
Kini Hendra yang semakin sibuk karena mengurus dua perusahaan sekaligus tidak mempunyai waktu untuk sang istri.
Hendra yang selalu pulang larut malam membuat Dina sering di ganggu oleh sang kuntilanak itu.
Di malam itu ketika Hendra belum pulang bekerja jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dina tidak kuat menahan kantuknya ia akhirnya tertidur di kamarnya.
Dina yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut tersentak kaget ketika selimutnya seperti ada yang menarik.
Merasakan ada yang menarik selimutnya dengan paksa Dina pun terbangun dari tidurnya.
Rasa takut mulai menghampiri dirinya, Dina tidak bisa mengadu kepada siapa-siapa karena semua orang di rumah itu tidak mempercayai dengan ucapannya.
Dina yang merasakan selimutnya di tarik paksa, kembali untuk membenarkan selimutnya dan melanjutkan tidur.
Di saat Dina kembali tertidur dia merasakan ada sesuatu yang berjalan dari dalam selimutnya.
Dina yang merasakan tidak nyaman pun mencoba melihat sesuatu itu di dalam selimutnya.
Sontak Dina terkejut dan berteriak ketika yang dia lihat itu adalah sosok kuntilanak yang merayap di dalam selimutnya.
Seketika Dina langsung berdiri meninggalkan kamarnya.
Kebetulan Hendra baru saja pulang dari kantor.
“Sayang aku pulang,” kata Hendra yang baru masuk ke dalam rumah.
Dina langsung memeluk Hendra dengan rasa takut dan wajah yang memucat.
“Ada apa sayang?” Hendra yang bingung dengan tingkah Dina seperti orang yang ketakutan.
“I-itu Mas–,' ucap Dina terhenti.
“Itu apa coba jelaskan dengan perlahan-lahan sayang.’
Dina mengambil nafas panjang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Setelah merasa sedikit tenang Dina mulai bercerita kepada Hendra.
“Itu lagi, itu lagi ayo kita ke kamar jika memang ada aku yang akan mengusir kuntilanak itu dari rumah ini,” ucap Hendra yang kesal.
Hendra menuju kamarnya bersama Dina.
Sesampainya di kamar, seperti biasa Hendra tidak melihat apa-apa bahkan kuntilanak yang di katakan Dina tidak ada.
“Sebaiknya, kamu jangan menonton film hantu terlalu banyak sayang, bisa mempengaruhi kejiwaanmu sayang.”
“Sudahlah mas aku cape kamu tidak pernah percaya kepadaku!” Dina yang di buat kesal oleh Hendra.
Malam semakin larut Hendra yang begitu sangat lelah tidak memedulikan Dina.
Hendra yang telah berbaring di atas kasur tertidur dengan sangat lelapnya.
Sementara Dina masih terjaga, Dina tidak dapat memejamkan matanya karena kesal kepada Hendra.
Keesokan paginya Dina yang mengantar Hendra sampai depan teras. Hendra yang berpamitan kepada Dina untuk bekerja.
“Sayang aku tinggal bekerja, baik-baik di rumah. Anak papah baik-baik di dalam perut mamah ya,” Hendra yang berpamitan untuk bekerja mencium kening Dina serta mengusap-usap perut Dina yang belum terlihat besar.
“Iya Mas hati-hati, Iwan jangan ngebut-ngebut membawa mobilnya.”
“Iya Bu,” sahut Iwan.
Setelah Hendra pergi Dina kembali masuk ke dalam rumah.
Dina yang duduk di ruang tamu sembari bermainan telepon genggamnya.
Dina yang sedang hamil muda ingin sekali memakan mangga muda, Dina memanggil Sundari untuk membeli mangga muda di pasar.
Sundari yang mendengar teriakan Dina memanggil dirinya pun segera menghamparinya.
“Iya Nyonya,” ucap Sundari.
