
Sesampainya Hendra di parkiran kantor, Hendra keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan menuju ruangan kerjanya.
Hendra yang telah berada di ruang kerja mulai membuka laptopnya.
Tidak beberapa menit seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
“Permisi Pak, boleh saya masuk?” ucap Rini.
“Silakan masuk?”
Rini membuka pintu ruangan Hendra lalu segera masuk.
“Silakan duduk.”
“Terima kasih Mas,”
“Ada apa sayang?”
“Tidak aku hanya khawatir saja bagaimana keadaanmu lalu apa kata Dokter?”
“Tidak perlu mengkhawatirkan aku seperti itu sayang, aku tidak apa-apa Dokter sudah memberikan aku obat penenang.
“Bagus lah jika seperti itu, aku hanya khawatir pada dirimu Mas.”
“Iya sayang tidak perlu di khawatirkan aku baik-baik saja.”
“Ya sudah jika begitu Mas, aku ingin melanjutkan pekerjaanku kembali,” sahut Rini.
“Baiklah sayang.”
Rini pun berdiri berjalan menuju pintu keluar, namun saat Rini hendak keluar Hendra dengan spontan memanggilnya kembali.
“Sayang!” pekik Hendra.
Di saat itu Rini menoleh ke arah Hendra, namun yang Hendra lihat bukanlah wajah Rini melainkan wajah kuntilanak itu.
Sontak saja Hendra terkejut lalu berteriak-terika.
“Pergi! Pergi! Jangan bunuh saya!” pekik Hendra.
Rini yang melihat Hendra seperti semakin mendatangi Hendra.
Sontak saja Hendra semakin histeris saat Rini mendekati dirinya.
Di penglihatan Hendra Rini yang dia lihat bukan Rini melainkan sesosok kuntilanak yang sangat menyeramkan.
Dengan gelap mata Hendra mulai mencekik Rini.
“Mas, ini aku Mas Rini,” ucap Rini dengan lirih karena dirinya tidak dapat bernafas.
“Bukan kau kuntilanak itu, aku tidak ingin mati kau saja yang akan mati di tanganku,” ancam Hendra.
“Mas, sadar Mas, aku Rini” ucap Rini kembali meyakinkan Hendra.
Hendra tetap tidak ingin melepas cekikannya ia melihat Rini adalah sosok kuntilanak itu.
Namun nasib baik masih berpihak kepada Rini.
Toni yang secara kebetulan masuk ingin ke ruangan Hendra untuk menanyakan sesuatu kepada Hendra.
Toni saat itu berdiri di depan pintu ruangan kerja Hendra mengetuk pintu.
“Permisi pak Hendra apa saya boleh masuk?”
Namun karena tidak ada jawaban dari Hendra, Toni memutuskan untuk masuk ke ruangan kerja Hendra.
Saat Toni masuk alangkah terkejutnya Toni melihat Rini yang sedang di cekik Hendra.
Dengan sergap Toni berlari ke arah Hendra untuk menolong Rini.
“Pak Hendra! Pak Hendra sadar,” pekik Toni.
Namun Hendra tetap saja tidak melepas Rini, cekikannya pun semakin kencang. Toni yang sudah mulai panik karena melihat Rini kehabisan oksigen dengan gelap mata Toni memukul Hendra.
Pukulan Toni tepat mengenai wajah Hendra akibat pukulan Toni Hendra mulai tersadar.
“Rini, maafkan aku!” ucap Hendra yang tersadar melihat Rini bukan lagi kuntilanak itu.
“Pak Hendra kenapa ingin menyelakakan Bu Rini?” tanya Toni.
“Iya Pak, saya sudah memaafkan bapak, saya anggap kejadian ini hanya ke tidak sengajaan Bapak kepada saya. Saya permisi ingin kembali ke ruangan saya pak. Oh ya terima kasih pak Toni,” ucap Rini meninggalkan ruangan kerja Hendra.
Sementara Hendra mulai bercerita kepada Toni apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya.
***
Hari demi hari keadaan Hendra bukannya semakin membaik malah Hendra lebih sering dan kecanduan akan obat penenang.
