
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam mereka bertiga telah sampai di rumah ki Selamet.
Iwan memarkirkan mobilnya di halaman rumah ki Selamet.
Mesin mobil di matikan oleh Iwan dan mereka berdua pun turun dari mobil.
Dina telah turun dari mobil melihat rumah yang tampak tua dengan warna cat tampak kusam serta di pelataran rumah ki Selamet sendiri banyak daun-daun kering berserakan yang tidak di bersihkan seperti rumah yang telah nama tidak di tempati.
Iwan yang telah berada di depan pintu ki Selamet pun mulai mengetuk pintu tersebut.
“Permisi Ki Selamat,” pekik Iwan sembari mengetok pintu rumah Ki Selamet.
Krek
Suara pintu yang terbuka.
Tiba-tiba pintu yang di ketuk Iwan terbuka dengan sendirinya.
“Wan mana ki Selamet nya kok pintunya terbuka dengan sendiri?” ujar Dina yang bertanya kepada Iwan.
“Sudahlah Bu, ayo kita masuk saja.
Dina beserta Iwan masuk ke dalam rumah KI Selamet saat mereka masuk.
Bruk
Suara pintu yang tertutup sendiri.
Dina beserta Iwan mulai panik ketika pintu rumah ki selamat tertutup dengan sendirinya mereka berdua pun mencoba membuka kembali pintu itu.
“Bu pintunya terkunci,” ujar Iwan kepada Dina.
“Lalu bagaimana kita pulang, rumah ini seperti di tinggalkan penghuninya bertahun-tahun Wan.”
“Ah masa sih Bu.”
Saat mereka berdua sedang mengobrol tiba-tiba ada seseorang kakek-kakek di belakang mereka.
“Mau apa kalian di rumahku?” ucap kakek itu.
Sontak saja Iwan beserta Dina pun terkejut.
“Ma-maaf Ki, tadi saya ketok pintu rumah Aki tiba-tiba ke buka jadi kami masuk, maaf kami berdua telah lancang Ki,” sahut Iwan dengan gugup karena merasa tidak nyaman.
“Mau apa kalian berdua datang ke sini?” tanya Ki Selamet kembali.
“A-anu Ki, bos saya mau minta bantuan kepada Ki Selamet.”
“Ayo masuk ke kamarku,” ajak Ki Selamet.
Mereka berdua mengikuti di belakang Ki Selamet ke kamar khusus ritual.
Seampainya di dalam kamar ritual Ki Selamet.
“Duduk!” perintah Ki Selamet.
“I-iya Ki,” sahut Iwan yang gugup.
“Siapa yang mau minta bantuanku?” tanya kembali ki Selamet.
“I-ini ki bos saya,” ucap Iwan
Iwan yang menunjuk Dina di sampingnya.
“Apa yang mau aku bantu!” ujar Ki Selamat dengan nada yang lantang?
“Begini Ki akhir-akhir ini sayang sering di ganggu oleh kuntilanak, tapi anehnya kenapa hanya saya saja Ki?” tanya Dina.
Ki Selamet mulai menutup matanya melihat secara batin apa yang terjadi kepada Dina.
“Karena Dendam di masa lalu?” ucap Ki Selamet.
“Dendam? Kepada saya Ki?” Dina yang belum paham ucapan ki Selamet.
“Bukan, tapi Suamimu keluarga kalian dalam bahaya!” ki Selamet yang memperingati.
“Ada apa sebenarnya Ki coba jelaskan saya kurang mengerti maksud Aki?” Dina yang bertanya kembali.
“Tanyakan sendiri kepada suamimu apa yang dia perbuat di masa lalunya? Aku tidak bisa menolong karena keburukan di masa lalu yang pernah di perbuat suamimu menjadikan karma buruk untuk keluargamu.”
“Saya mohon Ki Selamet bisa membantu saya, saya mohon Ki tolong selamatkan keluarga kecil saya.”
“Saya tidak membantu!” bentak Ki Selamet.
“Saya mohon bantu saya Ki, berapa pun Ki Selamet minta akan saya beri,” ujar Dina yang memohon.
“Uangmu tidak ada artinya ketika seseorang itu telah mati, aku tidak bisa membantu tapi aku dapat menghalau kuntilanak itu agar tidak mendekatimu.”
“Ambil garam ini taburkan di depan pintu kamarmu, kuntilanak itu tidak akan dapat masuk kamarmu untuk mengganggu,” Ki Selamet yang memberikan segenggam garam kasar ke Dina.
Dina menyambut segenggam garam kasar yang di berikan oleh Ki Selamat dengan ke dua tangannya.
“Terima kasih ki, oh iya ada hal lain yang saya ingin mengetahuinya Ki.”