“Tolong belikan saya mangga di pasar ini uangnya kembalinya ambil untukmu,” ucap Dina.
“Baik Nyonya,” ucap Sundari yang bergegas pergi meninggalkan Dina membeli pesanan yang Dina inginkan.
Setelah Sundari pergi, tidak berselang lama sebuah benda jatuh terdengar oleh Dina.
Dina berdiri dari duduknya menghampiri benda jatuh itu.
“Tadi seperti ada suara benda jatuh di dapur ini, tapi kok tidak ada benda yang jatuh,” Dina yang merasa bingung.
Saat Dina tidak menemukan hal yang aneh Dina pun ingin kembali ke ruang tamu menunggu Sundari yang pulang dari pasar membawa pesanannya.
Namun saat Dina ingin melangkahkan kaki terdengar suara gaduh di kamar Sundari, Dina yang sangat penasaran pun menghampiri kamar Sundari.
Dina membuka pintu kamar Sundari yang kebetulan tidak di kunci olehnya.
Setelah masuk kamar Sundari Dina tidak menemukan apa-apa di kamar Sundari.
Dina memutuskan untuk keluar kamar Sundari, saat Dina ingin keluar ada sebuah benda di atas meja kamar yang membuat dirinya sangat penasaran.
Dina pun mendatangi benda yang terbungkus kain putih, Dina membuka bungkusan itu ternyata hanya sebuah buku tulis.
“Kenapa Bi Sun membungkus buku tulis ini dengan kain putih,” Dina yang sangat heran.
Karena sangat penasaran Dina membuka buku tulis itu, buku tulis itu kosong tapi pada saat Dina membuka lembar berikutnya ada sebuah tulisan yang dirinya tidak mengerti.
Dina pun merobek selembar kertas yang terdapat tulisan itu. Setelah itu Dina membungkus kembali buku itu dengan kain putih lalu meletakkan ke asalnya di mana Dina mengambil buku itu.
Sobekan kertas yang Dina ambil tadi dia kantongi.
Saat Dina mau berbalik arah untuk keluar kamar secara tiba-tiba Sundari sudah ada di hadapannya.
“Ini pesanan Nyonya, apa yang sedang Nyonya lakukan di kamar saya,” tegur Sundari.
“I-itu tadi ada suara berisik di kamarmu, tapi setelah masuk aku tidak menemukan apa-apa,” ucap Dina yang gugup.
Sundari hanya terdiam memperhatikan Dina, dengan mata yang tajam Sundari menatap wajah Dina.
Dina yang merasa tidak nyaman atas perbuatannya pun ke luar dari kamar Sundari tanpa berbicara apa-apa lagi.
Setelah itu Dina kembali ke dapur untuk mengupas mangga muda yang di berikan Sundari tadi, Dina menikmati setiap gigitan rasa asam dari mangga muda itu.
Dina yang merasakan cukup memakan mangga muda itu kembali ke kamarnya, meletakkan sobekan kertas yang bertulisan mantra itu ke meja kamarnya.
Dina kembali ke kasurnya untuk merebahkan tubuhnya sembari bermain telepon genggamnya.
Sesekali rasa penasaran Dina kembali muncul dengan arti tulisan yang dia ambil tadi tanpa sepengetahuan Sundari.
‘Apa arti tulisan ini, mengapa Bi Sun sampai membungkus buku itu. Aku harus mencari tahu maksud tulisan ini,' Dina yang bermonolog.
Belum mendapatkan jawaban arti dari tulisan itu Dina mendapatkan sebuah ide.
‘Seperti aku harus mencari seorang dukun sakti, agar semua terjawab dan apa tujuan si kuntilanak itu menggangguku’ Batin Dina.
Dina berinisiatif untuk menanyakan kepada Iwan tentang seorang dukun sakti, menurut Dina siapa tahu Iwan dapat membantu dirinya mengantarkan ke dukun yang Dina cari.