
Sudah satu minggu di rumah sakit namun Dina belum juga sadarkan diri Hendra suaminya dengan setia menemaninya di rumah sakit.
Hendra selalu mengajak Dina untuk berbicara walaupun Hendra tahu Dina belum merespons setiap ucapannya akan tetapi Hendra selalu berharap Dina akan secepatnya sadar.
“Sayang bagaimana kabarmu hari ini,” ucap Hendra sembari menggenggam erat jari jemari Dina.
“Pasti kamu bosan ya berada di rumah sakit ini?” ucap Hendra memandangi wajah Dina yang belum sadarkan diri.
“Nanti kalau kamu sembuh, aku akan menyempatkan waktu untukmu sayang.”
“Aku ingin kamu cepat pulang menanti kehadiranku di rumah, sekarang aku mengerti kenapa kamu selalu menyuruhku pulang lebih awal, ternyata sepi jika tidak ada kamu sayang, Aku sangat merindukanmu.”
Di saat Hendra menggenggam jara jemari Dina, ada respon terhadap Dina.
Hendra yang mengetahui hal itu sangat senang sekali, Hendra mencoba berbicara kembali agar Dina sadar dari komanya.
“Sayang ayo bangun, ini aku sayang,” ucap Hendra yang antusias membangunkan Dina.
Pergerakan tangan Dina semakin terlihat Hendra yang sangat antusias berusaha memanggil-manggil nama Dina agar diri sadar.
Perlahan-lahan Dina mulai mendengar panggilan dari Hendra.
Dina pun mulai mencoba membuka matanya terlihat sama-samar Hendra yang berada di sampingnya, hingga penglihatannya menjadi jelas.
“Mas, aku berada di mana?” tanya Dina yang tidak mengingat kejadian kecelakaan itu.
“Kamu sudah sadar sayang, kamu berada di rumah sakit,” ucap Hendra dengan bahagia.
“Aduh! Kenapa dua kakiku sangat sakit untuk di gerakan Mas?” tanya Dina.
“Mmm, kamu mengalami kecelakaan sayang yang mengakibatkan kedua kakimu patah, tapi kata Dokter kamu akan sembuh hanya saja butuh waktu agak lama untuk kamu bisa berjalan dengan normal sayang,” pungkas Hendra kepada Dina.
“Lalu bayiku Mas, apakah selamat,” ucap Dina meraba-raba perutnya.
“Kamu ...,” Hendra terdiam untuk menahan kesedihannya agar tetap terlihat tegar di depan istrinya.
“Kamu keguguran sayang.”
“Enggak ... Gak mungkin Mas. Mas pasti bohong kan?”
Hendra terdiam, dia tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Dina.
“Mas kenapa diam? Jawab Mas!”
“Sayang kita harus mengikhlaskannya.”
“Gak ... Gak mungkin. Anak ku,” teriak Dina.
Air mata terus berderai ke pipi Dina di saat Dina mulai mengingat semua kejadian yang dialami dirinya.
“Jangan menangis sayang aku akan selalu ada untukmu, semua ini pasti bisa kamu lewati,” ucap Hendra yang mencoba menguati hati Dina.
Dina tidak kuasa menahan kesedihannya, bulir bening terus keluar dari kelopak matanya.
“Sudah sayang, ini bukan akhir dari segalanya,” ucap Hendra memeluk erat tubuh Dina.
Tiba-tiba Dina teringat dengan Iwan sopir pribadi yang menemani dirinya.
“Iwan–“ ucap Hendar yang terhenti sembari menarik nafas panjangnya.
“Ada apa dengan Iwan, Mas?” tanya Dina sembari menangis.
“Iwan meninggal di tempat sayang,” sahut Hendra yang merasa sedih akan kepergian Iwan.
Dina yang mendengar ucapan Hendra menjadi tambah sedih Dina beranggapan karena dirinya menyuruh Iwan ke dukun yang menyebabkan semua kecelakaan ini terjadi.
“Ini semua salahku, jika saja Iwan tidak aku suruh untuk menemaniku semua tidak akan terjadi,” Dina yang menyesali semua kejadian yang telah terjadi.
“Sudah sayang semua bukan salahmu, ini mungkin kehendak Tuhan. Aku tidak mau kamu terus menerus bersedih,” ujar Hendra mencoba menenangkan Dina.
Tidak lama saat mereka sedang berbincang-bincang Dokter pun masuk ke ruangan Dina.
“Permisi Pak Hendra dan Ibu Dina, saya ingin memeriksa kondisi Ibu Dina terlebih dahulu,” kata Dokter.
“Baik Dok, silakan,” ujar Hendra yang mempersilahkan Dokter untuk memeriksa Dina.
Dokter pun mulai memeriksa kondisi Dina.
Setelah Dokter telah selesai memeriksa kondisi Dina, Hendra menanyakan kepada Dokter.
“Bagaimana Dok? Kapan istri saya boleh di persilahkan untuk pulang,” Hendra yang bertanya kepada Dokter.
“Kemungkinan dalam waktu kurang lebih tiga hari, jika kondisi ibu Dina semakin baik,” sahut Dokter yang menjelaskan kepada Hendra.
“Kalau begitu terima kasih Dok.”
“Ya sudah Pak Hendra dan Bu Dina silakan di lanjut obrolannya saya permisi dahulu,” ucap Dokter sembari meninggalkan mereka berdua.
“Aku tidak ingin tinggal di rumah itu Mas, jika bi Sun tidak keluar dari rumah itu,” ancam Dina yang kesal mengetahui kebusukan Sundari.
“Ada apa dengan bi Sun, dia bekerja dengan baik. Kenapa kamu sangat membencinya sayang,” tanya Hendra.
“Dialah dalang dari semua kejadian ini Mas, aku tidak mau jika bi Sun tinggal bersama kita kembali, Mas harus memecatnya sekarang juga!”
“Ta-tapi sayang, bagaimana mungkin bi Sun dalang dari semua peristiwa ini?”
Dina mulai menceritakan semua kepada Hendra sampai akhirnya Dina beserta menyuruh Iwan untuk menemaninya ke Duku.
“Apa sayang jadi kamu dengan Iwan pergi ke dukun, kamu masih percaya dengan hal-hal semacam itu, aku tidak mungkin memecat bi Sun dengan alasan yang tidak masuk akal seperti ini,” sahut Hendra yang kaget mendengar penjelasan Dina.
“Tapi Mas, ini benar-benar terjadi. Aku tidak bohong jika bi Sun masih berada di rumah kita keluarga kita akan celaka Mas,” pungkas Dina.
“Apa kamu bisa membuktikan ucapanmu itu sayang?”
Dina terdiam di saat Hendra menanyakan tentang bukti-bukti ucapannya, secara Iwan telah meninggal dunia dan ki Selamet pun yang Dina temui bukan ki Selamet sesungguhnya melainkan jin prewangannya menjelma menjadi ki Selamet.
“Sayang bagaimana kenapa kamu diam, sudahlah aku tidak mau membahas hal yang tidak masuk akal lagi, aku ingin hidup bahagia bersamamu bersama keluarga kecil kita.”
Karen Dina tidak bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan Hendra dan bukti yang kuat akhirnya Dina mencoba untuk berdiam, mengiyakan ucapan Hendra sampai Dina mendapatkan bukti yang akurat kepada tentang Sundari.