Sundari

Sundari
Target selanjutnya



Di malam harinya Hendra telah terlebih dahulu mengantar Rini pulangan ke rumahnya.


“Aku pulang ya sayang,” Hendra yang pamit.”


“Iya Mas hati-hati di jalan,” ujar Rini.


Hendra pun meninggalkan Rini kembali ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian Hendra yang telah sampai di rumah.


“Baru pulang Tuan?” tegur Sundari yang sedang berada di ruang tamu menunggu kepulangan Hendra.


“Iya Bi Sun, aku mau ke kamar terlebih dahulu Bi. Hari ini aku sangat lelah sekali,” sahut Hendra meninggalkan Sundari.


Saat Sundari sedang menegur Hendra, Sundari melihat Hendra mengenakan kalung jimat yang di berikan oleh mbah Sarno.


‘Jimatmu itu hanya berfungsi sementara Hendra,' batin Sundari.


Sundari pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat kembali.


Sementara Hendra yang sudah berada di kamar mengganti bajunya dengan baju tidur lalu menuju ke tempat tidurnya malam ini Hendra dapat tidur dengan nyenyak karena tidak di ganggu oleh kuntilanak itu untuk sementara waktu.


Namun tidak dengan Rini yang malam ini tidak dapat tidur dengan nyenyak.


Saat itu Rini sedang ingin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Rini hanya tinggal bersama pembantu saja di rumah yang tampak sederhana, sedangkan kedua orang tua Rini berada di desa.


Rini yang kala itu sedang mandi di kejutkan oleh sesuatu.


Rini yang ingin mengambil air dari bak kamar dengan menggunakan gayung untuk menyiram tubuhnya begitu terkejut saat yang ada di dalam gayung itu gumpalan rambut yang panjang.


“Rambut? Rambut siapa ini kok bisa ada di dalam bak mandi, pasti ulah bi Ijah tidak membersihkan bak kamar mandi ini,” ucap Rini dengan kesal.


Rini pun membuang gumpalan rambut itu di tong sampah yang berada di kamar mandi.


Dan anehnya lagi setiap Rini mengambil air menggunakan gayung di dalam bak kamar mandi lagi-lagi gumpalan rambut itu masuk ke dalam gayung itu.


Rini yang sangat bingung pun mencoba mendekati bak kamar mandi lebih dekat.


Terlihat helaian demi helaian rambut yang bera di permukaan air.


‘Kok banyak banget rambut di dalam bak air ini, nanti aku akan tegur bi ijah’ Rini yang bermonolog.


Rini sangat terkejut saat helaian rambut itu naik ke permukaan berubah menjadi sosok kepada kuntilanak.


Dengan spontan Rini berteriak di dalam kamar mandi.


Mendengar teriakan Rini di dalam kamar mandi bi Ijah bergegas mendatanginya.


“Non Rini! Non ada apa?” teriak bi Ijah mengedor-gedor pintu kamar mandi Rini.


Rini dengan ketakutan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang di tutupi handuk.


“I-itu Bi, ada hantu di sama,” ucap Rini menunjuk dalam kamar mandi.


Bi Ijah mencoba memberanikan diri masuk ke dalam kamar mandi itu.


“Bibi tidak melihat apa-apa Non,” ujar Bi Ijah.


“Tadi aku lihat rambut di bak penampung air itu Bi.”


“Iya Non Rini tidak ada apa-apa, kalau Non Rini tidak percaya coba saja lihat,” kata bi Ijah.


Rini mencoba masuk kembali ke dalam kamar mandi itu benar saja di sana tidak ada apa-apa.


“Iya kan Non tidak ada apa-apa,” bi Ijah meyakinkan Rini kembali.


“I-iya Bi.”


“Iya Bi mungkin saja, ya sudahlah aku ingin beristirahat saja,” ucap Rini.


Rini pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Keesokan paginya Hendra yang mendapat telepon dari notaris yang mengurus hak waris harta Dina.