Isu di kantor pun terdengar Rini asisten pribadi Hendra dan juga kekasih Hendra, Rini mendengar beberapa membicarakan sikap perilaku Hendra yang aneh seperti orang yang sedang ketakutan bahkan terkadang Hendra tidak segan berperilaku kasar ketika Hendra melihat orang tersebut sebagai kuntilanak.
Merasa tidak ingin Hendra jadi bahan bicara karyawan kantor Rini pun yang mengetahui itu menceritakan kepada Hendra.
Saat itu ketika Hendra hendak mengantar Rini pulang dengan mobilnya.
Mereka berdua sempat berbicara di dalam mobil.
“Mas?”
“Iya sayang ada apa?” tanya Hendra yang sedang mengendarai mobilnya.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan ini sangat penting!” sahut Rini dengan wajah yang sangat serius.
“Iya sayang ada apa?” tanya Hendra yang bingung.
“Sikapmu Mas, semakin hari semakin aneh, banyak karyawan kantor yang sedang membicarakanmu?” Rini menjelaskan kepada Hendra.
“Siapa orangnya coba kamu beri tahu sayang biar aku pecat sekarang juga,” Hendra yang kesal mendengar ucapan Rini.
“Bukan masalah siapa yang membicarakanmu Mas, tapi aku pun tidak ingin kamu kenapa-kenapa.”
“Aku sudah berusaha sayang, aku pun sering pergi ke Dokter untuk memeriksakan diriku namun semuanya hanya sia-sia, rasa takutku semakin hari semakin tidak bisa di ******!” ujar Hendra yang menjelaskan kepada Rini.
“Itu bukan masalah rasa takut Mas, siapa tahu kamu memang benar-benar di ganggu oleh hantu itu.”
“Sebenarnya aku tidak begitu percaya dengan hal seperti tentang hal yang berbau mistik sayang.”
“Percaya atau tidak percaya Mas, tapi mereka memang ada di sekitar kita.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Hendra.
“Begini saja besok lusa akan aku temani kamu ke paranormal Mas, paranormal itu terpercaya bisa melayapkan roh jahat yang mengganggu manusia Mas.”
“Dukun? Dari mana kau tahu tentang dukun sakiti?”
“Aku dulu pun pernah sepertimu Mas di ganggu arwah jahat Mbah Sarno yang membantu aku menghilangkannya,” ucap Rini yang berbohong kepada Hendra.
“Baiklah jika memang iya aku akan mengikuti saranmu sayang, di mana tempatnya.”
“Begini saja besok lusa kamu akan aku antar ke tempat mbah Sarno, bagaimana Mas apa kamu setuju?”
“Baiklah sayang, aku setuju.”
Saat mereka tengah asik berbincang tidak terasa Hendra telah sampai di depan halaman rumah Rini.
Hendra pun memarkirkan mobilnya di depan rumah Rini.
Rini pun turun dari mobil Hendra yang ia tumpangi.
“Kamu tidak mampir ke rumah Mas?” tanya Rini.
“Tidak sayang lain kali saja, hari ini aku sangat lelah ingin segera pulang dan beristirahat di rumah,” ucap Hendra.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan Mas.”
Hendra pun kembali menjalankan mobilnya pergi meninggalkan Rini kembali pulang ke rumahnya.
Sebenarnya Hendra tidak percaya dengan hal semacam ini, namun karena Hendra sudah bingung hal apa yang harus di perbuat kembali oleh dirinya dan teror kuntilanak itu semakin lama semakin mengganggunya sehingga Hendra ingin mencoba apa yang di katakan Rini kepadanya Hendra hanya bisa berharap semoga saja benar apa kata Rini dukun itu dapat membatunya untuk melenyapkan kuntilanak yang selama ini mengganggunya.
Sentara di sisi lain Rini bukan hanya pelakor yang handal Rini juga sering ke tempat paranormal untuk memasang susuk.
Rini yang selalu merasa tidak puas akan kecantikan dirinya meminta kepada mbah Sarno untuk memasangkan dirinya susuk agar Hendra seseorang yang ia incar sedari dulu dapat Rini miliki untuk selamanya.