
Jasad Dina dibawa ke rumah kembali, terdengar ngiungan sirine mobil ambulan membawa jasad Dina.
Isak tangis menyambut kehadiran jasad Dina yang di angkat oleh petugas medis ke dalam rumah, kesedihan mewarnai rumah Hendra para kerabat Dina dan juga Hendra pada hadir di rumahnya untuk ikut menemani Dina ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Setelah jasad Dina selesai di mandikan lalu di kafankan serta di sholatkan.
Hari sudah menjelang sore mereka semua telah bersiap ingin membawa Dina ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Dina di kuburkan di tempat pemakaman umum yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sesampainya di tempat pemakan Dina yang di antar oleh mobil ambulan di angkat memakai keranda oleh para kerabat Dina dan juga Hendra.
Pengantaran jasad Dina cukup dramatis karena Hendra tidak henti-hentinya menitikkan air mata serta tangis histeris pecah oleh ibunya Dina di saat melihat jasad Di masukkan ke dalam liang lahat.
Hendra pun tidak kuasa menahan air matanya, mata Hendra yang berkaca-kaca menyambut istri yang di cintainya ke tempat peristirahatan terakhirnya akhirnya tumpah tidak dapat ia bendung kembali mengalir ke pipi.
Sundari pun ikut hadir dalam proses pemakaman Dina.
Setengah jam telah berlalu pemakaman Dina pun telah usai semua orang pergi dari tempat itu tidak termasuk Hendra serta Sundari.
Hendra berada di samping kuburan Dina meraba setiap detail nisan di atas kuburan Dina.
“Maafkan aku sayang, aku bukan suami yang terbaik untukmu,” ujar Hendra yang merasa bersalah.
“Kini kamu pergi selamanya meninggalkan aku sendiri sayang, terima kasih sudah setia sampai hari ini kamu menemaniku, semoga kamu tenang di sana sayang,” ucap Hendra yang memeluk tanah kuburan Dina.
Sundari yang berada di belakang Hendra tersenyum bahagia melihat kesedihan Hendra.
‘Bagaimana Hendra, di tinggal orang yang kau cintai sakit bukan. Begitu pula dengan aku karna perbuatanmu nenekku pergi untuk selamanya. Permainan ini belum selesai Hendra aku ingin melihatmu menderita dan hancur,' batin Sundari.
Sundari yang berakting sedih di depan Hendra.
Sundari berusaha mendekati Hendra dari belakang.
“Sudah Tuan, kasihan nyonya jika Tuan tidak bisa melepas kepergian nyonya” ucap Sundari mencoba menenangkan hati Hendra.
“Iya Bi Sun, sekarang di rumah terasa sepi tidak ada kehadiran Dina kembali. Kenapa hidupku seperti ini Bi Sun kedua anakku meninggal di tambah lagi Dina yang menguatkan aku kini juga ikut pergi bersama mereka,” Sahut Hendra yang meratapi Hidupnya.
“Sudahlah Tuan, jangan terlalu meratapi kehidupan Tuan mungkin semua ada hikmahnya,” kata Sundari yang berpura-pura simpatik kepada Hendra.
Setelah Hendra mulai merasa tenang Hendra pun kembali pulang ke rumahnya bersama Sundari.
Sesampainya di rumah Sundari yang pergi ke dapur sementara Hendra yang pergi ke dalam kamarnya terlihat setiap kenangan di kamar itu tentang Hendra bersama Dina.
Hendra yang mendatangi meja kamarnya mengambil pigura foto dirinya bersama Dina.
‘Rumah kini terasa sepi tidak ada dirimu lagi sayang,' gumam Hendra meraba pigura foto tersebut.
‘Andai saja saat itu aku tidak mengangkat ponselku mungkin semua tidak ada berakhir seperti ini, sekarang di rumah yang besar ini aku hanya sendiri sayang,” gumam Hendra kembali.
Hendra meletakkan kembali pigura yang ia ambil ke meja.
***
Di malam harinya setelah selesai makan malam Hendra kembali ke kamarnya untuk mencoba menghilangkan kesedihan di hatinya.
Hari ini Hendra hanya mengambisikan waktunya di dalam kamar.
Hendra yang sedang berada di tempat tidurnya bersama ponselnya membuka foto-foto yang ada dirinya bersama sanga istri dan anak mereka.