Ternyata dari pihak orang tua Dina yang mempermasalahkan hak waris kepemilikan perusahaan serta aset-aset Dina.


Pihak keluar tidak setuju jika semua jatuh ke tangan Hendra.


Mereka akan memberi semua harta Dina kepada Hendra jika Hendra tidak menikah lagi.


Hal ini membuat Hendra kesal dan kecewa keinginan untuk menikahi Rini gagal.  


Hendra menutup teleponnya dengan kesal.


‘Mereka berdua memang mempermainkanku,' gumam Hendra dengan kesal.


‘Jika tahu semua akan begini aku tidak akan mengurus anak mereka yang lumpuh itu, untung saja Dina sudah mati jadi tidak merepotkan aku lagi, aku harus cari cara bagaimana aku mendapatkan semua harta Dina,' gumam Hendra kembali.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 saatnya Hendra untuk pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor Hendra yang telah berada di ruangannya dihampiri oleh Rini.  


“Permisi Pak apa saya boleh masuk?” ucap Rini dibalik pintu ruangan Hendra.


“Ya Rin silakan masuk.”


Rini pun masuk ke ruangan Hendra lalu duduk berhadapan dengan Hendra.


“Ada apa sayang, tampaknya wajahmu sangat serius sekali, oh iya aku sangat berterima kasih kepadamu berkat kamu mengajak aku ke tempat dukun itu dan di berikan jimat ini, tadi malam aku dapat tidur dengan sangat nyenyaknya,” pungkas Hendra kepada Rini.


“Bagus jika begitu Mas, Mas ada yang aku ingin bicarakan penting sekali kepadamu?” ucap Rini.


“Bicarakan saja sayang, apa yang kamu mau?”


“Aku tidak mau apa-apa Mas, aku hanya ingin di nikahi oleh mu Mas, karena aku hamil.”


“Apa? Kamu hamil, tidak mungkin sayang aku selalu memberikanmu uang untuk pergi ke dokter memasang KB. Mengapa kamu bis hamil apa jangan-jangan itu bukan anakku!” 


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hendra.


“Jaga mulutmu Mas, aku tidak pernah melakukan dengan siapa pun selain dengan mu Mas!” ucap Rini dengan nada tinggi.


“Sebulan ini memang aku tidak pergi ke dokter karena aku sangat sibuk Mas, dan aku selalu melakukan itu hanya kepadamu Mas, kamu sudah janji akan menikahi ku, sekarang aku menagih janjimu Mas,” Rini yang kembali menjelaskan kepada Hendra.


“Aku tidak bisa menikahimu, gugurkan saja kandunganmu itu nanti akan aku beri kau uang untuk menggugurkan kandungan mu.”


“Kamu gila Mas, kamu tidak punya hati ini darah dagingmu tapi kau tega untuk membunuhnya.”


Hendra pun mulai menjelaskan kepada Rini syarat yang di berikan oleh keluarga Dina kepadanya.


“Mas, jika memang harta Dina tidak bisa kau miliki ya sudah tidak apa-apa aku tidak mempermasalahkan hidup sederhana dengan mu tidak apa-apa Mas.”


“Tidak dari pada aku kehilangan harta itu lebih baik aku kehilangan diri mu!” bentak Hendra.


“Kau gila, Mas aku salah telah mengenal dirimu. Jika aku tahu dari dulu hatimu sebusuk itu aku tidak akan mau menjadi selingkuhanmu Mas, sekarang aku benar-benar mengerti sifat busukmu itu Mas,”


“Sudah aku malas berdebat keluar dari ruanganku nanti akan aku transfer uang kepada mu gugurkan anak itu!” Hendra yang menegaskan kepada Rini.


Tanpa berbicara sepatah kata pun Rini keluar dari ruangan Hendra dengan meneteskan air.


Rini berjalan menuju ruangan sepi untuk melampiaskan kesedihannya.


Hal ini dimanfaatkan kuntilanak Darmo untuk mempengaruhi pikiran dari Rini.