Dina yang merogoh kantongnya mengambil kertas yang telah dia sobek di buku Sundari lalu memberikan kepada Ki Selamet.
“Ini Ki saya dapatkan kertas ini di kamar pembantu saya yang bernama bi Sun.”
Ki Selamet mengambil kertas yang ada di tangan Dina dan membacanya.
“Yen siro teko wenehene tondo” Ki Selamet yang membaca mantra di kertas itu.
Setelah membaca tulisan mantra itu Ki Selamet memberitahukan Dini.
“Ini mantra pemanggil,” ujar Ki Selamet.
“Pemanggil apa Ki?” tanya Dina yang penasaran.
“Kuntilanak,” Ucap ki Selamet dengan singkat.
Dina yang mendengar ucapan ki Selamat tersentak kaget. Dina tidak mengira ternya selama ini dugaannya benar bahwa Sundari adalah dalang dari semua ini dan kuntilanak yang selama ini mengganggunya adalah ulah Sundari.
“Jadi semua kejadian di balik itu bi Sun dalangnya, Baiklah aku akan memberi pelajaran untuknya,” ucap Dina yang sangat marah.
“Ha-ha-ha, kau tidak akan bisa melawannya Dina, terima saja karma buruk yang pernah suamimu lakukan,” celetuk Ki Selamet.
“Tidak ki aku harus memerinya pelajaran, kalau begitu saya pulang terlebih dahulu ini ada sedikit uang untuk aki,” ujar Dina yang memberikan amplop coklat yang berisikan uang kepada ki Selamet.
“Uang ini tidak berarti di alamku, sebaiknya kalian pulang saja tapi ingat setelah kalian keluar dari kamar ini jangan pernah menoleh ke belakang.”
“Memangnya kenapa Ki?” tanya Iwan yang penasaran.
“Sudah jangan banyak tanya ikuti saja perintahku!” bentak Ki Selamet.
Dina mulai bersiap-siap untuk pergi dari kamar ritual ki Selamet, garam kasar yang di berikan ki Selamet pun Dina Masukan ke dalam plastik barulah Dina simpan di dalam tasnya.
Setelah semua selesai Dina berpamitan kepada Ki Selamet.
“Ki saya pulang?” ujar Dina.
“Berhati-hatilah di jalan, dan ingat ketika kalian keluar dari kamar ini jangan pernah menoleh ke belakang,” ucap ki Selamet mengingatkan Dina kembali.
“Baik Ki,” ujar Dina
Dina beserta Iwan pun pergi mengikuti ucapan ki Selamet tidak menoleh ke belakang.
Sampai mereka berdua keluar dari kamar ritual tetap tidak melanggar ucapan ki Selamet.
Namun di saat sudah dekat pintu utama dan membuka pintu Dina dan Iwan yang sangat penasaran menoleh ke belakang alangkah terkejutnya mereka ternyata ada sosok hitam yang tinggi besar bermata merah bertandu dengan menyeringai ke arah mereka.
Dina beserta Iwan pun berlari menuju mobil mereka.
Saat sedang ingin masuk ke mobil dari arah belakang Iwan ada yang menepuk bahunya.
“Ampun, Ki saya tidak mau mati muda ampun Ki,” ucap Iwan sembari memejamkan mata.
“Kalian kenapa, seperti orang yang sedang ketakutan,” ujar seorang warga yang kebetulan melintas dan menepuk bahu Iwan.
“Habis ke rumah ki Selamet Pak,” celetuk Dina.
“Ki Selamet, apa kalian tidak salah?” sahut Bapak itu.
“Iya Pak, memangnya kenapa?” tanya Dina
“Ki Selamet sudah lama meninggal, bertahun-tahun rumah itu kosong dan banyak warga yang tidak berani lewat di rumah ki Selamat karena melihat sosok hitam yang menyeramkan,” warga desa itu menjelaskan kepada mereka berdua.
“Ah masa sih Pak, barusan saya ke rumah bertemu ki Selamet dan kami memang melihat makhluk menyeramkan mungkin itu penghuni rumahnya Pak,” pungkas Dina.
“Ya sudah kalau kalian tidak percaya, nanti di jalan pasti kalian akan menemukan makan tua yang besar serta banyak kain kuningnya petanda keramat,” ucap bapak itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Sontak saja Dina langsung terdiam, mengingat sebelum ke rumah ki Selamat Dina melihat di kiri jalan tadi ada sebuah makam tua beserta kain kuning yang menghiasi makam tersebut, Dina sempat melihat tulisan di batu nisan makam tua itu dengan samar-samar.
Batu nisan itu bertulisan nama Ki Selamat.
Bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih