu.


Setelah selesai meminum segelas air putih yang di berikan oleh Hendra Dina merasa mulai tenang. Dina menceritakan kepada Hendra akan mimpi buruk yang dirinya alami.


“Sayang sudah berapa kali aku ucapkan kepadamu mimpi itu hanya bunga tidur, mungkin saja karena rasa takutmu yang berlebihan membuat kamu jadi bermimpi buruk,” ucap Hendra.


“Terserah kamulah Mas, aku cape kamu bertanya aku cerita ujung-ujungnya kamu juga tidak pernah percaya dengan ucapanku,” sahut Dina yang kesal.


“Bukannya seperti itu sayang hanya saja aku selalu berfikir secara rasional,” sahut Hendra membujuk Dina sedang marah.


“Oh ya ada satu lagi yang aku ingin tanyakan kepadamu? Apa yang kamu lakukan kepada bi Sun sehingga dia sangat dendam?” tanya Dina mengingat perkataan Sundari kepadanya lewat mimpi.


“Aku tidak pernah melakukan apa-apa dengan bi Sun, bertemunya saja baru dikala dia bekerja di rumah ini sayang,” Hendra berusaha menjelaskan kepada Dina.


“Bohong kamu Mas, itu tidak akan mungkin di dalam mimpiku jelas-jelas bi Sun sangat membenci dirimu dan keluarga kita.”


“Aku berani bersumpah sayang, aku tidak pernah berbuat apa-apa aku tidak mengenal dia,” Hendra yang berusaha meyakinkan Dina.


Di dalam mimpi Dina sendiri Sundari tidak memberitahu nama aslinya dan dengan susuk yang di pakai Sundari membuat orang-orang yang pernah mengenalnya tidak akan mengenal dirinya sebagai Sundari melainkan orang lain.


 Sementara Dina yang semakin takut dengan keadaan sosok kuntilanak yang selalu menerornya di alam nyata maupun di alam mimpi.


Jam Sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari di mana Dina yang tadi masih dalam keadaan terjaga kini kembali mengantuk.


Sayup-sayup Dina menahan matanya yang semakin lama semakin berat pun tidak mampu lagi untuk menahannya dan akhirnya Dina pun tertidur kembali.


Di pagi harinya selepas sarapan pagi Dina meminta Hendra untuk tidak bekerja hari ini, Dina memohon kepada Hendra untuk menemani dirinya hari ini.


Hendra yang merasa kasihan melihat keadaan istrinya itu mengiyakan permintaan Dina.


Tidak di sangka permintaan Dina menjadi permintaan terakhir untuk Hendra.


Mereka berdua bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi Dina yang duduk di kursi roda di temani oleh Hendra.


Sundari menghampiri mereka berdua di ruang keluarga.


“Nyonya, Tuan saya permisi mau pergi ke pasar sebentar,” ucap Sundari yang meminta ijin kepada mereka berdua.


“Iya Bi Sun silakan,” sahut Hendra.


Dina pun tidak berbicara satu patah kata pun, ia sangat takut ketika melihat Sundari baginya mimpi tadi malam seperti sangat nyata sehingga membuat Dina semakin takut dengan kehadiran Sundari.


Jika Sundari menghampirinya tidak hanya tertunduk diam tidak berani untuk bersuara dan menatap wajah Sundari.


Kondisi mental Dina memang sangat memperhatikan akhir-akhir ini, tidak ada satu orang pun yang percaya dengan ucapannya atau mengerti akan ketakutannya, kegelisahannya, bahkan kecemasannya.    


 KRING


Suara telepon yang berdering.


Hendra yang mendengar suara telepon genggamnya berdering di dalam kamar segera menghampirinya.


“Sayang tunggu sebentar ya aku ingin mengangkat telpon ku terlebih dahulu,” ujar Hendra.


“Iya Mas,” sahut Dina.


Hendra bergegas pergi ke kamarnya untuk mengangkat telepon genggamnya, sesampainya di dalam kamar Hendra pun menuju ke meja kamar tempat di mana telepon genggamnya berbunyi.


Hendra pun mengangkat beberapa kali panggilan masuk dari Toni wakil yang menggantikan dirinya sementara untuk mengurus kantor.


Sementara Dina yang sedang berada di ruang keluarga mulai di teror kembali oleh sosok kuntilanak itu, terdengar suara cakaran yang sedang mencakar-cakar langit-langit flavon Dina yang sangat penasaran pun mencoba menoleh ke atas flavon.


Di saat Dina menoleh ke atas terlihat kuntilanak yang ternyata sedang berjalan merayap di atas flavon tersebut.


Dina ingin berteriak meminta pertolongan Hendra yang sedang berteleponan  di kamar pun tidak bisa.


Mulut serta tubuh Dina tidak bisa di gerakan, hal yang di takutkan pun mulai terjadi.


Kuntilanak itu dengan perlahan menghampiri Dina yang duduk di kursi roda. Semakin lama kuntilanak itu semakin dekat dengan tubuh Dina.


Dina yang tubuhnya tidak dapat bergerak serta mulutnya yang tidak bisa di buka untuk berteriak meminta pertolongan membuat sang kuntilanak sangat mudah untuk mencelakakan dirinya.


Kuntilanak itu pun mencoba masuk ke tubuh Dina, setelah kuntilanak itu berhasil masuk ke tubuh Dina. Kuntilanak itu pun mencoba untuk menguasai raga Dina.


Tatapan mata Dina menjadi kosong, wajahnya pun menjadi pucat. Tubuh yang tadinya tidak bisa di gerakan kini bisa di gerakan dan di kuasi oleh kuntilanak itu.


Dina yang tidak sadarkan diri akibat di kuasai oleh kuntilanak itu mencoba menjalankan kursi rodanya dengan memutar ban kursi roda itu di bantu oleh kedua tangannya.


Bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.