Sesekali Hendra tersenyum mengingat kenangan bersama mereka, bola mata Hendra mulai terlihat berkaca-kaca mana kala dirinya mengingat dua orang yang Hendra cintai pergi meninggalkannya.
Saat tengah fokus memandangi layar ponselnya Hendra mendengar Suara Dina memanggilnya.
“Mas Hendra!”
Hendra yang mendengar suara seperti Dina yang memanggil pun tersentak kaget.
“Sayang,” sahut Hendra secara spontan.
Hendra mencoba mendengarkan suara Dina memanggilnya.
“Mas Hendra ke sini?” ucap suara mirip Dina dengan jelas.
“Dina kamu di mana sayang?” sahut Hendra.
Hendra mulai keluar dari kamarnya mencari asal suara tersebut berada.
“Ke sini Mas Hendra,” terdengar suara itu kembali.
Hendra mengikuti asal suara itu muncul sampai akhirnya Hendra menuju belang rumah di kolam renang tepat Dina meninggal.
“Mas Hendra,”
suara itu semakin jelas terdengar di kala Hendra mendatangi kolam renang.
Terlihat sosok Dina dari belakang di pinggir kolam yang menghadap ke arah kolam.
“Sayang!” pekik Hendra.
Hendra pun berlari menghampiri Dina, setelah itu memeluknya dari belakang.
Seakan merindukan Dina yang lama tidak Hendra jumpai.
“Aku sangat merindukanmu sayang,” ujar Hendra memeluk Dina dari belakang.
Namun Dina yang di peluk Hendra tidak berbicara satu patah kata pun.
“Sayang kau baik-baik saja. Kenapa hanya diam saja?” tanya Hendra.
“Aku akan membunuhmu Mas.”
“Sayang jangan bercanda itu tidak lucu.”
Sosok yang menyerupai Dina pun menoleh ke belakang.
Hendra yang tersentak kaget melihat sosok yang ia kira Dina ternyata bukan Dina, melainkan sosok kuntilanak yang menyerupai Dina.
Hendra yang terkejut pun melepas pelukaannya lalu menjauh dari sosok itu.
Namun kuntilanak itu berjalan sangat cepat sehingga mampu mengejar Hendra lalu mencekiknya.
Hendra dengan sekuat tenaga mencoba melepas cekikan kuntilanak itu nasib baik masih memihak kepada Hendra.
Hendra bisa melepas cekikan kuntilanak itu dan berlari ke dalam rumah.
Saat Hendra berada di dapur dirinya di buat kaget oleh sosok Sundari yang tiba-tiba muncul hadapannya.
“Bi Sun kamu mengagetkanku,” sahut Hendra dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Ada apa Tuan?” tanya Sundari yang pura-pura tidak tahu.
“Tidak apa-apa Bi, mungkin aku sangat merindukan Dina jadi membuat diriku tidak fokus,” pungkas Hendra.
“Kenapa Tuan belum tidur jam segini.”
“Tadi aku mendengar Dina memanggilku dan ternyata itu bukan Dina, mungkin rasa takutku membuat aku berkhayal yang tidak-tidak,” pungkas Hendra.
“Ya Sudah saya permisi ke kamar Tuan.”
“Iya Bi Sun silakan.”
Sundari pergi meninggalkan ke kamarnya sementara Hendra kembali pergi ke kamarnya untuk melanjutkan istirahatnya.
Hendra merasa jika istrinya itu masih berada di sampingnya berbaring sembari menghadap ke arahnya.
Bayangan semu dari istri tercintanya itu membuatnya semakin sedih dan hancur. Hendra meraba bantal yang biasa digunakan oleh Dina.
‘Rasanya kamu masih berada di sampingku saat ini sayang,' Hendra bermonolog.
Hendra beberapa kali menghela nafas sesaknya itu, sesak karena rasa sakit serta kesedihan yang teramat dalam.
Sudah jatuh tertimpa tangga, ini lah peribahasa yang menggambarkan situasi Hendra saat ini, sudah harus merelakan anak yang di kandung istrinya pergi tanpa bisa melihat paras mungilnya, kini Hendra juga harus merelakan pasangan hidupnya pergi untuk selamanya dengan cara yang dramatis pula.